Unidar Terbelah, Mahasiswa Mogok Kuliah – Ambon Ekspres
Trending

Unidar Terbelah, Mahasiswa Mogok Kuliah

AMBON,AE— Aktivitas perkuliahan di   Universitas Darussalam (Unidar) Ambon terganggu. Ini akibat  berbagai masalah yang melilit kampus merah itu. Baik di kalangan mahasiswa maupun dosen terbentuk  dua kelompok, yang pro dan yang kontra terhadap rektor.   Mahasiswa yang kontra mogok kuliah.

Suasana di kampus induk Unidar di Desa Tulehu kecamatan Saluhutu, kemarin terpantau lengang. Baik di halaman kampus  maupun di dalam ruang kuliah, tidak terlihat aktivitas sebagaimana biasanya. Hanya sejumlah mahasiswa yang duduk di depan  ruangan beberapa fakultas.
“Hari ini mau kuliah, tapi belum  tahu jam berapa baru mulai. Teman-teman yang lain juga belum datang. Mungkin sedikit lagi,” ungkap salah satu mahasiswa Unidar.

Kendati begitu, mahasiswa yang enggan menyebutkan namanya ini mengaku tidak tahu banyak tentang kisruh yang terjadi di kampus Unidar maupun perseteruan antara Yayasan Pendidikan Darussalam dan Yayasan Darussalam Maluku.

“Kami datang untuk kuliah. Kalau ada hal-hal lain, ya nanti diselesaikan oleh pimpinan,” katanya. Beberapa mahasiswa lain yang diajak berbicara juga lebih memilih  irit bicara. Namun mereka akui suasana ini biasa terjadi pada  hari-hari di penghujung pekan. Aktivitas kuliah di kampus induk lebih banyak dilakukan pada hari -hari pertama pekan.

Kemarin, Wakil III Rektor Unidar Syawal Zakaria dan sejumlah dosen mengadakan pertemuan dengan para mahasiswa di kampus B Wara. Hasilnya, mahasiswa tetap pada pendirian, rektor harus turun dari jabatan.

“Ada sekitar 50 persen dari jumlah dosen mendukung langkah kami. Kami tidak memprovokasi mahasiswa atau dosen. Kami hanya ingin agar sama-sama melihat masalah Unidar sebagai masalah bersama, sehingga harus disikapi secara bersama,” ungkap PR III, Syawal Zakarian di kampus B Wara, kemarin.

Terkait informasi penonaktifan dirinya bersama sejumlah pejabat lain di lingkup Unidar Ambon, Syawal Zakaria menilai hal itu tidak tepat, mengingat alasan yang digunakan oleh rektor tidak  sesuai fakta. “Kami diduga menjadi pelapor terkait  dugaan pengancaman yang dilakukan oleh rektor terhadap dua tokoh Yayasan Darussalam itu. Padahal, bukan. Kami hanya dipanggil oleh polisi untuk dimintai keterangan sebagai saksi, bukan pelapor,” imbuhnya.

Diakuinya, masalah tersebut telah menurunkan semangatnya untuk terus menjalakan aktivitas sebagai  staf pengajar di Unidar. Sehingga dalam beberapa hari terakhir, dia tidak memberikan kuliah di kampus Unidar. “Jadi, alangkah baiknya Pak Gubernur  dan Koordinator Kopertis mengambil alih kepemimpinan di Unidar, agar proses kuliah dan pelayanan  kembali normal,” katanya.

Hingga kemarin sebagian besar mahasiswa Unidar yang kuliah di kampus B di kawasan Wara, Desa Batumerah, Kota Ambon, sudah dua hari tidak mengikuti perkuliahan. Mereka yang tergabung dalam Majelis Penyelamat Darussalam Ambon itu sepakat  untuk mogok kuliah bila belum ada pergantian rektor.

“Prinsipnya, kami dilema. Satu sisi, mogok kuliah, kami yang rugi karena kami datang ke sini untuk kuliah. Tapi melihat masalah yang terjadi, kami terpaksa mengambil sikap,” ungkap Ibrahim Maharsole, mahasiswa kampus B.

Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) ini berharap, para petinggi universitas dan  dua yayasan harus lebih bijak dalam menyelesaikan berbagai masalah yang terjadi. “Kami hanya ingin punya pemimpin (rektor) yang baik,   pemimpin yang sungguh-sungguh  bekerja untuk kami sebagai mahasiswa. Jadi, melihat masalah hukum yang dihadapi rektor yang sekarang, sebaiknya beliau mundur dari jabatannya, agar tidak mengganggu aktivitas di kampus,” ujarnya.

