Mengenal Arsitektur Daerah Maluku – Ambon Ekspres
Pesona Manise

Mengenal Arsitektur Daerah Maluku

ARSITEKTUR tradisional pada umumnya merupakan bentuk kearifan lokal suatu komunitas dalam mempertahankan dan melanjutkan kehidupannya.

Menurut Mezak Wakim, salah satu peneliti  Balai  Pelestarian dan Nilai Budaya (BPNB) Ambon,di Maluku banyak terdapat jenis dan bentuk rumah tradisional yang sangat perlu diketahui. Namun,  referensi rumah di Maluku dan Maluku Utara tidak banyak diinventarisasi.

Pada  setiap  kampung  di  TNS  (Teon  Nila  Serua),  ada  sebuah rumah adat yang disebut Lakpona atau Nanatra. Lakpona adalah sebuah   bangunan   yang   dibuat   memanjang,   beratap   daun kelapa  atau  enau  dan  tak  berdinding.  Sepanjang Lakpona ini dibuat  meja  panjang  dari  bambu  dengan  tempat  duduk  yang juga terbuat dari bambu (utuh). Lakpona merupakan tempat dimana semua acara adat dilakukan, baik adat kampung maupun adat   klen.

Sementara di  Babar, Lakpona adalah   tempat   pertemuan masyarakat dan tempat pelantikan Raja dan berada di tengah-tengah  kampung  atau  di  depan  rumah  Raja.  Fungsi  Lakpona juga biasanya dilakukan makan bersama dan prosesi adat.

Ada arsitektur  tradisonal  masyarakat  Kei dikenal  dengan  nama Rumahaian Sidhun. Dalam tradisi setempat menyebutkan bahwa, rumah diartikan    sebagai    tempat    persinggahan    bagi masyarakat.  Rumah  merupakan  bagian  terpenting  dari  siklus hidup   manusia. Konsep   dan   gaya   bangunan   arsitektur   Kei berbentuk  rumah  panggung  yang  terbuat  dari  berbagai  hasil ramuan  kayu  yang  dilakukan  masyarakat.

Tradisi  setempat juga  menyebutkan  bahwa , dalam  membangun  sebuah  rumah perlu sangat dilakukan upacara adat yang dilakukan oleh para petua   adat.  Bila   ditinjau   dari   aspek   tata ruang,  bangunan arsitektur Rumahaian  Sidhun memiliki  berbagai  fungsi  dan makna  tersendiri  bagi  masyarakat  Kei.
Dalam  berarsitektur, masyarakat  Kei  selalu  memanfaatkan  ruang  tertentu  untuk pertemuan para pemuka adat yang ada di desa.

Ada pula, Sasadu,Rumah Adat Jailolo, Maluku Utara.Kata  Sadu dalam  bahasa  Sahu  tidak  mampunyai  arti. Dalam   bahasa   Ternate Sadu berarti   menimba,   dan Sado: lengkap,    genap    bilangannya.    Istilah    lain    untuk    rumah musyawarah  di  Sahu  adalah Kagunga,  yang  berarti  rumah dengan empat pintu. Istilah tersebut dipakai untuk menekankan oposisi  kosmologi  antara Kagunga  Tego-Tego.

Yang  dimaksud  disini  adalah  perahu  dan Kagunga  Tego-Tego atau  perahu  yang tidak mengapung yang adalah Sasadu itu sendiri. Kata lain yang sama  adalah Batangan,  yang  sebenarnya  adalah  bangunan yang    terdapat  dibawah  atap.  Dalam  hal  Sasadu,  istilah  Sabua dalam  bahasa  Melayu  Maluku  bisa  berarti  atap  yang  ada  pada perahu-perahu  tradisional  di  sana,  atau  atap  rumah  adat    di desa  ( Marsadi 1980 :386).

Di Maluku Tengah, ada Baileo. Dalam Bahasa Indonesia memiliki arti Balai. Pengambilan nama  Baileo  menjadi  nama  rumah  adat  Baileo  berdasarkan pada  fungsi  tempat  rumah  Baileo  itu  sendiri  sebagai  tempat untuk  bermusyawarah  bagi  masyarakat  adat  atau  kelompok-kelompok  setempat. Ada beberapa simbol yang memberikan ciri bahwa itu adalah rumah adat  Balieo.  Pertama,  Batu  Pamali.

