Rapuhnya Harga Komoditi Perkebunan di Maluku – Ambon Ekspres
Amboina

Rapuhnya Harga Komoditi Perkebunan di Maluku

AMBON, AE.—Harga komoditi hasil perkebunan rakyat Provinsi Maluku seperti cengkeh, biji pala bundar, kopra, fuli pala dan coklat di Kota Ambon, mengalami penurunan harga yang cukup signifikan.

“Beberapa hasil per- kebunan rakyat di daerah ini turun sejak dua bulan te- rakhir dan dikhawatirkan akan terus menurun, ”ungkap Roy salah  satu  buru pengumpul hasil perkebunan di Jalan Yos Sudarso, Kota Ambon, kepada koran ini, Selasa (19/5)

Dia menyebutkan, saat ini harga cengkeh turun dari harga awal Rp120.000 menjadi Rp108.000 per kilo, biji pala bundar yang awalnya Rp90.000 kini turun menjadi Rp72.000 per kilo. Sedangkan fuli juga mengalami penurun dari Rp130.000 menjadi Rp125.000 per kilonya.

“Bukan hanya itu, harga jual coklat juga turun dari Rp28.000 menjadi Rp25.000 per kilo. Kemudian kopra Rp6000 per kilo,”tuturnya.

Dia juga mengaku, turunnya harga komoditas perkebunan di daerah ini bukan karena permainan mereka, melainkan akibat menurunnya permintaan dari luar Jawa dan Sulawesi yang selama ini mejadi tujuan antar-pulau komoditas perkebunan di Maluku.

“Patokan harga dari semua jenis komoditi unggulan ini disesuaikan dengan harga yang dipatok di daerah tujuan ekspor,”katanya.
Ditambahkan, belum ada kejelasan terkait informasi penurunan harga komoditi unggulan ini. Apalagi saat ini belum memasuki musim panen, sehingga harga juga bisa naik karena pengaruh stok yang menipis.

“Kalau daerah ekspor masih memiliki stok lama, kadang mereka tidak melakukan pembelian sampai stok mereka yang lama habis dulu,”tuturnya.

Sementara, harga jual hasil perkebunan ini juga, lanjutnya, bukan hanya tergantung dari musim panen, namun daya beli juga dapat mempengaruhi.

Di tempat yang sama, Dani Markus, salah satu petani cengkeh dari Pulau Seram yang di temui Ambon Ekspres usai menjual cengkeh ini mengeluhkan, turunnya harga komoditas perkebunan di pasaran setempat sehingga mengakibatkan merosotnya pendapatan mereka.

“Harga kebutuhan pokok semakin mahal, belum lagi harga komoditas perkebunan justru terus turun. Kalau begini terus bagaimana petani bisa hidup sejahtera. Petani juga berharap, pemerintah dan instansi terkait di daerah ini, dapat mengawasi guna mengatasi anjloknya harga komoditas perkebunan tersebut,”harapnya. (IWU)

Most Popular

To Top