Sastra Kurang Mendapat Ruang – Ambon Ekspres
GMGM

Sastra Kurang Mendapat Ruang

PEKAN Gerakan Indonesia Membaca dan Menulis se-Kota Ambon yang diselenggarakan Kantor Bahasa Provinsi Maluku kali ini menfokuskan kegiatan di SMP Negeri 14 Ambon. Sebelumnya kegiatan serupa dilakukan untuk tingkat SMA.

Kegiatan tingkat SMP ini dilakukan dengan Pelatihan Penulisan Teks dan Workshop Menulis Cerpen serta Lomba Membaca Puisi dan Lomba Baca Berita Televisi juga melibatkan guru Bahasa Indonesia dan siswa SMP Se-Kota Ambon.

Lomba baca puisi sendiri berlangsung meriah. Menurut Rudi Fofid, sastrawan Maluku yang turut menjadi juri lomba puisi, anak-anak Maluku mempunyai talenta dan bakat tapi kurang terasah. “Seni di Maluku berkembang luar biasa. Hanya saja kurang mendapatkan ruang untuk sastra.

Jika saja sastra mendapat ruang yang sama dengan musik, Maluku juga akan menjadi gudang sastrawan. Dari sekolah-sekolah sebelumnya, terlihat bahwa bakat-bakat ini belum terasah. Hanya persoalan teknik saja yang kurang. Kemampuan dan semangat sudah ada,” terangnya.

Jumlah peserta yang ikut berkompetisi mengalami peningkatan dari penyelenggaraan lomba sebelumnya. “Mereka juga tertib dalam berkostum dan berpenampilan, tidak ada yang demam panggung,” ujar Rudi.
Lebih lanjut dia menegaskan kalau, baca puisi ini paling gampang. Tidak seperti musik dan lukis yang butuh alat, puisi hanya perlu dibacakan.

“Tapi kenapa justru yang murah ini kurang mendapat perhatian? Syukurlah ada Kantor Bahasa, sanggar sastra, komunitas sastra, dan universitas yang membina dan mengembangkannya,” katanya.
Sementara dari kelas Penulisan Teks, kegiatan diisi dengan pelatihan membuat essay. Para guru yang menjadi peserta tampak bersemangat dengan pengalaman dan pengetahuan baru.

Hasilnya, baru berlangsung empat jam pelatihan, peserta sudah mampu membuat sebuah karya tulis dengan berbagai macam jenis teks.

Prof. Dr. Suyatno, M.Pd, dari Universitas Negeri Surabaya yang menjadi narasumber mengungkapkan kekagumannya. “Ada peningkatan pemahaman tentang teks dan cara mengajarkan pembelajaran menulis,” katanya singkat.

Kepala Kantor Bahasa Provinsi Maluku, Toha Machsum, M.Ag., mengungkapkan kemampuan menulis teks sangat penting bagi guru bahasa Indonesia karena akan mendukung kesiapan guru bahasa Indonesia dalam melaksanakan pembelajaran menulis bagi siswa. Selain itu, juga akan menunjang kemampuan guru dalam menulis karya ilmiah.  Menulis karya ilmiah sangat penting bagi guru.

Penting, mengingat bahwa saat menulis karya tulis ilmiah, guru dapat merefleksikan pengalamannya. Juga dapat dengan mudah, untuk naik ke golongan berikutnya. Ada sekitar 800.000 guru kesulitan naik pangkat ke golongan berikutnyah putus asa, tidak lagi mau mengurus kenaikan pangkat.

Bahkan, kata dia, ada guru yang sudah lima tahun terhenti pada golongan IV A. ‘’Banyak guru yang pangkat dan golongannya terhenti pada IV A. Para guru tidak mampu memenuhi persyaratan membuat karya tulis ilmiah. Hal itu disebabkan para guru masih lemah dalam penulisan karya ilmiah dan minim bimbingan,” terangnya. (ADI)

Most Popular

To Top