Pada  rumah  adat  Baileo posisi  batu  pamali  berada  di  depan  pintu  tepat dimuka  pintu rumah   Balieo.  Keberadaan   Batu   Pamali   di   muka   pintu menunjukan  bahwa  rumah  itu  adalah  balai  adat.  Batu  Pamalai adalah tempat untuk menyimpan sesaji. Selain itu, balai adat ini merupakan   bangunan   induk   anjungan.

Tiang-tiang   yang menyangga  rumah berjumlah  sembilan  yang  berada  di  bagian depan  dan  belakang  juga  lima  tiang  di  sisi  kanan  dan  kiri merupakan  lambang  Siwa  Lima.  Siwa  Lima  adalah  symbol persekutuan  desa-desa  di  Maluku  dari  kelompok  Siwa  dan Kelompok Lima. Siwa Lima memiliki arti kita semua punya.

Natara atau Romer di Ohirata Kisar. Orang  Meher  di  Kepulauan  Kisar  menyebut  rumah  dengan sebutan Romer.  Sedangkan  Orang  Oirata  juga  menyebutnya Natara. Bentuk rumah tradisional yaitu rumah di atas tanah. Hal ini  berbeda  dengan  bentuk  rumah  di  Pulau  Seram  yang  pada umumnya adalah rumah panggung (dibuat salah satunya  untuk menghindari  ancaman  dari  binatang  buas).

Areal hutan di Pulau Kisar ditumbuhi oleh padang savanna yang luas, sehingga ancaman karena binatang buas tidak ada.Rumah mereka terbuat dari kayu-kayu berkualitas, diambil dari petuanan  mereka  tidak  begitu  jauh  dari  lokasi  rumah.   Jenis kayu yang dipakai yaitu kayu pohon koli untuk tiang dan balok dan  kayu kasumbi(Ohapi) atau mahoni(Aukala) untuk bagian atas rumah. Untuk dinding papan jenis  kayu yang dipakai kayu lengua, atau  kayu  kenari.

Kayu-kayu  ini  didapat  dari  Pulau Wetar,  Saumlaki,  Roma,  atau  Larat.   Biasanya  sudah siap dipakai.  Jenis kayu dari  pohon koli yang  dipakai untuk ramuan rumah  adalah  yang  pohonnya  sudah  tua  dan  berwarna  hitam sehingga bisa tahan lama sampai  ratusan tahun bahkan lebih, dan juga  jenis kayu ini sangat tahan terhadap cuaca hujan.

Terbukti,  rumah  tradisional  yang  menggunakan  kayu-kayu  hingga  kini  masih  tegak  berdiri  walaupun  usianya  sudah  tua. Yang  diganti  hanyalah  bagian  atap  rumah. Kayu  koli    banyak dijumpai  di  Pulau  Kisar  dan  pulau-pulau  di  sekitarnya , karena jenis   pohon   ini   tumbuh   secara   ekstradik   dan   tidak   di budidayakan.
Im (Rumah Adat Masyarakat Masela). Sejarah Im (rumah   adat)   masyarakat   di   Pulau   Masela Kabupaten Maluku Barat  Daya sebenarnya telah ada  semenjak masyarakat  mendiami  Pulau  Masela.

Konsep Im dengan  gaya bangunan   berbentuk   rumah   panggung , sebetulnya   sama dengan Baileo atau rumah adat Masyarakat di Maluku Tengah.Namun  dari  aspek  pemanfaatanya  yang  membedakan.  Gaya bangunannya  memang  didesain  untuk  mengindari  serangan binatang  buas  seperti  babi  hutan  yang  selalu  menganggu kehidupan   masyarakat. Dalam tradisi   masyarakat Im mencerminkan system pranata social yang mengatur hubungan antar  individu  berdasarkan  perkawinan  (affinal)maupun geonologis (darah). (HIR)

Most Popular

To Top