Dagang Manusia, Bos PBR Dibui – Ambon Ekspres
Trending

Dagang Manusia, Bos PBR Dibui

AMBON, AE— Kasus PT Pusaka Benjina Resources atau PBR memasuki babak baru. Aparat kepolisian resmi menetapkan empat orang  jadi tersangka dan telah dijebloskan ke dalam ruang tahanan Polres Kepulauan Aru, setelah menemukan adanya dugaan perdagangan manusia. Satu diantara yang ditahan, adalah Site Manager PT PBR, HM.  Mereka pun terancam hukuman penjara maksimal 15 tahun.

Kepala Kepolisian Resor Kepulauan Aru, AKBP. Harold Huwae kepada Ambon Ekspres menjelaskan, setelah melalui penyelidikan intensif, pihaknya menemukan bukti-buki kuat tentang dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh para tersangka. “Mereka kita tetapkan sebagai tersangka pada tanggal 8 Mei. Dan langsung kita tahan pada tanggal 9 Mei,” ungkapnya, Minggu (10/5).

Harold Huwae merinci, mereka yang ditetapkan sebagai tersangka adalah HM ( Direktur PT PBR), M (staf Quality Control PT PBR), HP (Warga negara Thailand), BJ (Warga Negara Thailand). Para tersangka, lanjut Huwae disangka melanggar pasal 2, pasal 3, dan pasal 13 Undang-Undang Nomor 21 tahun 2007 tentang tindak pidana perdagangan manusia/orang dan pasal 55 ayat 1 ke-1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHAP).

“Ini bukan perbudakan, ya tapi HM, M, HP, dan BJ diduga melakukan tindak pidana perdagangan orang. Sehingga, berdasarkan pasal-pasal tersebut, mereka terancam hukuman penjara 3 sampai 15 tahun,” ungkapnya.

Dijelaskan, empat tersangka terlibat kerja sama untuk mendatangkan tenaga kerja dari luar negeri, yakni dari Myanmar untuk bekerja di PT PBR. Namun, tindakan mereka mengarah pada tindakan perdagangan orang, karena ditemukan sejumlah pelanggaran.

“Diantaranya, dokumen dipalsukan, terus dibawa masuk ke Indonesia, yaitu ke PT PBR. Yang didatangkan adalah warga negara Myanmar, tapi di dokumen warga negara Thailand. Dan pemberian gaji tidak sesuai dengan yang dijanjikan,” katanya.

PBR sebagai pihak yang membutuhkan tenaga kerja, menjalin kerja sama dengaan dua tersangka yang merupakan warga negara Thailand, yaitu HP dan BJ. Tersangka HP dan BJ yang memasok tenaga kerja dari luar negeri menggunakan kapal Antasena 141 dan Antasena 311 untuk diserahkan kepada pihak PBR.

HP dan BJ diduga menerima imbalan tertentu dari pihak PBR yang menguatkan dugaan, mereka melakukan tindak pidana perdagangan orang dengan modus pemberian kerja.

“Yang bawa mereka (para korban) ke Indonesia kan dua tersangka yang merupakan warga negara Thailand itu. Bahkan, selama mereka (korban) bekerja, ada diantaranya yang disekap di ruang isolasi, karena dinilai malas bekerja. Itu bagi merkaa yang kerja di kapal,” tandas Kapolres.

Ditanya tentang bentuk pelanggaran lain selain tindak pidana perdagangan orang, Harold Huwae mengakui, dari hasil penyelidikan hingga saat ini, pihaknya tidak menemukan bentuk pelanggaran lain. “Hanya TPPO (Tindak Pidana Perdangan Orang ),” katanya.

Sementara menyoal kemungkinan adanya tersangka lain dalam kasus dugaan tindak pidana perdagangan orang tersebut, Harold Huwae mengatakan kemungkinan itu tetap ada. Namun, untuk sementara, pihaknya masih fokus untuk memeriksa empat tersangka. “Kita masih terus melakukan pemeriksaan. Jadi, bisa saja ada penambahan tersangka. Karena kasus ini masih terus kita dalami,” tuntasnya.

Terpisah, menurut pengamat hukum Universitas Darussalam (Unidar) Ambon, Almudatsir Sangadji, polisi harus melihat kasus ini secara luas. Jangan hanya meneyelidiki dugaan tindak pidana perdagangan orang, tapi tidak tertutup kemungkinan, pihak PBR sebagai pengguna jasa tenaga kerja terlibat tindak pidana lain.
Indikasi ini dapat dilihat dari hasil temuan-temuan awal yang mencuat tentang dugaan tindakan kekerasan terhadap para Anak Buah Kapal (ABK) asal Myanmar yang bekerja di PT PBR.

“ Sementara untuk tindak pidana perdagangan orang itu, memang harus diperdalam lagi untuk mengungkap keterlibatan pihak lain dalam kasus ini. Sebab, mendatangkan orang dari luar negeri ke Indonesia, apalagi dokumennya dipalsukan, itu bukan kerja enteng. Jadi bisa saja, ada orang-orang dalam jaringan besar yang mengatur hal ini,” katanya.
(MAN)

Most Popular

To Top