Dokumen Tidak Lengkap, Pencairan Dana Tetap Diproses – Ambon Ekspres
Lintas Pulau

Dokumen Tidak Lengkap, Pencairan Dana Tetap Diproses

Terkiat Sidang Korupsi Proyek Jembatan Gaa

AMBON,AE—Saksi bendahara proyek Jembatan Gaa, Nur Ainy Palembang mengaku, proses pencairan dana proyek tetap dilakukan walaupun syarat-syarat pencairan dana tidak lengkap. Pengakuan bendahara proyek tersebut, terungkap pada sidang lanjutan kasus dugaan korupsi proyek pembangunan Jembatan Gaa di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) di Pengadilan  Negeri (PN) Tipikor Ambon, kemarin. Sidang dipimpin hakim ketua Mustary SH, didampingi hakim anggota Ahmad Bukhori SH dan Edy Sepjangkaria SH.
Sidang beragendakan mendengarkan keterangan saksi. Menurut keterangan saksi Nur Ainy Palembang, Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) yang sekaligus merangkap Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK), Almarhum Mochsin Albram bersama Beder Aziz Alkatiri yang memproses pencairan dana. “Jadi saat itu, KPA dan kontraktor yang datang kepada saya untuk memproses pencairan dana seratus persen,” kata saksi dihadapan majelis hakim.
Menurutnya, ada dokumen pencairan dana yang tidak lengkap. Namun, saat itu, KPA mengatakan, dokumen yang belum lengkap berupa dokumentasi itu, ada padanya. Atas pernyataan dari KPA itu, maka saksi memproses pencairan dana tersebut. “Jadi ada dokumen yang tidak lengkap, yaitu dokumentasi foto hasil pekerjaan. Saat itu, saya tanya dokumentasi itu, lalu pak Mochsin bilang kalau dokumentasi ada pada beliau. Dan beliau katakan proses saja pencairannya, nanti beliau lampirkan belakangan,” kata saksi.
Saksi juga mengatakan, Surat Perintah Pembayaran (SPM) ditandatangani oleh Pengguna Anggaran, yakni Kadis PU SBT, Nurdin Mony.
Sementara itu, saksi M Yusril Rohim selaku konsultan pengawas mengatakan, ketika diminta oleh pihak kejaksaan untuk turun memeriksa, ternyata pekerjaan baru separuh dilaksanakan. Bahkan jembatahn tersebut mengalami pergeseran, karena tiang pancang ditanam tidak terlalu dalam. “Jadi ada banyak sekali item yang belum dikerjakan. Misalnya panjang jembatan 40 meter dan dasar jalan yang baru dikerjakan hanya 20 meter, sementara 20 meter belum. Selain itu, terjadi pergeseran, karena tiang pancang tidak ditanam terlalu dalam maka terjadi penurunan,” kata saksi.
Saksi mengatakan, ketika turun melakukan pemeriksaan, dia didampingi tim dari Kejati Maluku tahun 2014. Sementara yang menjadi konsultan pengawas ketika proyek ini berjalan yakni teman satu perusahan saksi. Saksi sendiri baru bekerja di perusahan CV Nurlita Konsultan pada tahun 2010. Jadi ketika proyek ini berlangsung tahun 2007, saksi belum berada di perusahan tersebut.
Majelis hakim kemudian menutup sidang, dan akan dilanjutkan pekan depan, dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi lain. (AFI)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!