Pendekatan Budaya, Ciptakan Maluku Damai – Ambon Ekspres
Pesona Manise

Pendekatan Budaya, Ciptakan Maluku Damai

PENDEKATAN budaya dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang terjadi di setiap daerah, sudah menjadi trend. Di Maluku misalnya, wacana tentang pentingnya pendekataan budaya, terutama budaya lokal (pranata adat) sebagai sarana atau media bagi masyarakat maupun pemerintah untuk membangun perdamaian telah diakui secara bersama.

“Pendekatan budaya ini dilakukan   saat rekontruksi dan perdamaian di Kota Langgur, Kei Kecil, Maluku Tenggara pada 2001 lalu,”ujar Josep Antonius Ufi, MA, salah satu pemerhati masalah sosial budaya di Maluku, kepada Ambon Ekspres,belum lama ini.

Menurutnya, peran budaya lokal sebagai sarana untuk menciptakan Maluku yang lebih aman, bisa terdiri dari peran para pemimpin lokal, seperti  para tokoh-tokoh adat (raja-raja) yang masih punya kewibawaan  bagi masyarakatnya.

Sehingga bila ada konflik, penanganan dari para tokok-tokoh atau pemangku adat sangat memiliki peran penting untuk penyelesaian konflik.

“Dan memang pengalaman Kota Ambon dan sekitarnya, baik itu Pemerintah Provinsi atau Pemerintah Kota Ambon dalam menghadapi konflik, selalu melibatkan dan membutuhkan peran dari para tokoh-tokoh masyarakat, pemangku adat budaya lokal.

Sehingga dalam penyelesaian konflik tertentu, peran adat dan budaya sangat efektif untuk menyelesaikan  masalah-masalah yang terjadi di daerah ini,”ujar Josep, yang juga merupakan salah satu dosen Kebudayaan Maluku dan Manajemen Konflik di Fisip, Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon ini.

Dikatakan, mempertahankan budaya lokal ditengah kuatnya perubahan atau pergeseran nilai-nilai budaya akibat pengaruh budaya luar, sangat dibutuhkan peran penting dari pemerintah,  tokoh-tokoh adat  serta masyarakat lokal itu sendiri.

“Kesadaran dari setiap elemen akan keberadaan  peran penting dari budaya lokal menjadi kekuatan untuk membangun perdamaian dalam masyarakat lokal di Maluku ke depan,”paparnya.

Dengan kesadaran masyarakat lokal terhadap kekayaan kebudayaannya  mereka bisa mewariskan, mengsosialisasikan dan kemudian mengfungsikan serta memberlakukan dalam kehidupan sosial di tengah bermasyarakat.

“Contohnya,dengan terus berupaya melestarikan budaya lokal baik itu budaya lokal dalam bentuk material, seperti rumah adat Baileho, Tugu Pusat Desa (woma) di Maluku Tengah, Kecamatan TNS, tempat-tempat bersejarah serta budaya non-material seperti adat istiadat (pranata adat), sistem pengetahuan dan ilmu, norma kelaziman, norma kesusilaan, norma hukum, dan fashion pun menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan,”paparnya. (IWU)

Most Popular

To Top