Satu Tersangka Kembali Dibui – Ambon Ekspres
Trending

Satu Tersangka Kembali Dibui

AMBON,AE— Direktur PT Fibrit Fiberglass, SR, akhirnya dijebloskan ke Rumah Tahanan (Rutan) Waiheru, setelah ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksan Tinggi (Kejati) Maluku, dalam kasus pengadaan dua kapal tangkap ikan di Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Maluku. Kini sudah tiga tersangka yang dibui dalam kasus ini.

Sebelum ditetapkan sebagai tersangka, kontraktor SR terlebih dahulu menjalani pemeriksaan di Kejati Maluku. SR diperiksa sebagai saksi, kemudian ditetapkan sebagai tersangka. Pantauan koran ini Selasa kemarin, di kantor Kejati Maluku, SR diperiksa sejak pukul 10.00 hingga pukul 17.00 Wit, dan didampingi tim Penasehat Hukum Adolof Saleky SH.

SR yang berkediaman di ibukota Jakarta ini mengenakan kemeja putih. Dia tampak tenang menjawab puluhan pertanyan yang dilontarkan penyidik. Setelah kurang lebih 7 jam diperiksa, akhirnya pria paruh baya ini digiring ke Mobil tahanan operasional Kejati Maluku yang berpelat nomor DE 8241 AM. Raut wajah tegang, tampak terlihat ketika yang bersangkutan menaiki mobil tahanan.

Kasipenkum dan Humas Kejati Maluku, Bobby Kin Palapia mengatakan, SR ditetapkan sebagai tersangka, setelah penyidik mengantongi dua atau lebih alat bukti. Sehingga, setelah diperiksa sebagai saksi, akhirnya ditetapkan sebagai tersangka. “Penetapan tersangka terhadap direktur PT Fibrit Fiberglass, dengan nomor sprindik 14/S.1/Fd.06/2015 tertanggal 09 Juni, “kata Palapia.

Palapia menjelaskan, penahanan terhadap SR dilakukan berdasarkan beberapa pertimbangan. Yang pertama, sesuai mekanisme UU Pasal 20 dan 21 KUHP. Karena tersangka berdomisili di Jakarta, sehingga perlu ditahan agar memudahkan proses penyidikan. Alasan lain, agar tersangka tidak melarikan diri, atau menghilangkan barang bukti.

Palapia menjelaskan, dalam kasus pengadaan dua kapal penangkap ikan berkapasitas 15 GT dan 30 GT, SR bertindak selaku Sub kontraktor untuk pengadaan dua unit kapal 15 GT dan 30 GT. Nilai anggaran dua kapal ini Rp 10 Miliar lebih. Berdasarkan hasil penyidikan, lanjutnya, penyidik menemukan bahwa ada kekurangan volume pekerjaan. Sehingga, menimbulkan adanya kerugian negara.

Selain SR, penyidik juga memeriksa bendahara panitia pemeriksa barang, ST, sebagai saksi.
Sementara itu, penasehat hukum SR, Adolof Saleky mengatakan, menghargai proses hukum yang berlanjut.

Karena hal itu merupakan kewenangan jaksa. Namun, tidak menutup kemungkinan untuk pihaknya melakukan upaya hukum. “Yah, ini kan merupakan kewenangan jaksa. Dan kita ikuti saja prosesnya. Yang pasti, upaya hukum akan kami lakukan, “ singkatnya. (AFI)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!