Tim MK: Vanath tak Ada Pengaruh – Ambon Ekspres
Trending

Tim MK: Vanath tak Ada Pengaruh

AMBON, AE— Rencana masuknya Abdullah Vanath dalam struktur tim pemenangan pasangan Sitti Umuriah Suruwaky-Safrudin Goo, tidak akan mempengaruhi basis massa Abdul Mukti Keliobas- Fachri Husni Alkatiri dalam Pemilukada kabupaten SBT Desember mendatang. Mereka bahkan yakin menang.

Optimisme kemenangan  ini didasarkan pada  hasil survey SDI dan MSS beberapa waktu lalu yang menempatkan Abdul  Mukti Keliobas sebagai figur yang punya elektabilitas tinggi dan dinilai mampu untuk memimpin daerah itu.

“Kalau kita bicara klaim kemenangan, itu wajar,  semua  tim bisa bicara. Tapi harus didukung oleh data yang ilmiah. Karena itu, yang kami gunakan  sebagai indikator  bahwa pasangan Mukti-Fachri berpeluang menang adalah hasil survey,’’ ungkap salah satu orang dekat Mukti Keliobas, Samad Rumalean, Selasa (12/5).

Dijelaskan, hasil survey  Sinergi Data Indonesia (SDI) pada Agustus 2014, jelas menempatkan Mukti Keliobas unggul di hampir semua kecamatan dalam hal elektabilitas dan indikator kemampuan dalam memimpin dengan persentase di atas 40 persen.  Hasil itu, tidak jauh berbeda dengan hasil survey yang dilakukan oleh  Media Survei dan Strategi (MSS), pada Maret 2015.

BACA JUGA:  Surat Pembatalan SK Vanath Sudah Ada?

Dikatakan, September nanti masa jabatan Abdullah Vanath  dan Sitti Suruwaky sebagai bupati dan wakil bupati kabupaten SBT akan berkahir. Sehingga, terkait pemanfaatan infrastruktur birokrasi pemerintahan untuk kepentingan kandidat lain dalam Pilkada, tidak bisa saja terjadi lagi. Setelah itu, birokrasi di sana akan dikendalikan oleh penjabat bupati yang diturunkan oleh gubernur Maluku, Said Assagaff.

‘’Masa jabatan  Sitti Suruwaky, kan berakhir pada 2 Juli, saat pendaftaran di KPUD, karena itu adalah amanat undang-undang Pilkada. Sementara Abdullah Vanath turun jabatan bulan September, yakni  tiga  bulan  sebelum Pilkada dihelat. Dalam rentang waktu tiga bulan itu, birokrasi pemerintahan kabupaten  SBT akan dikendalikan oleh penjabat bupati yang diturunkan oleh Gubernur Maluku untuk menjabat dari September hingga Desember 2015,” ungkapnya. .

Dengan begitu, akan menutup peluang bagi kandidat mana pun untuk menggunakan birokrasi pemerintahan sebagai instrument kekuatan politik. Sehingga, kekhawatiran adanya politisasi birokrasi oleh kandidat tertentu akan berkurang.

Sementara, M Jafar Tukwain, salah satu pendukung MK-Fachri ini menegaskan,  bila pun   Abdullah Vanath akan mendukung kandidat tertentu, itu tidak akan berpengaruh banyak bagi kandidat lain. Karena,  selain masa jabatannya akan berakhir, kesempatan untuk menjadikan birokrasi sebagai mesin politik berakhir, juga karena berdasarkan hasil survey MSS menunjukkan, hanya 28 persen masyarakat dari semua kecamatan yang menyatakan mendukung kandidat yang didukung Abdullah Vanath.

BACA JUGA:  2 Tersangka Baru Pendamping Vanath

“Kita tidak bicara basis di kecamatan tertentu, tapi  bicara secara umum, di hampir semua kecamatan, MK-Fachri unggul di atas 40 persen. Ini baru survey, belum lagi  bila tim akan bekerja full, maka tentu prosentase itu bisa meningkat. Itu berarti, peluang MK-Fahri semakin besar,”ungkapnya, optimis sembari memperlihatkan data hasil survey MSS.

Tiga kali menjadi wakil rakyat di parlemen kabupaten SBT, satu kali menjadi kandidat calon bupati di daerah berjuluk Ita Wotu Nusa itu membuat  MK cukup dikenal oleh masyarakat di semua kecamatan. Apalagi, dia juga dikenal sebagai sosok yang santun dan dekat dengan masyarakat.

“Kita lihat ke belakang. Saat Pilkada 2010.  Saat itu, pasangan Abdullah Vanath-Sitti Suruwaky adalah kandidat incumbent dengan kekuatan besar karena memang kuasai birokrasi, tapi mereka hanya unggul dua ribu suara lebih diatas kandidat Mukti Keliobas- Jusuf Rumatoras. Apalagi Pilkada 2015 ini mereka tidak lagi menjabat sebagai bupati dan wakil bupati,” tandas Tukwain.

BACA JUGA:  Vanath Masih Bebas

Pengamat politik Universitas Darussalam (Unidar) Ambon, Muhammad Alfa Sikar mengemukakan,  peluang terjadinya pemanfaatan infrastruktur  birokrasi pemerintahan setempat sangat mungkin terjadi meski Abdullah Vanath dan Sitti tidak lagi menjabat sebagai bupati dan wakil bupati.

Dijelaskan, para pejabat dilingkup Pemerintah kabupaten SBT  tentu masih punya ikatan emosional, baik secara struktur birokrasi pemerintahan maupun politik dengan Abdullah Vanath. Sebab, mereka diangkat oleh  Abdullah Vanath.

“Untuk menjaga agar birokrasi tidak disusupi kepentingan politik, ya kembali kepada sejauhmana ketegasan dan profesionalisme penjabat bupati nanti. Dia harus mampu tampil sebagai kekuatan baru yang hadir untuk menetralisir birokrasi di sana dari kepentingan politik pihak tertentu,” ujarnya. (MAN)

Most Popular

To Top