Polisi Belum Pastikan Ada Mucikari di Ambon – Ambon Ekspres
Metro Manise

Polisi Belum Pastikan Ada Mucikari di Ambon

AMBON, AE— Marak terjadinya prostitusi online, disejumlah wilayah di Indonesia, belakangan ini cukup meresahkan warga. Perbuatan terlarang itu belakangan ini senter menjadi komsumsi publik. Hal seperti itu mungkin terjadi di Kota Ambon. Namun, sebagai langkah antisipasi, pemerintah daerah diminta untuk lebih berperan aktif dalam menatan seluruh perhotelan, penginapan serta kontrakan yang berada di Kota Ambon.

Ketua DPW Ikatan Pelajar Muhammadiyah Maluku, Gafar Bahta mengatakan, Pemprov Maluku dan Pemkot Ambon secepatnya harus berkoordinasi dengan pihak kepolisian guna melakukan razia di seluruh hotel, penginapan dan kos-kosan sebagai langkah untuk mencegah dan menghindari terjadinya prostitusi terselubung di Kota Ambon. “Hal seperti ini tidak bisa dipandang sebelah mata karena mungkin saja terjadi juga di daerah ini jika kita lalai dalam sistim pengawasan,” kata dia kepada Ambon Ekspres, kemarin.

Dikatakan, lebih baik mencegah daripada harus mengobati. Karena peristiwa yang terjadi dibeberapa daerah itu, akibat kurangnya pengawasan serta ketidaktegasan pemerintah setempat. “Bukan kita mau memprovokasi pemerintah, ataupun mematikan dunia usaha yang ada, akan tetapi kita harus mengambil langkah yang baik. Karena hal itu kapan saja bisa terjadi dan itu dimana saja juga bisa,” cetusnya.

Sementara itu, mantan presiden mahasiswa Universitas Darussalam Ambon, Tahir Ohorella mengatakan, selama ini razia, hanya dilakukan oleh aparat kepolisian di sejumlah penginapan. Sedangkan hotel dan kos-kosan belum terkena razia. Padahal kedua tempat itu juga bisa saja terjadi hal-hal tersebut. “Berangkat dari kasus yang terjadi di beberapa daerah, misalkan kasus Deudeuh Alfi Sahrin yang tewas dikos-kosan, kemudian artis di hotel berbintang. Walaupun itu diluar Maluku dan Kota Ambon, tetapi harus menjadi catatan bagi pemerintah juga, dalam hal pencegahan. Harusnya razia yang selama ini dilakukan polisia dan pihak terkait itu bukan saja di penginapan, namun juga dilakukan tempat-tempat yang dianggap aman, misalkan hotel dan kos-kosan,” ujarnya.

Terkait hal tersebut, Kasubbag Humas Polres Ambon, Iptu Meity Jacobus mengaku, pihaknya belum bisa melakukan kegiatan razia ditempat-tempat tersebut, karena harus berkoordinasi dengan pemerintah baik daerah maupun provinsi. Akan tetapi sambung wanita dengan dua balok dipundaknya itu, pihaknya sudah sering kali melakukan razia di penginapan.

“Kalau soal razia penginapan itu memang sudah sering kita lakukan dari dulu untuk mencegah hal-hal seperti itu (seks bebas, red). Tetapi kalau sampai ke tingkat hotel dan kos-kosan memang belum pernah karena harus ada koordinasi yang lebih jauh dengan pemerintah. Kalau sudah ada maka mungkin hal itu, bisa akan dilaksanakan,” jelasnya.

Disinggung soal adanya prostitusi lewat mucikari, Meity tak mau berspekulasi lebih jauh, lantaran pihaknya belum menemukan adanya indikasi tersebut. “Itu belum bisa dipastikan ada atau tidak, karena harus dilakukan penyelidikan yang jauh dulu,” tutupnya.

Terkait langkah pencegahan, Kasat Binmas Polres Ambon, AKP Fredy Djamal menjelaskan, sejauh ini pihaknya terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat guna menghindari dan tidak melakukan perbuatan yang melawan hukum. “Untuk itulah setiap saat kami terus melakukan kegiatan sosialisasi ke masyarakat, lingkungan sekolah dan kampus agar menghindari terjadinya tindakan-tindakan yang berdampak pada pelanggaran hukum, termasuk bagain dari pencegahan seks bebas,” katanya.

Lebih lanjut, mantan Kapolsek Kawasan Bandara Internasional Pattimura Ambon itu, menambahkan, hal tersebut bukan saja menjadi peran dari pihaknya, akan tetapi perlu adanya peran ekstra dari seluruh element masyarakat yang ada ter dari lurah maupun ketua RT/RW setempat terhadap lingkungan dimana ada tempat kos-kosan itu. ”Ini harus peran aktif dari ketua RT/RW, untuk membuat aturan dimana bagi setiap orang baru wajib melaporkan diri 1×24 jam, ketika memasuki lingkungan maupun wilayah mereka itu,” ujarnya.

Bukan saja dari peran dari ketua RT/RW, namun untuk kontrakan agar  pemilik rumah kos, berperan lebih aktif lagi, dalam hal menertibkan bagi setiap pengunjung maupun penghuni kontrakan tersebut. ”Misalkan tata tertib yang berbunyi tidak boleh menerima tamu diatas pukul 22.00 WIT atau dilarang berduaan di dalam kamar, bagi yang bukan saudaranya. Aturan itu mestinya dibuat untuk ditegakan guna menghindari adanya pergaulan bebas,” pungkas dia.(AHA)

Most Popular

To Top