Rektor Kabur, 5 Mahasiswa Di Tahan – Ambon Ekspres
Trending

Rektor Kabur, 5 Mahasiswa Di Tahan

AMBON, AE— Kesabaran mahasiswa akhirnya memuncak. Kemarin, mereka turun jalan, bersamaan dengan sidang Rektor Universitas Darussalam, Ibrahim Ohorella di Pengadilan Negeri Ambon. Rektor terpaksa kabur, karena diluar pekarangan pengadilan, terlihat begitu banyak mahasiswa.

Polisi terpaksa amankan rektor dari pintu keluar sebelah kiri dekat kantor Pemerintah Kota. Mobilnya terpaksa melawan arus lalulintas untuk  keluar dari aksi demo mahasiswa. Padahal, tidak ada mahasiswa yang kejar, ataupun mengancam. Tingkahnya justeru menjadi olokan mahasiswa.

Sidang sengketa Yayasan Darussalam Maluku dengan Yayasan Pendidikan Darussalam Maluku akhirnya ditunda, dengan alasan situasi keamanan. Ini terkait banyaknya mahasiswa yang melakukan aksi di luar pengadilan.

Aksi mahasiswa dimulai sekira pukul 11.30 di depan Gong Perdamaian sampai perempatan Jalan Sultan Hairun dan AY Patty atau depan Pos Kota. Dengan pengawalan aparat kepolisian, barisan pendemo yang terdiri ratusan mahasiswa kampus merah itu bergerak menuju kawasan Gong Perdamaian Dunia, pada sekira pukul 11. 30 WIT.

Mahasiswa yang menamakan kelompoknya, Majelis Penyelamat Darussalam Ambon itu pun meluapkan kekesalan mereka akibat tarik ulur kepentingan pihak tertentu terkait kepemilikan aset di Universitas tersebut. ”Persoalan di Unidar bukan lagi masalah mahasiswa atau dosen, tapi masalah keumatan, karena Unidar adalah milik umat,” teriak salah satu orator, Yunus Umagap.

Mereka sudah resah dengan panjangnya polemik sengketa kepemilikan. Mereka khawatir, nasib mahasiswa tidak menentu bila tidak ada solusi masalah. “Kami berharap agar majelis hakim objektif dan adil dalam memutus perkara ini. Pihak manapun yang menang, kami tetap mendukung, yang penting hakim harus membuat keadilan dalam masalah ini, agar mahasiswa tidak menjadi korban. Kami tidak ingin nasib kami tidak menentu,” serunya.

Sekira pukul 12.07, pendemo yang dikoordinir, Fahrudin Tokomadoran ini pun mencoba masuk dalam halaman Pengadilan Negeri Ambon untuk menyampaikan aspirasi. Mereka dicegat petugas pengadilan, karena bisa menangganggu persidangan yang sedang berlangsung, termasuk sidang gugatan Yayasan Darussalam Maluku yang telah dimulai sekira pukul 11.50.

Mereka hanya berorasi di depan pintu keluar pengadilan Negeri Ambon. Mahasiswa berharap, Ibrahim Ohorella tinggalkan jabatan rektor, karena dinilai tidak dapat memimpin Unidar dengan baik. Dia juga dinilai tidak transparan dalam penggunaan anggaran universitas.

Tuntutan  itu juga didasarkan pada masalah hukum yang dihadapi Rektor Unidar  terkait dugaan pengancaman terhadap dua petinggi di Yayasan Darussalam Maluku, yakni M. Saleh Latuconsina dan A. Rachman Polanunu. “Unidar memang tidak berkualitas karena pimpinan tidak berkualitas. Bukan karena Mahasiswa malas. Orang-orang yang merusak pendidikan, harus diperangi,” tandas Umagap.

Orator lainya, Ikbal Souwakil menegaskan, pihaknya akan terus menyuarakan apa yang menjadi keresahan mahasiswa akibat berbagai masalah yang terjadi.

Di dalam pengadilan, sidang atas gugatan pihak Yayasan Darussalam berlangsung dengan agenda pembacaan jawaban  dari pihak tergugat, yakni Yayasan Pendidikan Darussalam (tergugat I), Kementerian  Hukum dan HAM (Tergugat II), dan Notaris, M. Husain  Tuasikal (Tergugat III) atas gugatan yang disampaikan oleh pihak Yayasan Darussalam.

Sidang yang dipimpin hakim ketua, Mustari itu pun ditutup sekira pukul  13.30. Dan  akan kembali digelar, Selasa (26/5) dengan agenda replik dari pihak penggugat atas jabaran para pihak tergugat tersebut.

