Kisah Memilukan Korban Human Trafficking yang Berhasil Melarikan Diri – Ambon Ekspres
Trending

Kisah Memilukan Korban Human Trafficking yang Berhasil Melarikan Diri

Kasus perdagangan orang atau human trafficking masih terus terjadi di Bogor. Kali ini menimpa puluhan gadis asal Nusa Tenggara Timur (NTT). Usia mereka antara 14 tahun – 25 tahun. Modusnya berupa perusahaan penyalur jasa pekerja pembantu rumah tangga (PRT).

Vina, 23, tampak canggung dan gugup saat ditemui wartawan koran ini, pekan lalu. Perempuan ini berperawakan sedang dengan kulit gelap. Meski sudah berada di safe house atau rumah persembunyian, Vina mengaku masih takut menceritakan kisahnya. Perlu waktu yang lama untuk membuat Vina mau berbicara kendati obrolan ringan sudah dibuka hampir sejam.

Bibir Vina yang tampak kering akhirnya mau bertutur. Itu setelah ditanya soal kabar orang tuanya. Vina mengaku berhasil kabur dari perusahaan penyalur pembantu rumah tangga pada medio 2014 lalu. Perusahaan itu berlabel yayasan tenaga kerja bernama CE yang berlokasi di Kampung Bolang RT 02/05, Desa Tajur, Kecamatan Citeureup Kabupaten Bogor.

Sementara Vina berasal dari sebuah desa kecil di NTT yaitu Desa Navan, Kota Kefamenanu. Anak semata wayang, pasangan Sofa dan Antonius ini awalnya tak pernah bermimpi apalagi berniat bekerja di Bogor.

Kala itu, dua tahun yang lalu, dia gagal berangkat ke Malaysia untuk menjadi tenaga kerja Indonesia. Itu karena terjadi misskomunikasi dengan agen penyalur. Berhubung dia sudah berada di Bandara El Tari Kupang NTT, Vina malu untuk pulang ke kampung.

Sejurus kemudian, ditengah kebingungan Vina, dia berkenalan dengan seorang perempuan setengah baya. Si ibu ini berasal dari Bogor dan dia memang mencari tenaga kerja. Klop. Perempuan yang belakangan diketahui bernama MS atau akrab disapa Ros itu merupakan pimpinan penyalur jasa tenaga kerja PT CE.

“Waktu tidak jadi terbang ke Malaysia. Saya di sambungkan dengan ibu Ros, dan kami ngobrol pekerjaan,” ujarnya kepada Radar Bogor (JPNN Group). Obrolan antara Vina dan Ros hanya berlangsung singkat. Kira-kira tak sampai sejam. Tapi Ros berhasil meyakinkan Vina lewat iming-iming gaji yang tinggi dan fasilitas mumpuni. Keduanya pun akhirnya menemui kata “Sepakat”.

“Setelah sepakat, saya langsung dibelikan tiket, kemudian terbang ke Jakarta, untuk ke Bogor. Tiketnya dari bu Ros,” tukasnya.
Usai mendarat di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Vina dijemput dengan mobil merah milik Ros. “Itu mobil punya ibu (ros,red) yang dulu, sekarang mobilnya sudah ganti lagi,” ucapnya.

Berbekal keyakinan dan niat ingin mengurangi beban orang tua di kampung, Vina pun rela bekerja di Bumi Tegar Beriman, sebutan Bogor. Kejanggalan mulai muncul ketika mobil melaju ke arah Citeureup.

Rupanya Vina tak dibawa ke rumah Ros. Dia justru dititipkan kepada anaknya bernama David di wilayah Pasir Angin, Desa Tajur, Citeureup. Rumah David memiliki dua lantai, empat kamar tidur dan dua kamar mandi. Vina sempat tertegun setelah melihat puluhan gadis serumpun terlebih dahulu hadir di kediaman tersebut.

“Ada lebih dari 20 orang yang tinggal, semua orang NTT. Kami hanya berbeda kampung saja,” ungkapnya. Di sinilah cerita pilu Vina dimulai. Selama dua bulan tinggal di rumah David, dia bekerja berat. Nyaris tak ada waktu kerja yang pasti. Sebab Vina bersama penghuni lainnya harus bekerja dari pagi hingga bertemu pagi lagi.

“Tergantung kadang kalau anaknya (David,red) dari gereja atau arisan keluarga datang pukul 01.00 atau 03.00 pagi kami sudah harus bangun,” tuturnya.

Jika dia dan rekan-rekannya tidak menjalankan perintah, mereka akan diberikan hukuman.
Pernah suatu waktu dia dengan temannya lalai dalam merapikan rumah. Saat itu juga David menghukum keduanya dengan cara mengurung mereka di dalam ruangan.

“David kurung saya dan teman saya. Sampai kami kehausan dan kelaparan. Saat kami minta air, pak David tidak memberikannya. Kami mau keluar tidak bisa. Semua terkunci rapat. Setelah beberapa jam baru kami diberi air sambil dimarahi dan dicaci maki,” kenangnya sambil tersedu.

