Agar Bebas Demam Berdarah, Bantul Tonjolkan Peran 'Bapak Asuh' – Ambon Ekspres
Kesehatan

Agar Bebas Demam Berdarah, Bantul Tonjolkan Peran 'Bapak Asuh'

Yogyakarta, Masalah yang membelit Kabupaten Bantul nyatanya tak hanya berkutat pada gizi buruk dan kehamilan. Karena kepadatan penduduknya, angka kasus demam berdarah di daerah yang terkenal dengan kerajinan gerabah Kasongan ini ternyata juga di atas rata-rata.

Itulah mengapa pemberantasan demam berdarah telah menjadi program utama pemerintah Kabupaten Bantul di bidang kesehatan. Terangkum dalam DB4MK Plus, seluruh wilayah di Bantul didorong untuk ‘berlomba’ menurunkan angka kasus demam berdarah. Salah satunya di Puskesmas Kasihan I, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul.

“Sejak zaman jahiliyah, kami selalu endemi, angkanya tidak pernah 0. Bahkan di DIY, kabupaten kami demam berdarahnya tertinggi,” jelas Kepala Puskesmas Kasihan I, dr Bambang Sulistriyanto saat ditemui, Kamis (21/5/2015).

Ia pun meyakini alasan di balik tingginya angka kasus demam berdarah di wilayahnya adalah karena kondisi geografisnya yang masih dekat dengan persawahan atau aliran air terbuka serta padat penduduk. Kultur masyarakat setempat juga dikatakan dr Bambang ikut berperan.

Untuk itu, inovasi yang dilakukan dr Bambang dan timnya dikaitkan dengan revolusi mental pada masyarakat setempat. “Sebelum ada revolusi mental, kami sudah lebih dulu melakukannya, terutama dalam memberantas demam berdarah,” katanya.

Inovasi yang dimaksud adalah pembentukan Zona DB Nol. Kegiatannya berupa DB Morning di mana tiap kepala desa/dusun diwajibkan untuk berbicara tentang demam berdarah setiap pagi, termasuk dalam pertemuan warga seperti arisan dan rapat desa/dusun.

“Dari omongan akan jadi pikiran, dari pikiran akan jadi perbuatan, dan lama-lama menjadi kebiasaan, jadi perilaku, karena pemberantasan DB itu kaitannya dengan perilaku dan mental warga. Kalau kita tidak bisa mengubah mental masyarakat untuk disiplin dan peduli lingkungan, tentu ini sulit dilakukan,” jelasnya.

Di samping itu, pimpinan SKPD maupun pejabat eselon 2 di wilayah kerja Puskesmas Kasihan Bantul ditunjuk menjadi ‘Bapak Asuh’ dan diberi tanggung jawab untuk mengkampanyekan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di daerah-daerah tertentu. Dan tiap minggu, mereka diminta kesiapannya memantau jentik-jentik nyamuk di rumah warga binaannya, biasanya di hari Jumat.

Untuk memotivasi warga, mereka juga akan mendapat reward langsung dari puskesmas sebesar Rp 500.000 dan dari desa Rp 200.000 bila terbukti angka bebas jentiknya mencapai 95 persen,.
“Dulu di awal 2010, ranking (kasus DB) kami 32, tapi dua tahun berjalan, sekarang kami ranking 10 di Bantul,” ungkap dr Bambang.

Bantul sendiri merupakan salah satu daerah yang terpilih sebagai site pelepasan nyamuk penelitian dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Nyamuk tersebut merupakan jenis Aedes aegypti yang telah mengandung organisme bernama Wolbachia. Bila nyamuk ini dilepaskan dan dibiarkan kawin dengan nyamuk Aedes aegypti setempat, maka Wolbachia tadi akan menekan pertumbuhan virus pemicu demam berdarah yang ada dalam tubuh nyamuk.

Kepada detikHealth, dr Riris Andono Ahmad, MPH, PhD sempat mengungkapkan Bantul merupakan daerah yang ideal sebagai site pelepasan. “(Sebab) di situ banyak kasus demam berdarah, populasi nyamuknya tinggi, dan wilayahnya kecil atau terisolir. Artinya ada batas sehingga mudah dimonitor,” terangnya. (lll/vit)

Most Popular

To Top