Tingkatkan Minat Baca Butuh Waktu dan Anggaran – Ambon Ekspres
Pendidikan

Tingkatkan Minat Baca Butuh Waktu dan Anggaran

Malawat: Fasilitas dan Materi Bacaan Harus Ditambah

Meningkatkan minat baca di tengah masyarakat, bukan perkara mudah. Membutuhkan waktu dan proses serta kretivitas dan anggaran. Hal tersebut disampaikan Ketua Jurusan Jurnalistik Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon, Mahdi Malawat, Senin (11/5).

Menurut dia, meingkatkan minat baca ditengah masyarakat sama halnya dengan membentuk budaya baru, sehingga merubah beberapa kebiasaan masyarakat. “Itu membutuhkan proses yang tidak cepat, sehingga membutuhkan waktu,” katanya.

Demikian juga, untuk mewujudkan kebiasaan tersebut diperlukan kreativitas, seperti lomba yang bisa menciptakan minat baca, misalnya lomba menulis dan bertutur.
Atau, tambahnya, bagi seorang guru atau dosen dilakukan dengan cara memperbanyak penugasan kepada siswa dan mahasiswa. Otomatis hal tersebut membuat mereka akan membaca.

“Lewat lomba bertutur dan menulis itu, anak-anak akan terbiasa untuk membaca. Karena untuk dapat bertutur dan menulis, seseorang perlu memiliki refrensi. Referensi didapat dengan membaca. Jadi mereka harus membaca untuk ikut lomba ini,” terang Malawat.

Selain itu, lanjutnya, penambahan fasilitas membaca dan  materi bacaan juga sangat penting. “Untuk bisa menyelenggarakan lomba serta menambah fasilitas dan materi bacaan membutuhkan anggaran yang tidak sedikit,” ujarnya.

Khusus untuk penambahan fasilitas baca, katanya, sangat penting dilakukan. Karena pada beberapa daerah di Maluku, fasilitas baca masih sangat minim, bahkan hampir tidak ada.

Keberadaan fasilitas baca di tengah masyarakat sangat penting untuk mendukung tumbuhnya minat baca. “Harus ada tempat-tempat baca dilingkungan. Ini penting diadakan untuk membudahkan masyarakat mengakses materi bahan bacaan. Bagaimana mau membaca kalau tidak ada fasilitas baca,” ujarnya.

Selain itu, bahan bacaan yang terdapat pada fasilitas baca masih sangat terbatas, kadang materi bacaanya sudah ketinggalan. Misalnya, pada perpustakaan sekolah. Isinya lebih banyak buku pelajaran, buku umum sangat sedikit. Bagaimana siswa mau ke perpustakaan kalau bahan bacaanya sangat terbatas, belum lagi materinya yang sudah ketinggalan.

“Hal ini sering terjadi ditingkat mahasiswa. Dosen memberi penugasan, saat keperpustakaan materi yang dicari tidak ada bukunya. Kalau pun adanya edisinya sudah ketinggalan, sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan saat ini,” tandasnya. (ADI)

Most Popular

To Top