Forki Maluku Setuju Adanya Pembatasan Usia di PON – Ambon Ekspres
Olahraga

Forki Maluku Setuju Adanya Pembatasan Usia di PON

Muskitta : Regulasi Harus Mengikuti SEA Games

AMBON, AE.—Pengurus Provinsi (Pengprov) Federasi Olahraga Karate-do Indonesia (Forki) Maluku berharap agar penerapan regulasi pembatasan usia maksimal karateka dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016  di Jawa Barat diberlakukan.Pasalnya, akan memberikan keuntungan bagi Maluku.Demikian disampaikan Herman Tibalea, Sekum Forki Maluku kepada Ambon Ekspres di Ambon, kemarin.

Menurutnya, Forki Maluku sangat setuju dengan adanya usulan untuk membatasi usia atlet karate, yang bakal bertanding di nomor kumite dan KATA pada Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 di Jawa Barat.’’ Batasan usia karateka itu adalah usulan dari Jawa Barat, selaku tuan rumah PON 2016.Adapun batasan usianya maksimal 18-27 tahun (komite) dan KATA 16-30 tahun.Usulan ini mereka sampaikan saat Rakernas PB Forki di Hotel Kartika, Maret lalu,’’ ungkapnya.

Dia menilai, usulan dari tuan rumah tersebut, dianggap mempunyai tendensi untuk menjegal peluang karateka dari daerah lain dalam merebut medali emas.Namun, hal itu tidak masalah bagi Maluku, sebab karateka Maluku yang akan berlaga di event nasional memenuhi persyaratan itu.’’ Memang usulan itu untuk menghindari atlet daerah lain yang punya potensi emas, tapi bagi Maluku tidak ada masalah,’’ terang dia.’’ Kualitas karateka usia mudah yang dimiliki Maluku cukup banyak.Jadi hal itu tidak berpengaruh,’’ sambung dia.

Usulan pembatasan usai karateka tersebut, lanjut Tibalea, sebenarnya bukan kali pertama mengemuka.Karena pada PON 2012 yang dihelat di Riau, usulan tersebut juga sempat mengemuka, namun di tolak oleh PB Forki.Dan hal ini kembali mengemuka di Rekarnas lalu.’’ Ada daerah yang tidak setuju dengan usulan itu.Sebut saja, Jawa Timur, DKI Jakarta, Sumatera Utara (Sumut), sampai Sulawesi Selatan (Sulsel).Mereka beralasan bahwa  di seluruh dunia tak ada batasan usia karateka di nomor kumite dan KATA,’’ jelasnya.

Selain itu, kata dia, usulan itu akan membawa ‘korban’ atlet andalan daerah.Di mana atlet senior Jatim yang mempunyai peluang besar meraih emas bakal terdepak, salah satunya adalah Umar Syarief.’’ Kalau ini jadi diterapkan, maka Umar Syarief tak bisa ikut berpartisipasi.Ini yang membuat Jatim berontak saat Rakernas kemarin,’’ papar dia.’’ Memang usulan pembatasan usia belum diputuskan sebab PB Forki masih melakukan berbagai pertimbangan.Namun, saya berharap pembatasan usia bisa diterapkan saat PON nanti,’’ katanya berharap.

Hal berbeda diungkapkan Beni Muskitta, Pelatih Karate Maluku.Menurutnya, bila PB Forki memutuskan adanya pembatasan usia di PON, maka beberapa atlet andalan Maluku, seperti Benjamin Muskitta dan Agustinus Tanamal dipastikan absen karena batas usia mereka sudah tidak memenuhi syarat.’’ Keduanya (Muskitta dan Tanamal) tidak memenuhi syarat bila PB menerapkan pembatasan usia di PON,’’ beber dia.

Muskitta berpendapat, regulasi yang akan diterapkan di PON nanti sangat bertentangan dengan regulasi yang diterapkan dalam SEA Games, Asian Games, atau pun Olimpiade.Harusnya, batasan usia yang akan diterapkan PB Forki adalah 30 tahun untuk atlet nomor kumite (pertarungan bebas) dan 35 tahun pada nomor KATA (kerapihan teknik).

’’ Konsep penyelenggaraan PON adalah pencarian kandidat atlet yang akan ditampilkan dalam SEA Games, Asian Games, serta Olimpiade.Karena itu, regulasi yang diterapkan dalam PON hendaknya mengacu pada regulasi yang diterapkan dalam tiga multieven internasional tersebut,’’ jelas Muskitta.

Dikatakan, perlunya regulasi PON diselaraskan dengan regulasi SEA Games, Asian Games, karena untuk menjaga potensi kontingen merah putih dalam mempertahankan prestasinya pada tiga event internasional tersebut.’’ Prestasi atlet tidak hanya bergantung pada kualitasnya berkompetisi di tingkat nasional, tapi juga sangat ditentukan oleh jam terbang atlet tersebut.Olehnya itu, jangan ada pembatasan usia di event empat tahunan tersebut,’’ katanya.

Selain itu, PB Forki hendaknya juga jujur dalam memandang penyelenggaraan PON ini sebagai kalender KONI Pusat.Bukan kalender PB Forki, sehingga soal regulasi batasan usia itu jangan dipaksakan, karena resikonya terhadap perusakan sistem pembinaan di daerah sangat besar.

’’ Kalau ingin menerapkan regulasi batasan usia, maka  hendaknya dilakukan hanya sebatas pada kalender kegiatan nasional yang menjadi milik PB. Misalnya Kejurnas Piala Mendagri, Kejurnass Piala KSAD, Kejurnas Piala Mendikbud, atau pun kalender kegiatan lain,’’ usulnya.

Belum diputuskan regulasi di PON, tambah Muskitta, membuat penjaringan atlet menuju Pra PON berjalan tidak maksimal.’’ Kami masih menunggu putusan dari PB.Apa pun keputusannya, kami harus siap menjalankan.Sejatinya, karateka Maluku  siap tempur di Pra PON maupun PON,’’ demikian Muskitta. (ZAL)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!