“Karena ini tiga pihak yang menjadi tergugat, sehingga kami akan membuat replik untuk jawaban dari masing-masing tergugat. Jadi, harus satu-satu,” kata Penasehat Hukum Yayasan Darussalam Maluku, Fahri Bachmid.

Sekira pukul  14.00 pendemo dizinkan masuk di halaman pengadilan dan menyampaikan aspirasi mereka. Di hadapan pendemo, Ketua Pengadilan Negeri Ambon, Mustari mengatakan, pihaknya akan tetap memutuskan perkara gugatan Yayasan Darussalam Maluku sesuai aturan yang berlaku.

“Sekarang masih tahap jawab-menjawab. Jadi kami berharap, ade-ade mahasiswa juga mengikuti melihat secara langsung perkembangan sidang agar tahu apa dan bagaimana sesungguhnya perkara ini,” ujarnya.

Saat akan menuju kantor Gubernur Maluku untuk menyampaikan aspirasi yang sama, sejumlah mahasiswa terlibat adu mulut dengan  salah satu anggota polisi. Aksi ini tidak berlangusng lama, namun membuat rencana para mahasiswa untuk menyambangi kantor gubernur, gagal karena tidak dizinkan oleh polisi.

Sekitar lima mahaiswa pun diamankan di kantor polsek Sirimau dan selanjutanya di bawa ke Mapolres Pulau Ambon dan Pp Lease. Sementara barisan pendemo membubarkan diri secara tertib.

Kasat Intelkam Polres Pulau Ambon dan Pp.Lease AKP Mohammad Mossad, ketika dikonfirmasi terkait penahan lima orang mahasiswa ini, enggan memberikan penjelasan pajang lebar. ”Tidak ada masalah, mereka akan dipulangkan hari ini juga,” kata Mossad.

Salah satu dosen Unidar Ambon, Zulfikar Lestaluhu mengatakan, apa yang menjadi tuntutan mahasiswa agar Rektor Unidar turun dari jabatan, tidak dapat dibenarkan, mengingat, belum ada putusan inkrah  tentang gugatan pihak  Yayasan Darussalam, juga karena status tersangka yang disandang Rektor Unidar telah dilepaskan oleh penyidik Polda Maluku.

KOPERTIS
Pengamat Pendidikan Universitas Pattimura ( Unpatti), Patris Rahabav menilai, konflik antara dua yayasan tersebut patut disesalkan. Apalagi hingga membuat mahasiswa harus turun jalan untuk meluapkan keresahan mereka.

“Ini menunjukkan, para mahasiswa itu sudah resah. Karena yang akan menjadi korban, kan mereka juga. Kita sangat sayangkan,  Unidar yang merupakan salah satu Perguruan Tinggi kebanggaan masyarakat Maluku harus mengalami masalah seperti ini,” ungkapnya, kemarin.

Dari  kondisi tersebut, menurut Rahabav, pemerintah daerah provinsi dan Koordintor Kopertis Wilayah XII  Maluku dan Maluku Utara harus membuat langkah secara cepat dan tepat, mengantisipasi  jangan  masalah bertambah besar.

“Sebaiknya semua pihak kembali duduk difasilitasi Gubernur Maluku dan Koordinator Kopertis untuk membicarakan masalah ini. Dan menurut saya,  kalau semua pihak sepakat, sebaiknya untuk sementara waktu, Koordinator Kopertis mengambil alih kepemimpinan Unidar, sambil menanti putusan final di pengadilan,” ujarnya.

Koordinator Kopertis,  kata mantan dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unpatti ini memang harus mengambil alih kepemimpinan Unidar. Namun itu hanya untuk sementara waktu, demi menjaga proses pelayanan dan pendidikan di kampus itu tidak terganggu. Harapannya, itu dapat menyelematkan  mahasiswa dari dampak negatif perseteruan dua Yayasan itu.

“Kalau tidak, ya harus islah. Itu jalan terbaiknya. Kalau tidak, ya Kopertis harus ambil alih, demi menyelamtkan para mahasiswa, jangan sampai mahasiswa juga terbelah dalam kelompok-kelompok tertentu, kan berdampak lebih besar lagi,” ungkap Rahabav. Sementara, Koordinator Kopertis Wiilayah XII Maluku dan Maluku Utara Zainudin Notanubun saat dihubungi untuk dimintai pendapatnya, enggan menjawab telepon dari wartawan koran ini.(MAN/ERM)

Most Popular

To Top