Usul Mundur, Ros Pimpin Timsel Sekprov – Ambon Ekspres
Trending

Usul Mundur, Ros Pimpin Timsel Sekprov

Koordinator MDV Rizal F. Sangadji

AMBON,AE— Tim seleksi calon sekretaris provinsi Maluku telah dibentuk. Tim diketuai Sekprov Ros Far-Far itu akan mempercepat proses seleksi. Ditargetkan, dalam tahun ini sudah dihasilkan calon Sekprov. Namun, hingga kemarin tim belum menentukan waktu yang pasti untuk memulai proses.

Sumber Ambon Ekspres di kantor Gubernur Maluku menyebutkan, Timsel diminta oleh gubernur untuk bekerja lebih cepat, mengingat sekprov saat ini, Ros Far-Far telah mengajukan pengunduran diri ke Menteri Dalam Negeri ( Mendagri), Tjahjo Kumolo pada beberapa waktu lalu kendati masa jabatannya baru berakhir tahun 2016.

“Permintaan ibu sekprov itu tidak melalui gubernur, tapi langsung ke menteri dalam negeri, sehingga gubernur baru tahu setelah bertemu menteri dalam negeri dan mendagri menanyakan perihal rencana pengunduran diri Sekprov saat ini. Tapi, kan pak gubernur juga tidak tahu apa alasannya,” kata sumber yang menolak namanya disebutkan, itu, Rabu (8/7).

Komposisi Timsel terdiri dari Sekprov Ros Far-Far sebagai ketua, beranggotakan sembilan orang, yakni kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi Maluku, Maritje Lopulalan, kepala Inspektorat provinsi Maluku Semy Risambessy,  dan sejumlah akademisi dari Universitas Pattimura, pakar phsikilogis, dan pemerhati masalah sosial.

Sumber ini mengatakan, Gubernur Maluku Said Assagaff  telah menyerahkan sepenuhnya proses seleksi kepada timsel. Semua pejabat dilingkup pemerintah provinsi Maluku dan kabupaten kota punya kesempatan yang sama untuk mendaftar, selama memenuhi persyaratan administratif dan syarat pendukung lainnya.

“Informasinya, Timsel akan mulai bekerja setelah hari raya Idul Fitri. Dan peminat tidak perlu lagi izin gubernur, karena gubernur sudah serahkan semuanya ke Timsel. Siapa pun boleh mendaftar, yang penting penuhi persyaratan yang ditentukan. Dan syarat lain, seperti psikologis, intergirtas dan lainya,” jelas sumber.

Kepala BKD Provinsi Maluku Maritje Lopulalan yang dikonfirmasi mengatakan, ketua Timsel Ros Far-Far belum menyampaikan arahan secara resmi tentang kapan dan bagaimana timsel mulai bekerja. “Belum ada petunjuk dari pimpinan untuk kapan mulai bekerja,” singakt Lopulalan via seluler, kemarin.

Peneliti IGI Mohammad Ikhsan Tualeka mengatakan, penetapan Ros Far-Far sebagai ketua Timsel memiliki dua bentuk dampak. Baik terhadap proses kerja timsel maupun terhadap hasil kerja timsel nanti.

“Positifnya, sekprov incumbent itu kan punya pengalaman tentang seperti apa beban kerja sebagai sekprov, sehingga butuh figur seperti apa. Dengan modal itu, kita berharap beliau bersama anggota Timsel menjaring figur-figur yang layak dan cocok untuk duduk di kursi sekprov,” kata Tualeka, kemarin.

Dilain sisi, lanjut Tualeka, pengangkatan Ros Far-Far sebagai ketua timsel mengindikasikan akan adanya perang kepentingan dalam proses seleksi. Karenanya, objektivitas dan ketepatan kerja timsel menjadi diragukan, karena jabatan itu diduduki oleh orang di dalam birokrasi itu sendiri.

“Memang, pembentukan timsel ini adalah suatu langkah maju. Tapi jangan sampai usaha itu sia-sia hanya karena kerja timsel yang tidak objektif akibat adanya perang kepentingan di internal birokrasi pemerintah  provinsi Maluku. Harapan kita, timsel harus bekerja profesional, sehingga menghasilkan calon sekprov yang sesuai dengan tuntutan jabatan maupun keinginan masyarakat,” ujarnya.

Koordinator MDV Rizal F. Sangadji meragukan integritas Timsel tersebut. Hal ini dapat dilihat pada komposisi timsel. Apalagi diketuai oleh Sekprov Maluku Ros Far-Far.

Dijelaskan, pembentukan pantia seleksi menjadi tahap awal dalam menghasilkan Sekprov yang berkualitas.  Gubernur seharusnya  memberikan kesempatan kepada akademisi untuk berperan aktif lebih besar dalam proses seleksi.

“Seharusnya, yang menjadi ketua timsel adalah akademisi, bukan dari internal birokrasi, apalagi sekprov yang sekarang. Kalau birokrat, kita ragukan kinerja mereka, karena mereka adalah orang-orang dalam sistem. Tapi kalau akademisi, mereka punya tujuan utama, yaitu memproses seleksi secara objektif sesuai amanat undang-undang. Ditambah dengan ahli psikologis dan pemerhati sosial. Itu akan lebih baik jika timsel dikuasai birokrat,” katanya, kemarin.

Dengan demikian, bila komposisi timsel itu dipertahankan maka akan memancing reaksi publik yang lebih besar tentang hasil kerja timsel nanti. Publik akan menilai, keputusan terakhir timsel tidak terlepas dari intervensi gubernur. (MAN)

Most Popular

To Top