Seumur Hidup Buat si Tampan – Ambon Ekspres
Trending

Seumur Hidup Buat si Tampan

Si Tampan: Saya Biasa-Biasa Saja

AMBON,AE— Butje Erasmus Batmomolin, duduk tenang di kursi pesakitan. Tidak ada ketegangan di wajahnya yang tampan. Duduk berhadapan tiga hakim. Tatapannya tajam. Mendengar setiap kata risalah putusan yang dibaca bergantian. Keluarganya justeru tegang. Mereka berharap, Butje lolos dari tuduhan pembunuhan.

Sidang putusan yang dipimpin hakim ketua Lilik Nurainy SH, serta didampingi anggota RA Didi Ismiatun SH dan Aleks Pasaribu SH, berlangsung dengan penjagaan ketat puluhan anggota polisi. Dalam ruang sidang, juga dipenuhi para pengunjung sidang.

Pengunjung, lebih didominasi oleh para keluarga terdakwa, yang terdiri dari puluhan pemuda serta beberapa orang tua. Sementara keluarga korban, hanya ibu korban, Y Souhoka, beserta beberapa sanak saudaranya yang terdiri dari ibu-ibu.

Ibu korban yang duduk di bangku paling depan, tampak tenang, sambil sesekali mengucap doa, ketika majelis hakim sementara membaca pertimbangan putusannya. Sementara ayah dan ibu korban, tampak serius mendengar kata-kata hakim. Terdakwa mengenakan kemeja putih, dilapisi rompi orange, dan didampingi penasehat hukum Pistos Noya cs.

Dalam amar putusannya, majelis hakim menyatakan, perbuatan terdakwa, Butje Erasmus Batmomolin alias Buce, terbukti melakukan pembunuhan terhadap korban, yang juga pacarnya, Hilda Natalia Leuwol. Terdakwa melanggar pasal 340 KUHP, tentang pembunuhan berencana.

“Mengadili, menjatuhkan pidana penjara semuru hidup kepada terdakwa,“ kata hakim ketua saat membaca amar putusannya. Terdengar kegaduhan. Ketegangan berubah menjadi emosi. Keluarga terdakwa tak terima putusan tersebut.

Orang tua terdakwa berteriak dan menangis histeris. Ayah terdakwa keluar ruang sidang sambil  berteriak jika anaknya tidak bersalah, begitu juga ibu terdakwa. Di halaman luar Pengadilan, Ayah dan ibu terdakwa tak henti-hentinya berteriak. “Beta (Saya red) punya anak tidak bersalah. Dia tidak membunuh,“ kata ayah terdakwa, Djidon Batmomolin.

Terdakwa Butje, yang kini telah berstatus terpidana, ketika dimintai keterangan soal perasaannya setelah divonis seumur hidup, mengatakan biasa-biasa saja. “Perasaan baik-baik saja,“ kata Buce sambil tersenyum.

Ibu korban, Y Souhoka mengatakan, puas dengan putusan majelis hakim. Selain itu, dia juga mengucapkan banyak terima kasih kepada JPU, Hakim, serta wartawan yang selama ini mengawal terus kasus ini. “saya ucapkan terima kasih kepada wartawan-wartawan yang selalu naikan berita ini,“ katanya.

Dalam pertimbangan, majelis hakim memperhatikan fakta-fakta sidang, dari keterangan saksi-saksi. Yakni, dari saksi Jil Meyer, yang mengatakan, pada hari sabtu tanggal 8 Maret 2014, pukul 16.30, mendengar suara perempuan meminta tolong. Keterangan tersebut dibenarkan juga oleh tiga orang penjual ikan, yakni  Meri Wasarr, Welmince Parinusa dan Robeka Bakarbessy.

Selain itu, para saksi mendengar suara pukulan kayu beberapa kali. Dari keterangan saksi-saksi itu, majelis hakim menyimpulkan bahwa pada pukul 16.30, ayah terdakwa Djidon Batmomolin, tidak berada di rumah karena sementara berada di Hattu, bersama dengan Viona Batmomolin. Jadi, terdakwa dan korban yang berada di dalam kamar.

Fakta itu, majelis berkeyakinan, bahwa keberadaan korban dengan terdakwa di dalam kamar, membuat terdakwa memukul korban dengan benda tumpul, secara berkali-kali. Dikaitkan dengan hasil outopsi oleh dokter, penyebab meninggalnya korban, akibat terkena benturan benda tumpul. Jika dikaitkan antara benda tumpul martil dengan luka di bagian kepala korban, maka sama persis.

Majelis juga berkesimpulan, dari keterangan Djidon Batmomolin, ibu terdakwa, viona batmomolin, alvido batmomolin dan Alvino Batmomolin mengatakan, martil yang disita polisi dari rumah mereka dan dijadikan barang bukti di persidangan, adalah sah milik Djidon Batmomolin. Bercak darah sisa dari martil milik Djidon Batmomolin, ketika diuji di Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor)

Surabaya, ternyata positif darah manusia bergolongan darah A milik korban.
Serta, golongan darah itu mempunya profil DNA sama dengan orang tua korban Y Souhoka dan Frans Leuwol, dengan profabilitas 99,99%. Pertimbangan lainnya, ketika ayah korban, Frans Leuwol, mengirim sms kepada korban, untuk membawa Laptop milik ayahnya, korban membalasnya dengan mengirim pesan singkat.

Selama beberapa kali berkomunikasi dengan korban lewat sms, korban membalasnya dengan singkat. Padahal, korban tidak terbiasa mengirim pesan singkat kepada orang tuanya. Korban, selalu mengirim SMS secara lengkap, karena korban tahu, orang tuanya tidak mengerti dengan pesan singkat. Akhirnya, orang tua korban berpendapat, yang mengirimkan pesan itu adalah orang lain. Karena, ketika di telepon berulang kali, korban tidak menjawab.

Fakta itu, disimpulkan oleh majelis hakim, pada hari Sabtu itu, korban bersama-sama dengan terdakwa di dalam kamar mereka. Jadi, terdakwa secara leluasa dapat mengambil Handphone milik korban, dan membalas SMS yang dikirim ayah korban.

Fakta lainnya, ketika ibu korban Y Souhoka menelpon terdakwa pada pukul 20.00, dan menanyakan korban diantar sampai dimana, terdakwa menjawab, korban diantar hingga ke dermaga ferry Liang.

Namun ketika ditelepon kedua kali, menanyakan hal yang sama, terdakwa mengatakan, mengantar korban hanya sampai di Halte Waitatiri.

Anehnya lagi, ketika ditelepon untuk ketiga kalinya, terdakwa menjawab “seng tahu lai mama”. Hal itu juga menjadi kesimpulan majelis hakim, dalam mengambil keputusan, bahwa Bujte Erasmus Batmomolin, yang melakukan pembunuhan terhadap Hilda Natalia Leuwol.

Humas Pengadilan Negeri Ambon, Ahmad Bukhori mengatakan, seseorang yang telah divonis seumur hidup, maka akan menghabiskan sisa hidupnya di dalam penjara. Artinya, Batmomolin akan dipenjara hingga meninggal. “Putusan seumur hidup itu, akan dipenjara selamanya sampai terpidana itu meninggal,“ kata Bukhori.

Namun, lanjutnya, putusan tersebut belum inkrah. Karena, pihak terpidana dapat menempuh upaya banding ke Pengadilan Tinggi. “Kalau banding, berarti putusan itu belum inkrah. Jadi kita tunggu saja upaya hukum mereka, “pungkasnya. (AFI)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!