Peninggalan Sejarah di Desa Tifu – Ambon Ekspres
Pesona Manise

Peninggalan Sejarah di Desa Tifu

DESA Tifu,Kabupaten Buru Selatan (Bursel)  menyimpan banyak keindahan. Begitu juga dengan peninggalan sejarah. Misalnya, Gereja Tua  yang dibangun sekitar tahun 1884 oleh tuan Hendrick. Ia merupakan seorang misisonaris dari Belanda.

Pada zaman dulu, para misionaris ini pertama kali mendarat di bumi Bupolo yaitu di Desa Mepa untuk tujuan pekabaran injil. Akan tetapi, masyarakat di Desa Mepa menolak mereka karena menyangka mereka ada jin karena berkulit putih.

Kemudian mereka melanjutkan  perjalanan ke Desa Tifu dan masyarakat Desa Tifu menerima mereka. Kemudian pada tahun 1885, terjadi baptisan pertama pada keluarga dari Tuan Hendrik. Baptisan kedua terjadi pada keluarga Behuku.
Bangunan Gereja Tua ini masih utuh dan belum direnovasi. Bahkan alat-alat musiknya juga masih ada dan juga mimbarnya.

Desa Tifu dulunya merupakan pusat kecamatan yang pertama kali. Tapi kemudian dipindahkan ke Leksula dengan alasan Desa Tifu kurang strategi. Pada saat pemindahan tersebut juga sekaligus dengan bangunnya diangkat lansung dari Desa Tifu yang sekarang dapat dilihat di Lekusula tepatnya di rumah Camat.

Sejak dahulu, sebelum lahirnya Kota Leksula sebagai pelabuhan ibukota dari 54 desa di Kecamatan Buru Selatan, maka Desa Tifu dipilih oleh penjajah Belanda sebagai pelabuhan dan ibukota Onderafdeling.

Walaupun Desa Tifu telah dilupakan oleh beberapa generasi sebagai ibukota dan kota pelabuhan yang pertama, namun Tifu hingga saat ini masih meninggalkan sebuah kenangan cerita yang sampai sekarang ini masih menjadi buah bibir penduduk sekitarnya.

Di sebelah utara Desa Tifu, terletak sebuah gunung yang tidak begitu tinggi. Gunung itu bernama “Gunung Garuda” yang bilamana dipandang dari arah pelabuhan, warna gunung itu nampaknya kemerah-merahan.
Pada gunung itu terdapat dua liang batu yang letaknya agak berjauhan satu dengan yang lainnya. Dikedua liang batu tersebut berdiamlah sepasang burung buas yaitu jenis burung yang besar si Pulau Buru.

Karena demikian besarnya burung itu sehingga bilamana ia terbang melewati Desa Tifu, maka hampir sebagian desa itu menjadi gelap akibat bayangan dari burung itu.Kedua burung itu tidak tinggal dalam satu sarang, akan tetapi masing-masing pada saarangnya, yaitu liang batu tadi.

Demikian pula sepasang burung itu tidak sama ganasnya. Yang paling ganas adalah burung betina, karena sang betinalah yang bertugas mencari makanan. Makanan burung tersebut adalah manusia, tetapi agak aneh pula, manusia yang menjadi mangsa burung itu bukanlah manusia yang menghuni daerah sekitarnya.

Makanan yang senantiasa diincar oleh burung betina adalah bilamana ada kapal yang berkebangsaan asing berlayar menuju daerah itu dan bermaksud akan mendarat, maka keluarlah burung betina dari liang batu tadi dan terbang menuju kapal seraya meraung-raung bagaikan harimau dan menyerang kapal tersebut.

Pada saat burung itu mendekat, langsung kapal dan seluruh isinya diangkat dan diterbangkan kesarangnya sambil berteriak menggeparkan bumi sekitarnya sebagai tanda kegirangan. (ISL)

Most Popular

To Top