Bila itu belum dilakukan, dia pesimis aktivitas perkuliahan akan kembali normal. Sementara terkait perseteruan antara kedua  yayasan, Maharsole berharap, masalah itu tidak berkepanjangan.

Mahasiswa lainnya, Ali Ikram menegaskan, keputusan untuk mogok kuliah, karena rektor tidak memberikan perhatian yang baik terhadap  pelayanan  kepada mahasiswa di kampus B Wara. Padahal, para mahasiswa di kampus B punya kontribusi yang besar bagi Unidar dalam hal keuangan.

“Beliau pernah menjanjikan perpustakaan di kampus B, tapi sampai saat ini tidak ditepati. Ini membuat kami  kecewa. Padahal, itu merupakan fasilitas penunjang bagi mahasiswa,” ungkapnya.

Karena itu, rektor harus diturunkan, karena tidak maksimal dalam memimpin Unidar. Apalagi, sedang tersangkut masalah hukum terkait dugaan pencemaran nama baik dan pengancaman terhadap dua petinggi Yayasan Darussalam.

Sampai kapan mogok ini berlangsung, Ikram mengatakan, sampai permintaan mereka dipenuhi. Kecuali ada perkembangan lain yang membuka peluang bagi mahasiswa untuk mendapatkan pelayanan yang baik dan transparan.

Rektor Unidar Ibrahim Ohorella yang dikonfirmasi membantah penonaktifan pejabat dilingkup Unidar tersebut. Yang dilakukannya hanyalah mengambil alih tugas para Pembantu Rektor tersebut  untuk sementara waktu sambil menanti keputusan dari Yayasan Pendidikan Darussalam atas dugaan pelanggaran disiplin yang dilakukan oleh dua Wakil Rektor tersebut.

“Sampai malam  ini (malam tadi-red)- tidak ada penonaktifan. Yang ada adalah, untuk sementara waktu saya ambil alih tugas dan tanggung jawab Wakil Rektor I dan III demi  menjaga kelancaran pelayanan  kepada mahasiswa, karena dengan masalah ini jangan  sampai menganggu kosentarasi mereka dalam bekerja yang berakibat pada kualitas kinerja,” ungkapnya via seluler, malam tadi.

Dikatakan, setelah mendapat laporan yang kuat  bahwa kedua Wakil Rektor tersebut terkait laporan pengancaman terhadap dua petinggi Yayasan Darussalam, yakni Saleh Latuconsina dan Rahman Polanunu, dia langsung menggelar rapat dengan Senat Unidar untuk mengkaji dugaan pelanggaran disiplin yang dilakukan dua wakil Rektor tersebut.

“Keputusan rapat dengan senat memutuskan, keduanya diduga melakukan pelanggaran dispilin karena tidak menjaga rahasia lembaga dan melanggar sumpah jabatan, sehingga rapat senat memutuskan untuk sementara tugas dua jabatan itu diambil alih rektor. Yang berwenang untuk menonaktifkan adalah pimpinan yayasan,” ungkapnya.

Terkait tuntutan mahasiswa agar dirinya turun dari jabatan rektor, dia mengatakan, itu tidak dapat dibenarkan. Sebab, baik pengangkatan maupun penonaktifan rektor harus melalui mekanisme yang berlaku di  Yayasan Pendidikan Darussalam.

“Kalau dibilang terkait masalah hukum yang saya hadapi, kan belum ada putusan resmi. Status tersangka bukan berarti saya salah. Secara pribadi dan secara jabatan, saya tetap menghargai dan mengikuti proses hukum yang ada,” tegasnya.

Ohorella juga membantah bila aktivitas perkuliahan di Unidar terganggu akibat berbagai masalah yang terjadi. Sampai kemarin, semua bentuk aktivitas masih berjalan normal. Para mahasiswa dan dosen pun diharapkan agar tetap menjalankan aktivitas sesuai kapasitas masing-masing.

Hal yang sama disampaikan dekan Fakultas Pertanian Unidar, Usman Umarella. Tidak ada masalah dengan aktivitas perkuliahan bagi mahasiswa di fakultas yang dipimpinnya itu. Termasuk di kampus B, Wara.

“ Tidak ada masalah, kuliah tetap jalan seperti biasa, Begitu pun aktivitas lainnya. Kita fokus pada pendidikan. Masalah lain, ya itu sudah ditangani lembaga yang berwenang. Kita hanya lakukan tugas kita saja,” tandasnya. (MAN)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!