Komposisi Timsel Sekprov Tepat – Ambon Ekspres
Trending

Komposisi Timsel Sekprov Tepat

AMBON,AE— Komposisi Tim Seleksi (Timsel) calon  Sekretaris Provinsi Maluku yang terdiri dari unsur birokrasi, akademisi dan pemerhati masalah sosial, dinilai sudah  tepat, guna menghasilkan calon Sekprov yang  sesuai dengan kebutuhan jabatan itu. Dan ditunjuknya Ros Far- Far, Sekprov Maluku yang masih aktif itu sebagai ketua Timsel adalah keputusan yang tepat.

Direncanakan, Timsel mulai bekerja pada  akhir bulan ini. Kendati komposisi Timsel sudah tepat, namun tidak menjadi jaminan Timsel dapat menghasilkan calon Sekprov tepat. Itu tergantung  integritas Timsel dan prosedur  serta  tahapan seleksi  yang akan dilakukan.

“Komposisi itu sudah tepat, karena ada berbagai unsur di dalamnya. Yang perlu dipertanyakan sekarang adalah apa dan bagaiman kinerja Timsel nanti. Itu yang penting,” kata pengamat pemerintahan Universitas Pattimura (Unpatti) Johan Tehuayo, Kamis (9/7).

Menurut Tehuayo, penunjukkan Ros Far-Far sebagai ketua Tim Seleksi tidak perlu dipermasalahkan. Bahkan, penunjukkan itu sudah tepat, sebab Far-Far adalah birokrat yang sudah punya pengalaman kerja di jabatan sekprov, sehingga mengetahui jelas, apa yang menjadi kebutuhan dari jabatan itu.

“Itu adalah hak gubernur juga, kan.  Gubernur pasti punya alasan mendasar, kenapa mengangkat sekprov saat ini untuk menjadi ketua Timsel. Kendati memang itu bukan hal wajib, tapi itulah yang terbaik menurut gubernur. Karena, tugas Timsel   mencari orang yang tepat untuk menjadi sekprov yang baru, yang akan membantu gubernur dalam mengelola birokrasi pemerintahan,” kata Tehuayo.

Ia menegaskan, gubernur sangat berkepentingan dalam proses pembentukan Timsel, karena gubernur membutuhkan  sekprov  yang tidak hanya punya kemampuan intelektualitas, tapi juga kemampun kerja sama yang baik dengan semua pihak, terutama dengan gubernur, wakil gubernur, dan DPRD provinsi Maluku.

“Sehingga, jangan lagi dipermasalahakan masalah Timsel. Masyarakat harus fokus untuk mengawal kinerja Timsel. Itu yang penting sekarang dan kedepan,” ujarnya.

Pendapat berbeda datang dari pengamat politik dan pemerintahan Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) Amelia Tahitu. Jabatan ketua Timsel seharusnya tidak dijabat oleh Ros Far-Far. Sebab, akan menimbulkan kesan, Timsel tidak independen.

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UKIM ini menilai pengangkatan  Ros Far-Far justeru mementahkan keinginan gubernur untuk menghindari perang kepentingan dalam proses seleksi calon sekprov.

“Memang ibu Ros harus ada dalam Timsel, tapi bukan berarti harus menjadi  ketua. Yang harus duduk di jabatan itu adalah akademisi atau perwakilan dari unsur  lain. Kalau orang birokrasi, nanti terkesan tidak independen,” katanya.

Dengan demikian, keraguan masyarakat tentang  proses dan hasil kerja Timsel akan semakin beralasan, karena gubernur tidak dapat menunjukkan  kepada masyarakat  bahwa Timsel harus independen, meskipun telah membentuk Timsel.

“Selanjutanya, semua kembali ke Timsel. Kalau ingin membuktikan kepada masyarakat bahwa pilihan gubernur terhadap mereka tidak salah, maka harus bekerja professional, mengutamakan integritas dan independensi serta kemampuan memahami budaya birokrasi. Kita boleh inginkan sekprov yang tepat, kalau Timsel tidak tepat dalam bekerja, ya hasilnya pasti mengecewakan kita semua,” tegas Tahitu.

Pengamat pemerintahan lain dari UKIM, L. Samson menilai pengangkatan Ros Far-Far sebagai ketua Timsel adalah keputusan yang tepat. Sebab, Far-Far yang masih aktif sebagai sekprov Maluku juga merupakan ketua Badan Pertimbangan   Jabatan dan Pangkat (Baperjakat) Provinsi Maluku.

“Untuk pengangkatan calon  Sekprov, kan tidak melalui Baperjakat, tapi dibentuk Timsel. Sehingga, sekprov yang sekarang memang harus menjadi ketuanya. Ini juga karena sekprov saat ini kan bertugas untuk menjalankan roda birokrasi pemerintahan. Beliau yang tahu, seperti apa figur yang dibutuhkan,” kata Samson, kemarin.

Apalagi,lanjutnya dalam komposisi tidak didominasi oleh unsur birokrat, tapi unsur akademisi dan pemerhati masalah sosial. Itu berarti, ada pertimbangan dalam struktur yang diharapkan dapat selaing mendukung dalam memberikan penilaian dari apsek yang menjadi keahlian masing-masing.

“Kecuali kalau Timsel itu semuanya terdiri dari birokrat. Yang ini, kan ada akademisi dan  unsur lain  yang punya kapasitas pengetahuan. Dengan begitu, mereka saling melengkapi dalam hal penilaian.

Terakhir, calon yang punya skor terbanyak, itu yang dilaporkan ke gubernur untuk diusulkan ke Mendagri,” terangnya.(MAN)

Most Popular

To Top