Oknum Polisi Ngaku Bikin Mercuri – Ambon Ekspres
Trending

Oknum Polisi Ngaku Bikin Mercuri

Namlea, AE— Perintah Presiden Joko Widodo untuk menutup total areal penambangan Gunung Botak, Kabupaten Buru tak membuat para penambang gelap takut. Mereka diam-diam terus memproduksi mercuri yang nantinya digunakan untuk menambang emas. Bahkan ada dugaan oknum polisi ikut main dalam bisnis haram ini.

Keterlibatan oknum polisi berpangkat Aiptu, MH, anggota Polres Pulau Buru, diketahui setelah Satuan Polisi Pamong Praja melakukan penggrebekan terhadap penggunaan bahan berbahaya dalam penambangan di Gunung Botak. Razia dilakukan di Unit 16, Kecamatan Waeapo.
Penggrebekan dipimpin Kepala Satpol PP, Basir Toisuta. Penggebrekan tersebut dilakukan atas perintah Bupati Buru, Ramli Umasugy.

Bupati mendapat laporan dari warga sekitar desa Unit 16, terkait adanya aktifitas pembuatan mercuri.
Di lokasi penggebrekan, Satpol PP tidak menemukan para pekerja maupun penanggungjawabnya. Hanya ada Atep Sutiarsa, pemilik perkebunan coklat yang lahannya digunakan untuk kegiatan pembuatan mercuri. Namun sejumlah barang bukti berupa 15 buah pipa yang digunakan untuk proses pembakaran, serta bahan baku batu cadas yang telah digiling halus dengan mesin tromol dan kapur.

Kepada Satpol PP, Atep Sutiarsa menuturkan, kegiatan pembuatan mercury untuk sementara dihentikan. Mereka akan beraktivitas lagi bulan depan. Dia mengaku, lahannya disewakan kepada rekan lamanya bernama Iping yang berasal dari Gemba, Kabupaten SBB.

“Iping itu yang melakukan produksi mercuri dan dibantu beberapa orang. Saya hanya menyewakan lahan. Itupun biaya sewanya belum dibayar,” keluh Atep. Atep juga mengatakan, pemilik kegiatan produksi barang berbahaya ini bernama Aiptu MH.

MH adalah anggota Polres Buru yang dikenal sebagai pengusaha minyak. Sedangkan operasional di lapangan selalu diawasi orang kepercayaan MH, bernama Umar Buton. Barang bukti kemudian dibawa ke kantor Sat Pol PP. “Nanti beritahu kepada pemiliknya, kalau barangnya kami amankan. Ini perintah pak bupati,” tegasnya.

Sementara itu, Aiptu MH, kepada wartawan di Namlea, Rabu (20/5), membenarkan barang yang diamankan Satpol PP miliknya. “Saya hanya pemodal. Saya sudah habiskan Rp70 juta dan modalnya belum kembali, karena produksi dianggap gagal, sehingga saya menyuruh agar kegiatan tersebut dihentikan,” kata dia.

Menurut dia, Untuk proses membuat mercuri, pihaknya membeli batu cadas dari Pulau Seram dengan harga per ton mencapai Rp30 juta. Selanjutnya batu cadas itu digiling halus di mesin tromol. Bahan yang telah dihaluskan dicampur dengan kapur dan diberi cendawan serta dimasukan ke dalam pipa-pipa besi lalu dibakar.

Setelah melalui proses pembakaran selama empat jam, bahan campuran tersebut dikeluarkan dari pipa dan dilarutkan di dalam wadah berisi air, guna memisahkan mercuri-nya. “Ini produksi gagal, hasil mercuri-nya tidak sesuai dengan yang diharapkan,” kata dia.

Dia berani mengeluarkan modal untuk memproduksi mercuri, karena dinilai tidak membahayakan lingkungan di lokasi tersebut. Secara hukum, ia juga mengaku tidak ada larangan untuk memproduksi mercuri. (DHE)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!