Siksaan tak cukup disitu. Vina mengaku pernah dicekik dan dipukul oleh seorang asisten Ros bernama Marjo. “Kami dikurung tanpa tahu alasan. Saat  kami mau keluar tidak bisa. Minta kunci mau mandi tidak boleh. Karena saya lapar, saya pun diam-diam keluar dari celah pintu dengan lobang kecil pas dengan tubuh saya. Marjo dan ibu tahu, langsung mencekik saya, dan memukul dengan kayu” jelasnya.

Marjo merupakan tangan kanan Ros. Kabarnya kini dia sudah menjadi aparat di Kupang. Jika Vina dikurung dan dipukul, beberapa penghuni lainnya mengaku pernah digauli. “Karena ini tempat penyaluran pembantu, sesekali kami disuruh balik. Ada teman saya yang dipacari keponakannya kemudian digauli,” cetusnya.

Vina sempat bungah ketika mengetahui dirinya bakal mendapat job. Itu ketika memasuki bulan ke dua dia di rumah David. Vina kemudian dikirim bekerja di wilayah Bekasi sebagai pembantu rumah tangga.

Selama delapan bulan bekerja, Vina sempat merasakan ketenangan. Lantaran makan dari majikannya di Bekasi terbilang sangat cukup. Tapi kemalangan masih menaungi gadis asal Timur ini. Meski nyaman bekerja, Vina ternyata tak diberi gaji.

“Kata majikan saya, uang sudah dikirim ke David. Dia khawatir uangnya hilang jika saya yang terima,”akunya.
Setelah hampir setahun bekerja, kontrak Vina berakhir dan majikannya tidak memperpanjang kontrak. Dia kemudian dikirim kembali ke ‘neraka’ di Desa Tajur.

Ya, dia kembali bersua dengan Ros dan anaknya David. Vina sempat mencoba menuntut haknya yaitu gaji selama bekerja di Bekasi. Bukan uang yang dia dapat, malah cercaan dan makian yang menghujam wajahnya.

Menurut Ros, dia tidak mendapat bayaran karena seluruh kebutuhannya mulai dari keberangkatan  ke lokasi kerja, pakaian, biaya makan dan sewa kamar, dianggap utang. “Semua gaji saya tidak diberikan saat saya butuh. Katanya mau dibuat modal usaha. Ternyata saat usahanya berjalan, tidak sepeser pun uang yang saya terima,” imbuhnya.

Vina kemudian memantapkan diri untuk kabur dari penguasaan Ros. Terlebih saat dia tak sengaja melihat pesan singkat di HP David yang kebetulan tertinggal. “Jadi ada SMS antara Ros dan anaknya yang isinya kira-kira “Rp 4 juta (gaji Vina, red) siap ditransfer. Kalau orangnya susah diatur di kurung saja jangan kasih makan” begitu kira-kira,” terangnya.

Selang beberapa bulan paska putus kontrak, David menyuruh Vina bekerja di Medan. Namun Vina menolak, penolakan itu membuat David dan Ros marah. Vina pun langsung diusir. Dia meninggalkan rumah hanya dengan membawa pakaian di badan dan perhiasan yang disimpannya sejak lama.

“Saya keluar dari rumah dan meminta baju saya. Katanya baju saya ada di Polisi. Akhirnya saya jual anting, cincin dan kalung untuk biaya hidup. Seorang warga yang baik hati mau menawarkan saya untuk menginap dan tinggal di rumahnya sementara waktu,” jelasnya sembari terus terisak.

Setelah dua malam tinggal di rumah warga, tiba-tiba David dengan Ros menemukannya lagi. Selasar mereka langsung memaksanya pulang dengan memberikannya tiket pesawat. Pengawalan pun dilakukan oleh pesuruh Ros. Dari Bogor Vina sudah diarahkan berangkat dengan suruhan Ros dan nanti setelah tiba di  NTT akan dijemput oleh orangnya  Ros.

“Saya takut dikelabui lagi. Dari NTT sudah ada yang tunggu. Makanya saya kabur saat di Bandara Soekarno Hatta,” tegasnya.  Apakah Vina mau melaporkan masalah ini ke kepolisian? Vina mengaku tak berani. ”Tak berani,” sambungnya.

Saat dikonfimasi, Ros membantah melakukan semua cerita Vina. Ros mengklaim justru dirinyalah yang memberikan pekerjaan kepada Vina dan rekan-rekannya. Bahkan sebelum mereka bekerja untuknya, dia sudah menjelaskan bahwa pekerjaan yang dimaksud adalah sebagai pembantu rumah tangga.

“Niat saya hanya ingin membantu. Saat saya tawarkan bekerja, kata mereka siap bekerja apapun. Mereka sendiri yang mau,” singkatnya. (Jpnn)

Most Popular

To Top