Bank Maluku Yang Keropos – Ambon Ekspres
Trending

Bank Maluku Yang Keropos

AMBON,AE— Tim ahli  yang didatangkan dari kantor pusat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jakarta telah memeriksa kesehatan bank Maluku. Ini dilakukan, menyusul terjadinya kasus transaksi reverse repo oleh  PT. Andalan Artha Advisindo (AAA) Sekuritas dan kasus kredit macet oleh PT. Nusa Ina Pratama. Tim yang didalamnya juga ada ahli Teknologi Informasi (IT) tersebut  menemukan sejumlah kelemahan dalam manajemen bank plat merah itu. Diantaranya, analisis kredit yang lemah. Penyebabnya, jumlah tenaga analis bank Maluku masih kurang.

Kepala OJK Maluku Laksono Dwionggo kepada Ambon Ekspres mengatakan, dari hasil kerja tim, pihaknya kemudian merekomendasikan beberapa hal kepada pihak Bank Maluku sebagai langkah untuk memperbaiki manajemen bank Maluku dalam hal penyaluran kredit.

“Kelamah-kelamhan ini kita temukan setelah tim ahli kita datangkan dari Jakarta. Setelah meneliti dan memeriksa, baru ketahuan kelemahan-kelemahan bank. Kalau disebutkan semua (kelemahan), itu memang banyak. Tapi, diantaranya adalah proses analisis kurang mendalam. Sehingga kita rekomendasikan agar analisis diperbaiki,” ungkapnya di kantor OJK Maluku, Rabu (13/5).

Dwionggo menjelaskan, dalam proses kredit, harus dilakukan analisis mendalam tentang berbagai hal tentang keuangan calon debitur dan kondisi keuangan Bank. “Misalnya, usahanya apa sih, oh dia punya usaha perdagangan. Tapi, selain itu ternyata dia juga punya usaha-usaha yang lain. Kalau uangnya dipakai juga untuk usah-usaha yang lain itu, kan berisko. Harus dicek juga, apakah calon debitur itu juga kredit di bank lain atau nggak. Jadi memang harus detail, analisis harus secara menyeluruh,” ungkapnya.

BACA JUGA:  Rusaknya Manajemen Bank Maluku

Selain analisis, kelemahan lainnya adalah terkait  kepastian agunan yang dijaminkan oleh calon debitur. Pemberian kredit harus atas pertimbangan dan keyakinan  bahwa calon debitur memiliki agunan yang nilainya  setara dengan nilai kredit yang diajukan. Agunan harus meyakinkan bahwa nasabah bisa kembalikan kewajibannya sesuai yang diperjanjikan. Baik membayar pokok, bunga dan kewajiban lainnya.
Dikatakan, kadang bank menentukan nilai agunan sebesar 100 persen sesuai nilai kredit. Itu masih lemah karena tidak semua agunan yang dijaminkan mempunyai nilai  tidak tetap.

“Misalnya rumah, itu kan bisa fluktuasi. Harganya bisa turun atau rumah bisa rusak. Jadi kalau agunan, sebaiknya  dinaikkan lebih dari seratus persen. Sehingga, kalau rumah dijual masih bisa mencover kreditnya,” jelasnya Dwionggo.

Dia menambahkan,  kelemahan lainnya, yakni ketepatan waktu pelunasan kredit oleh debitur. Masih ada debitur yang belum tepat dalam melunasi kredit sesuai perjanjian.

Namun, Dwionggo mengakui, berbagai kelemahan tersebut lebih disebabkan oleh kurangnya jumlah tenaga analisis di bank Maluku. Sehingga, harus dipenuhi oleh pihak Bank.

“Misalnya satu analisis, itu memegang  40 orang yang jadi nasabah kredit, kan susah.  Karena itu, kita minta juga dipenuhi. Terkait jumlah ideal, nanti dilihat lagi, berapa seharusnya tenaga analisis,” tandas dia.

BACA JUGA:  Jaksa Kembali Periksa Tersangka Kasus Bank Maluku

Lebih lanjut Dwionggo menjelaskan mekaniseme penyaluran di bank kredit. Setelah calon debitur mengajukan permohonan kredit, petugas bank kemudian mememeriksa berbagai persiapan dan persyaratan yang disampaikan.  Setelah itu, Dianalisis tentang keuangan atau usaha calon debitur.

“Apakah  ada usaha yang bersifat mendapatkan laba atau tidak. Kemudian, dia sudah ahli di bisnisnya itu atau belum. Kalau dia punya usaha perdagangan, pertanian, atau yang lain. Dalam dua tahun terakhir, usahnya berjalan baik dan berkembang atau tidak. Pernah rugi atau tidak,” terang dia.Dan yang penting lagi, harus dipastikan, bahwa ada usaha yang dilakukan oleh calon debitur tersebut. Bank perlu memastikan, usaha tersebut adalah milik calon debitur, bukan milik orang lain.

Saat ini, Bank Maluku masih  kekurangan tenaga pada bagian tertentu yang punya peran penting dalam manajemen bank milik Pemerintah daerah Maluku-Maluku Utara itu. Diantaranya, jabatan kepala bagian pemasaran yang dalam beberapa waktu lalu sempat kosong. Namun belum lama ini telah  diisi Aletha da Costa yang  sebelumnya menjabat   kepala divisi perkreditan Bank Maluku  sejak Desember 2009.Sementara, jabatan kepala divisi perkreditan masih dijabat oleh pejabat sementara (PJS), sambil menanti hasil penentuan kepala divisi defenitif yang baru. “Jadi secara umum kita rekomendasikan agar manajemen, terutama di bagian kredit diperbaiki. Biar Bank ini lebih baik. Kita juga rekomendasikan, agar Bank Maluku memberikan kredit kepada  pelaku UMKM, jangan hanya kredit konsumtif,” katanya.

BACA JUGA:  Rusaknya Manajemen Bank Maluku

Terkait kasus transaksi repo alias transaksi bodong PT. AAA Sekuritas, Dwionggo menegaskan masih terus diproses oleh Bareskrim Polri. Dia menolak memberikan penjelasan lebih jauh tentang proses hukum yang sedang dilakukan oleh Bareskrim Polri.  Pihaknya pun telah menyerahkan sepenuhnya kepada penegak hukum itu menuntaskan kasus tersebut.

“Biarlah itu diproses hinga tuntas. Yang penting sekarang adalah kita upayakan agar Bank Maluku menjadi lebih baik. Sampai sekarang, sisa kerugian Rp1.8 milyar sudah berhasil ditutupi dengan keuntungan Bank Maluku dalam beberapa bulan di awal tahun ini,” pungkas Dwionggo.

Wakil gubernur Maluku Zeth Sahuburua kepada wartawan pada pekan kemarin mengungkapkan, akibat transaksi repo PT.  AAA Sekuritas, pemerintah daerah merugi Rp262 milyar. Karena itu, bila pihak PT. AAA Sekuritas tidak mengembalikan dana bank Maluku, maka  Pemda akan   mengambil aset milik perusahaan itu dan akan dijual untuk menutupi kerugian Bank Maluku.

Kendati tidak menyebutkan jenis aset tersebut, namun Sahuburua menegaskan, nilai aset itu sudah dapat menutupi kerugian yang ada.
“Namun untuk mengambilnya masih membutuhkan waktu, karena kasusnya sementara berproses,”katanya.
(MAN)

Most Popular

To Top