Pengamat: PDIP Tetap Pilih Tagop-Ayub – Ambon Ekspres
Trending

Pengamat: PDIP Tetap Pilih Tagop-Ayub

AMBON,AE— Keinginan Ketua DPC PDI Perjuangan Buru Selatan, Samy Latbual agar diakomodir sebagai calon wakil bupati mendampingi Tagop Sudarsono Solisa, dinilai sebagai bentuk pemaksaan kehendak. Disisi lain, Samy juga dinilai sudah layak menggantikan posisi Ayub Saleky yang masih dipilih Tagop sebagai wakilnya untuk Pilkada tahun ini.

Pengamat politik Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) Cost Sahanaya, menilai, PDIP punya alasan rasional untuk  memberikan rekomendasi kepada Tagop dan Ayub. Kalaupun ada keraguan, karena pertimbangan masa depan partai berlambang banteng itu di Bursel.
“Pertimbangan yang pertama, mereka berdua (Tagop-Ayub) ini kan calon incumbent. Mereka punya pengalaman birokrasi selama lima tahun. Dan yang terpenting adalah kesukaan masyarakat terhadap dua calon ini,”papar Sahanaya di kantor Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) UKIM, Selasa (30/6).

Justru dia menilai, tarik ulur penetapan rekomendasi PDIP untuk Pilkada Bursel, disebabkan pemaksaan kehendak dari Samy Latbual untuk menjadi calon bupati mendampingi Tagop. Alasannya, ia merupakan kader yang didukung secara kolektif oleh infrastruktur PDIP Bursel.
“Terkesan ada pemaksaan kehendak dari Samy. Pasalnya, dari hitungan politik, Tagop dan Ayub justru lebih berpeluang menang dibandingkan Tagop berpasangan dengan orang lain,” paparnya.

Perlawanan Samy dan pengurus PDIP Bursel terhadap arah penentuan rekomendasi, termasuk ancaman pemboikotan dan keluar dari PDIP, menurut dia, akan dimentahkan oleh peringatan dan sanksi partai. Samy, kata dia, akan berpikir panjang dengan sikapnya itu, karena masih punya kesempatan lain untuk berkarier di pemerintahan atas dukungan PDIP.

“Itu karena luapan emosional saja. Biasanya kalau keinginan orang tidak tercapai, maka tindakan apa saja bisa dilakukan. Partai sudah pengalaman soal hal seperti ini. Samy juga akan berpikir dua kali kalau mau keluar dari PDIP bila tidak diakomodir jadi wakil. Dan kalau Samy keras, saya pikir akan dikenai sanksi partai,” ujar magister ilmu politik dan pemerintahan Universitas Gajah Mada (UGM) Yogjakarta itu.
Bahkan lanjut dia, gesekan diakar rumput PDIP, khususnya di Bursel, tidak memengaruhi keputusan DPP nantinya. Ini disebabkan, PDIP sudah punya tolak ukur atau indikator untuk mempertahankan kekuasaan pemerintahan di Bursel, yakni ada pada Tagop-Ayub.

“Tetapi pada akhirnya kekuasaan itu ada di tangan partai. Saya kira ancaman yang disampaikan Samy dan kader PDIP di Bursel, tidak akan memengaruhi keputusan partai untuk memberikan rekomendasi kepada Tagop-Ayub. Saya pikir orang-orang PDIP juga sudah tahu siapa Ayub,”papar dia.

Semantara itu Amelia Tahitu, pengamat UKIM lainnya menilai, justru tidak ada pemaksaan kehendak dari Samy untuk dicalonkan jadi wabup bersama Tagop. Tapi realitasnya, kata dia, Samy yang merupakan Ketua DPC dan Ketua DPRD Bursel itu, punya kualitas dan rekam jejak yang dapat dijadikan landasan untuk diakomodir.

“Saya kira tidak ada pemaksaan kehendak dari Samy untuk menjadi wakil bupati Bursel. Secara logika, bila partai melihat bahwa dia adalah kader terbaik, mengapa tidak dicalonkan bersama dengan Tagop. Jadi tarik ulur ini, lebih ke soal hitungan politiknya,” ungkap Amelia.
Dekan Fisip UKIM ini melihat,  Samy Latbual merupakan kader PDI Perjuangan mempunyai kapasitas yang tidak bisa diragukan. Dari sisi pengalaman, menurutnya, Latbual sudah layak diusung sebagai calon wakil bupati.

“Menurut saya, paket calon dari kader lebih berpeluang menang di Pilkada Bursel. Apalagi demi investasi politik mereka untuk menguasai Bursel selama dua periode. Tentu mereka tidak mau kalah, dalam posisi sebagai penguasa saat ini,”urainya.

Kendati demikian, Amelia menilai, PDIP akan bijak dalam menentukan calon bupati dan wakil bupati Bursel untuk bertarung mempertahankan kekuasaan Desember 2015. Indikator elektablitas tetap menjadi landasan rasional PDIP.

“Olehnya saya pikir PDIP sangat hati-hati dan tidak gegabah mengeluarkan rekomendasi. Karena punya kepentingan di Bursel. Baik di legislatif maupun eksekutif,”akunya.

Selain itu kata dia, capital politic (modal politik) juga menjadi penyebab lambanya PDIP menyetuji calon wakil bupati pendamping Tagop. Bisa saja karena elektablitas Ayub rendah, namun terus diperjuangkan oleh Tagop sebagai calon wakilnya.

“Kalau kita mau lihat Tagop punya kewenangan dan keinginan besar untuk menggandeng Ayub. Namun bila ternyata pak Ayub punya elektabilitas yang rendah, maka inilah yang menjadi persoalan. Itulah politik, semua hal bisa dilakukan untuk mencapai tujuan,”bebernya.

Sekedar tahu, kader banteng di Bursel menginginkan, Tagop didamping Samy jika PDIP ingin merekomendasi incumbent ini. Padahal informasi yang diperoleh koran ini, Tagop tak pernah menginginkan berpasangan dengan Samy.

Tarik ulur inilah yang menyebabkan belum adanya penetapan rekomendasi PDIP untuk Pilkada Bursel. Bahkan, sebagian kader PDIP Bursel mengancam keluar dari kepengurusan partai dan memboikot paket calon yang diusung PDIP, bila Samy tidak dipilih menjadi wakil Tagop.(TAB)

Most Popular

To Top