Normal, Tapi Waspada – Ambon Ekspres
Trending

Normal, Tapi Waspada

Soal Musim Penghujan

AMBON, AE— Kepala Stasiun Meteorologi Pattimura Ambon George Mahubessy, mengatakan curah hujan untuk bulan Juni sampai Juli masih berstatus normal sekitar 600 mili meter (mm) ke bawah. Kota Ambon masih diuntungkan dengan adanya Gejala El Nino yang masih berlangsung. Namun perlu diwaspadai gelombang tinggi dikisaran 3 hingga 4 meter, yang berada di sebelah Selatan Maluku dari Australia dan gelombang rendah yang berada di atas Papua.

ebenarnya musim hujan normal di Ambon dan sekitarnya, diukur dari jumlah curah hujan rata-rata bulan Juni itu 600 mm per bulan. Baru sekitar 100 mm keatas, dan masih ada beberapa ratus mil lagi yang belum jatuh. Namun secara analisis ada tekanan rendah dari atas Papua yang membuat angin kencang, terutama dari Australia menuju Ambon dan sekitarnya. Yakni gelombang tinggi dari arah Selatan Maluku.

Akibat tekanan rendah ini, menarik masa udara dari Australia dan bertumpuk menjadi awan atau angin di Kota Ambon dan sekitarnya. Wilayah tersebut termasuk musim timur, dan membentuk banyak hujan,” urai Mahubessy, kepada Ambon Ekspres di ruangannya, Kamis (11/6).

Dia menilai, hujan saat ini belum dikategorikan deras, karena masih belum seberapa. Yakni cenderung dibawah normal. Dan bisa disebabkan pengaruh dari gejala El Nino yang memungkinkan tidak terjadinya musim penghujan diatas status normal.

Untuk gelombang sendiri yang telah dipantau BMKG, masih Nampak tanda merah yang artinya masih berada pada 3 sampai 4  meter dari arah Australia lewat bagian Selatan Maluku yang tekanan atau udara didorong keluar. Sementara dari arah Papua ada pula tekanan rendah yang sistim tekanannya bersifat menghisap udara.

“Karena didorong dan dihisap, maka kencang. Dan akibat kencang inilah yang membuat gelombang menjadi tinggi. Jadi itu yang dikhawatirkan dengan kondisi saat ini. Karena angin di Maluku bagian Selatan cukup kencang, maka gelombang hingga sekarang ini tinggi hingga 3-4 meter,” terangnya sambil menunjuk layar monitor cuaca.

Sementara untuk gejala El Nino sendiri, Mahubessy menjelaskan, dengan analisa BMKG mengindikasikan bahwa El Nino masih akan terus berdampak untuk Kota Ambon dan sekitarnya. Artinya masih panjang terjadi proses alamnya.

Kemungkinan, dilihat dari gejala alam, masih relatif stabil atau masih terus memanas. Kata dia, jika diteliti lagi, adanya gejala El Nino membuat curah hujan di Kota Ambon dan sekitarnya dibawah normal sesuai penelitian.

“Indikasinya di suhu laut, karena lambat suhu panasnya. Naik terus suhu laut di Pasifik Barat terus secara perlahan, yang bisa berlangsung hingga berbulan-bulan. Makanya diperkirakan untuk Juni-Agustus kalau tidak ada perubahan maka akan berlangsung panas terus. Karena jika panas, efeknya kita disini kurang hujan,” ucap dia.

Menurutnya, dengan hadirnya El Nino  dampak yang paling terasa di Kota Ambon dan sekitarnya tidak seperti atau sehebat musim biasanya. Karena kalau musim hujan normal yakni 600 mm, maka kehadiran El Nino bisa menurunkan musim penghujan di bawah status normal.

Untuk perkembangan cuaca kedepan, Mahubessy pastikan, akan terus melakukan pemantauan setiap saat. Sehingga jika terjadi perubahan suhu atau naik turunnya suhu akan segera disampaikan kepada masyarakat. Akan tetapi, jika suhunya mengalami penurunan, akan dipastikan untuk Bulan Juli mendatang curah hujan akan tetap normal.

“Kalau bulan ini saya rasa tidak terlalu dikhawatirkan, kalaupun nanti ada perkembangan maka itu kita langsung infokan. Karena kita tidak bisa sepenuhnya menjamin, karena bisa saja terjadi perubahan secara tiba-tiba, karena ini soal pengaruh alam,” ingatnya.

Terpisah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Maluku, Farida Salampessy ketika dikonfirmasi menambahkan, tingginya gelombang, masyarakat harus waspada. Sekalipun pengaruh cuaca masih berstatus normal, perlu ada sikap antisipasi jika ada terjadi perubahan suhu atau cuaca.

Menurutnya, antisipasi terhadap gelombang perlu diketahui masyarakat pesisir, sekalipun cuacanya dibawah status normal. Untuk itu, kata dia, perlu ada sikap waspada, dan bukan pada gelombang saja, tetapi pada musibah banjir walau masih berstatus dibawah normal.

“Jangan lupa untuk menata daerah aliran sungai dari hulu ke hilir secara terpadu, bangun sistim pemantauan, memasang pompa penghalang ombak bagi daerah yang lebih rendah dari permukaan laut. Dan bagi keluarga, buat dinding penghalang banjir, amankan dokumen penting dan benda berharga lainnya dan buat rencana penyelamatan,” saran Salampessy.

Dirinya mengimbau, masyarakat perlu ada persiapan atau antisipasi walaupun musim penghujan tidak sebesar yang diperkirakan. Namun keselamatan lebih penting dalam mengantisipasi terjadinya bencana banjir.

“Perlu ada langkah persiapan, jika telah memasuki musim penghujan. Karena musibah banjir bisa terjadi bukan saja pada saat terjadinya hujan yang berkepanjangan saja, tetapi dari pengaruh air pasang ditambah dengan volume aliran sungai yang sangat rendah atau terjadi penyumbatan pada saluran-saluran air atau drainase. Maka masyarakat harus tetap waspada,” kata dia. (ISL)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!