Aman dari Banjir, Longsor Mengancam – Ambon Ekspres
Trending

Aman dari Banjir, Longsor Mengancam

Saat Hujan Sabtu Dinihari

AMBON,AE— Masyarakat  dihimbau agar  waspada terhadap bencana longsor maupun banjir selama musim panca roba di Indonesia Bagian Timur saat ini. Walaupun kondisi Maluku terkait hujan masih berstatus normal, masyarakat harus tetap waspada.  Rumah warga di beberapa titik di kota Ambon terancam bencana longsor. BMKG memperkirakan hujan lebat masih akan melanda beberapa daerah di Maluku, termasuk kota Ambon

ntuk informasi cuaca, kan sudah disampaikan bahwa hingga Agustus 2015 mendatang, musim hujan akan dibawah normal hingga normal. Maka kita perlu waspada mengantisipasi terjadinya bencana longsor maupun banjir. Karena hingga kini sudah belasan titik longsor,” ungkap Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Maluku Farida Salampessy, Minggu (21/6).

Dikatakan, dengan kondisi cuaca saat ini bisa memicu terjadinya longsor maupun bencana lainnya. Namun terbentuknya pemicu longsor bisa diakibatkan karena peningkatan kandungan air dalam lereng gunung. Sehingga terjadi akumulasi dan akhirnya mendorong butiran tanah untuk longsor. Dan juga gerakan pada lereng akibat gempa bumi ataupun ledakan.

“Ada juga, peningkatan beban melampaui daya dukung, pemotongan pohon di kaki lereng secara sembarangan. Dengan hal-hal seperti itulah butuh langkah persiapan, seperti buat rencana penyelamatan, kenali daerah tempat tinggal, perbaiki tata air. Tanami daerah lereng dengan akar tunggang, tutupi retakan di atas tebing, waspada mata air, jangan dirikan bangunan di lereng rawan longsor. Bahkan, jangan lakukan penggalian disekitar kaki lereng, dan jangan menebang pohon sembarangan disekitar lereng rawan longsor,” urai dia.

Menurutnya, bencana longsor sering terjadi secara tiba-tiba yang diikuti suara gemuruh disertai gerakan masa yang meluncur sangat cepat kebawah bukit menyapu apa yang dilewati. Namun, dirinya menyarankan jika terjadi longsor secara tiba-tiba, maka masyarakat harus tetap waspada jika berada pada kawasan longsor. Kemudian segera evakuasi, jika tebing tersebut telah menunjukan gejala akan longsor. Namun bila tidak dapat menyelamatkan diri, segera mengambil posisi meringkuk seperti bola dengan melindungi atau menutup kepala.

Salampessy menyarankan,  warga bisa mengantisipasi  banjir, karena dengan curah hujan yang cukup tinggi maka permukaan tanah lebih rendah dibandingkan muka air laut.

“Setiap orang harus tetap waspada dengan kemungkinan bencana banjir ini. Dengan menata daerah aliran sungai dari hulu ke hilir, secara terpadu. Membangun sistem pemantau dan peringatan dini bagi daerah yang sering terjadi banjir. memasang pompa dan penghalang ombak untuk daerah yang lebih rendah dari permukaan laut. Dan jangan membangun rumah di bentaran sungai,” terangnya.

Salampessy mengingatkan, jika terjadi banjir, maka warga perlu melakukan langkah-langkah seperti, segera mematikan aliran listrik didalam rumah dan hubungi petugas PLN untuk matikan aliran listrik. Kemudian, warga juga tidak lupa untuk segera mengamankan barang-barang berharga ke tempat lebih tinggi. Bila perlu, lanjut dia, warga pergi mengungsi ke daerah yang lebih tinggi, sedini mungkin.

Sejumlah lokasi di kota Ambon  yang pernah dilanda bencana banjir dan longsor akibat  musim hujan  pada dua tahu lalu, diantaranya di kawasan batu merah dalam,  batu Gajah, SKIP,  RT 25 RW 005 kompleks Barito desa Paso, tidak kena dampak  yang besar dari curah hujan lebat pada  Jumat (19/6) malam. Tidak ada luapan air dari kali dan longsor, namun warga tetap waspada.

Sejumlah warga yang ditemui mengakui, memasuki musim penghujan tahun ini mereka tidak terlalu khawatir, karena pemerintah telah melakukan pengerukan, membangun talud, dan  Sabo Dam.

Hujan deras  pada Jumat malam itu memang membuat kali batu merah meluap. Di RT 003 RW 14 kawasan  kepala air, batu merah dalam air telah meluap ke luar kali. Namun tidak sampai menggenangi rumah warga.

“Beda dengan tahun lalu,  air di kali cepat naik dan meluap. Tapi  untuk tahun ini, agak lambat. Mungkin karena pemerintah sudah perbaiki tanggul (dam), jadi sudah aman. Tapi, kalau hujan malam itu ( Jumat malam-red) bertahan sampai 3 atau 4 jam lagi, mungkin bisa banjir lagi. Makanya, kita tetap waspada,” ungkap Saman Kholep, warga desa batu merah yang berdomisili di kawasan batu merah dalam.

Kawasan Batu Merah juga rawan bencana longsor, namun untuk  tahun ini, tidak terjadi. Kendati begitu, warga yang tinggal di bawah lereng gunung, tetap waspada. Kondisi yang tidak berbeda juga terjadi di  beberapa titik di Desa Passo yang rawan bencana banjir saat musim hujan.

