MUI Minta THM Ditutup Selama Ramadhan – Ambon Ekspres
Metro Manise

MUI Minta THM Ditutup Selama Ramadhan

AMBON, AE— Pemprov Maluku diminta untuk melayangkan surat resmi kepada pemilik Tempat Hiburan Malam (THM) di Maluku khususnya Kota Ambon yang lokasinya berdekatan dengan pemukiman muslim untuk bisa menutup usahanya selama bulan ramadhan. Selain itu, bagi pemilik warung atau rumah makan yang berada di sekitar wilayah muslim untuk tidak beraktivitas di siang hari. Hal ini disampaikan anggota komisi dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ustad Arsal Tuasikal kepada Ambon Ekspres, kemarin.

enurutnya, bagi para pemilik THM maupun tempat usaha makan agar bisa lebih menghargai masyarakat muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan. “Intinya, kami minta agar pemerintah daerah bisa membantu menciptakan suasana puasa yang lebih baik dengan menutup sejumlah THM yang dinilai mengganggu suasana beribadah bagi umat muslim di bulan Ramadhan. Kami minta pemerintah segera mempersiapkan dan mengambil langkah atau kebijakan demi kelancaran beribadah,” pinta Tuasikal.

Selain THM, Tuasikal menilai, pemerintah dan pihak kepolisian perlu ikut menertibkan peredaran minuman keras (miras) khususnya di Kota Ambon dan sekitarnya. Karena miras sudah dilarang oleh pemerintah lewat menteri perdagangan. “Kami para ulama meminta, agar pemda dan kepolisian bisa menertibkan peredaran miras selama Ramadhan, karena ini sudah dilarang. Dan kami juga menghimbau agar para pemilik warung dan cafe, untuk tidak membuka sebelum sore hari. Karena jika buka disiang hari, akan mengganggu suasana beribadah. Dan juga bagi masyarakat untuk bisa menjaga suasana ketika sedang beribadah,” tegasnya.

Namun bagi THM dan tempat usaha makan yang jauh dari wilayah muslim (non Muslim), Ketua Badan Imarah Muslim Maluku ini menilai tidak bisa melarang begitu saja. Karena sebagian besar komunitas yang berada di sekitarnya tidak berpuasa. Maka tidak mendasar untuk alasan penutupan THM maupun tempat usaha makan lainnya.  “Bagi THM dan tempat usaha makan lainnya yang berada di dekat kawasan atau permukian wilayah muslim, harap bisa mengharagai untuk tidak melakukan aktivitas selama sebulan penuh. Misalnya di Amplas, Di Pantai Mardika dan sekitarnya. Namun bagi yang non muslim kami tidak bisa melarang penuh. Karena sebagian besar komunitas tidak berpuasa,” jelasnya.

Sementara itu, bagi pemilik tempat usaha yang tidak mengindahkan himbauan tersebut dan masih tetap membuka THM dalam suasana puasa, lanjut dia, maka MUI akan segera menyurati pihak kepolisian dan pemerintah untuk segera melakukan razia. Bagi yang kedapatan membuka THM dan dinilai mengganggu suasana ibadah warga sekitar, maka harus ditindak tegas.

Tuasikal berharap, jika awal Ramadhan dan jelang Idul Fitri terjadi perbedaan, maka hal ini adalah wajar dan tidak perlu untuk menjadi polemik di masyarakat. Karena saat ini para ulama lebih mengharapkan awal Ramadhan bisa sama. Namun, jika memang telah ditetapkan dan ada perbedaan, maka tidak perlu dipersoalkan, karena tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar. “Kalau memang ada perbedaan maka tidak ada yang salah dan benar. Semuanya berdasarkan perhitungan masing-masing. Kira-kira 18 Juni, kalau melihat sahbanya 30 hari berarti jatuhnnya pada tanggal 18 . Tetapi kalau yang lain merasa sahbannya jatuh pada 29 hari maka kita juga belum tahu. Hari Selasa nanti maka akan ada proses untuk melihat hilal,” pungkas Sekretaris Yayasan Wakaf Masjid Raya Al-Fatah ini.(ISL)

Most Popular

To Top