Wow, Siswa Menulis Diatas Pohon – Ambon Ekspres
Pendidikan

Wow, Siswa Menulis Diatas Pohon

Cari Inspirasi di Pelatihan Menulis

Pekan Gerakan Indonesia Membaca dan Menulis di Kota Ambon dan Maluku Tengah yang digelar Kantor Bahasa Provinsi Maluku yang berlangsung delapan hari ditutup kemarin. Sekolah terakhir yang dikunjungi SMA Negeri 1 Leihitu.

Seperti hari-hari sebelumnya, acara dilangsungkan serempak, yaitu Pelatihan Penulisan Berbagai Jenis Teks bagi Guru, Pelatihan Penulisan Cerpen bagi Siswa, Lomba Baca Puisi dan Membaca Berita Televisi bagi Siswa.
Kelas Penulisan Teks meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta. Djahra Lating, S.Ag., guru SMA Muhammadiyah Mamala, menuturkan menulis itu ternyata mudah.

“Kegiatan ini membuka pola pikir saya bahwa menulis itu menyenangkan dan tidak sulit. Materi yang diberikan sangat terstruktur sehingga memudahkan peserta. Saya merasa luar biasa,” ujarnya.

Djahra melanjutkan, pola pembelajaran dari pemateri Kantor Bahasa sangat baik. “Yang terpenting adalah ketepatan memilih metode sesuai objek pembelajaran. Semoga bisa kami praktikan nanti dalam interaksi dengan siswa di sekolah,” lanjutnya.

Bersama peserta lain, Djahra berpesan agar Kantor Bahasa lebih sering mengadakan kegiatan serupa. “Terutama pada Bulan Bahasa, agar gaungnya lebih meriah,” tutupnya.

Sementara itu, suasana semarak datang dari Lomba Membaca Berita Televisi yang diadakan di lapangan sekolah. 50 peserta yang berlomba disaksikan langsung seluruh siswa dan guru sehingga tiap penampilan terasa riuh.

Devi bin Umar dari TVRI yang menjadi juri lomba mengakui ada perbedaan kualitas antara siswa di Kota Ambon dan Leihitu. “Karena pengaruh lingkungan, pembacaan berita terpengaruh dialek lokal. Mimik peserta juga terlihat kaku karena terlalu berfokus pada naskah. Tapi, semangat dan motivasi peserta sangat bagus. Mereka berani dan mau mencoba,” jelasnya. Dia menambahkan, sangat salut dengan siswa Leihitu. “Jumlah peserta mereka terbanyak, sangat antuasias.,” ujarnya melengkapi.

Sementara Kepala Kantor Bahasa Toha Machsum, M.Ag., menuturkan bahwa tugas selanjutnya ada di tangan guru. “Tugas guru adalah mengajarkan kepada siswa apa yang sudah diperoleh dalam kegiatan ini. Guru harus

mentransfer ilmu kepada siswa di sekolah masing-masing,” terangnya.
Tantangan dan tugas guru berikutnya adalah bagaimana guru, khususnya guru bahasa Indonesia mengubah paradigma menulis sebagai sebuah kegiatan yang memberatkan menjadi sebuah kegemaran dan aktivitas yang menyenangkan. Selama ini pembelajaran menulis masih dilakukan secara tradisional dengan menekankan pada hasil tulisan bukan pada proses yang seharusnya dilakukan.

Di sekolah siswa langsung menulis tanpa belajar cara menulis yang baik. ‘’Para guru biasanya sudah menyediakan beberapa judul. Siswa harus memilih salah satu dan  diminta untuk langsung praktik menulis. Setelah selesai hasil dikumpulkan, dikoreksi, dan dinilai tanpa evaluasi. Model pembelajaran seperti ini  membuat siswa bosan dan jadi kurang suka menulis,’’ ingatnya.

Sementara itu, dari kelas cerpen, siswa dibebaskan untuk mencari inspirasi di lingkungan sekitar. Kesempatan itu dipakai siswa untuk menulis di halaman, di hutan sekitar sekolah, bahkan sampai ke atas pohon. (ADI)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!