“Di sini biasanya kalau hujan deras, kita kena banjir. Tapi sekarang talud di kali sudah di bangun lebih tinggi. Sehingga, air di kali saat hujan  deras pada hari Jumat malam, itu tidak sampai meluap ke luar kali. Jadi, kami di sini bersyukur karena aman-aman saja,” kata Lisa, warga Desa Passo, kemarin.

Di Wae Roman I Desa Passo, selain talud, juga dibangun Sado Dam setinggi hampir 7 meter. Sebelumnya, kali Roman I selalu meluap setiap musim hujan, sehingga bencana banjir sulit dihindari warga sekitar, diantaranya warga yang mendiami kompleks Barito, kawasan Terminal Transit Passo, hingga di jalan Gang Raja RT 23 RW 005. “Untung saja, talud dan gorong-gorong sudah dibangun. Kalau tidak, wah mungkin kita di sini terendam lagi,” kata Lina Renjaan, warga Jalan Gang Raja RT 23 RW 005 Desa Passo.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kota Ambon Riko Matitaputty menguraikan, hujan yang yang terjadi sejak 19 Juni (Jumat sore) dan berlanjut hingga 20 Juni dini hari, telah mengakibatkan 9 titik lokasi longsor untuk Kota Ambon.

Berdasarkan hasil pantauan Badan Penaggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Ambon, ada beberapa titik lokasi yang mengalami longsor dan mengancam sejumlah ruah warga, diantaranya di  kawasan air Kuning RT.005/RW.18 desa batu merah, 4 rumah terancam, RT.001/RW.14  desa Batu Merah 2 rumah terancam. Dan di  kawasan BTN Kanawa, 2 rumah terancam.

Sementara di kawasan  Batu Gajah Atas, RT.004/RW.04,  1 rumah terancam. Di Kampung Baru, RT.006/RW.02, Desa  Passo, 3 rumah terancam. Kemudian kawasan Karan Panjang  3 rumah terancam. Dan Kayu Putih depan Aspol, mengancam 7 rumah di bawahnya.

“Tidak ada korban jiwa, seluruh lokasi sudah dibantu dengan terpal dan karung sesuai kebutuhan. Dan BPBD telah membentuk posko 24 jam. Jadi tim akan melakukan pemantauan segera, setelah mendapat informasi dari kelompok kerja (Pokjak, red) maupun masyarakat. Jadi kami kerjasama dengan Pokja yang kami bentuk disetiap kecamatan. Dan pada saat kejadian mereka akan memberikan informasi dan langsung akan turun ke lapangan untuk melihat dan memastikan secara jelas,” ungkap Riko ketika dikonfirmasi koran ini via seluler, Minggu (21/06).

Sementara untuk bencana banjir, Riko mengaku, tidak ada terjadi bencana banjir untuk sementara ini. Namun, lanjut dia, jika memang sudah ada lokasi yang mengalami banjir-banjir kecil, maka dipastikan karena saluran-saluran air yang mengarah ke sungai macet.

“Jika memang saat ini ada terjadi banjir kecil-kecil, itu mungkin masuk genangan biasa. Karena tidak ada yang melewati batas dinding sungai. ini dipastikan lewat saluran. Kemarin, posisi hujan saya pantau, banyak penyebabnya saluran tersumbat. Itu selalu karena masyarakat buang sampah sembarangan. Jadi jika banjir itu jangan kaget. Karena harusnya masyarakat bisa tau jika membuang sampah sembarang maka terjadi banjir. Maka, harap bagi warga untuk membuang sampah tepat pada jamnya. Dan jangan jadikan sungai sebagai tempat yang praktis untuk membuang sampah,” pesannya.

Sekretaris Palang Merah Indonesia (PMI) Maluku Herry Latuheru membenarkan informasi tentang beberapa titik longsor. Sesuai hasil pantauan Palang Merah Indonesia (PMI) longsor sudah terjadi  di RT. 004/04 Kelurahan Batu Gajah, kelurahan Batu Meja RT.001/05, lokasi Bere-Bere, Batu Merah Tanjung yang longsoran  kearah jalan bawah. Dan beberapa titik jalan pintas seperti di Gunung  Hatalai, Naku, Kilang, Hukurilla. Namun tidak sampai mengakibatkan warga mengungsi atau korban jiwa..

Kepala Badan Meteorologi Klimatolgi dan Geofisikan (BMKG) Pattimura Ambon George Mahubessy telah mengupdate peringatan dini terhadap cuaca sejak 19 Juni,  sekitar pukul 19.30 WIT.

Ditanya tentang intensitas hujan beberapa hari ke depan, Mahubessy mengatakan, pihaknya baru dapat memperkirakan cuca hingga pada tanggal 22 Juni.Mahubessy mengatakan,  kondisi cuaca umumnya berawan hingga hujan. Namun peluang hujan ringan sampai lebat terjadi di Pulau Ambon, Pulau Seram, Pulau Geser, Pulau Banda, Pulau Buru, Kepulauan Kai dan Kepulauan Aru.

“Umumnya berawan, peluang hujan ringan. Hujan lebat terjadi di Pulau Ambon, Pulau Seram, Pulau Geser, Pulau Geser, Pulau Buru, Banda, Aru, Tanimbar, dengan arah angin rimur ke selatan, kecepatan rata-rata 10 sampai 40 kilomter per jam,” katanya. (ISL/MAN)

Most Popular

To Top