Kerukunan Umat Beragama Jadi Alat Perdamaian – Ambon Ekspres
Metro Manise

Kerukunan Umat Beragama Jadi Alat Perdamaian

Mandagi : Kalau Ada Yang Provokasi, Laporkan ke Polisi

AMBON, AE— Kerukunan antar umat beragama di Maluku semakin kuat. Untuk itu, seluruh masyarakat di Maluku, dihimbau untuk tidak terprovokasi oleh isu maupun orang-orang yang tidak bertanggungjawab, yang ingin menimbulkan ketegangan antar warga. Hal ini disampaikan Uskup Diosis Amboina, MGR P C Mandagi, saat menggelar konfrensi pers di Keuskupan Amboina, kemarin.

Dalam kesempatan itu, Mandagi mengatakan, sebagai manusia sejati yang lahir dari puasa selama sebulan, umat Muslim menjadi cermin bagi umat Kristen maupun umat beragama yang lain. Cermin dimaksud yakni kesabaran, kemurahan hati, pengampunan kejujuran dan sebagainya.

Sayang sekali, lanjut dia, Hari Raya Idul Fitri ini, dinodai oleh kekerasan antar warga, baik di Maluku, misalnya di Tawiri, Mamala dan Morela, di Pulau Haruku dan juga diluar Maluku.

Menurutnya, peristiwa seperti itu, harus diselesaikan secara hukum oleh aparat kepolisian, kemudian dtangkap siapa pelaku yang mengacaukan suasana di bulan kemenangan bagi umat Muslim ini. “Peristiwa ini harus diselesaikan dengan penegakan hukum. Menangkap penjahat-penjahat yang menimbulkan kekacauan itu,“ katanya.

Pantaslah, kata dia, umat Kristen meminta maaf kepada saudara Muslim, karena kejadian di Kabupaten Tolikara Provinsi Papua Barat, maupun Laha-Tawiri. Lewat peristiwa ini, umat Muslim telah memberikan contoh, bagaimana menyelesaikan secara tepat perkara kekerasan. Penegakan hukum, merupakan penyelesaian yang beradab dan menghasilkan perdamaian. Terlebih lagi, kalau penegakan hukum kemudian dilanjutkan dengan dialog antar kelompok-kelompok dan orang-orang yang bertikai. “Pantaslah kami umat Kristiani meminta maaf kepada saudara kami umat Muslim, lewat peristiwa kekerasan di Kabupaten Tolikora, maupun di Laha-Tawiri. Karena, peristiwa ini telah menimbulkan korban. Namun, umat Muslim telah memberikan contoh bagaimana menyelesaikan suatu masalah. Selain itu, para tokoh masyarakat duduk untuk berdialog bersama.

Agar kedamaian itu dapat terpelihara dengan baik,“ ucapnya.
Mandagi mencontohkan, peristiwa kekerasan di Kabupaten Tolikara, Papua, mengajak masyarakat Maluku untuk melihat kembali arti kerukunan antar umat beragama.  Saling menghormati, menghargai, berkomunikasi dengan jujur, mengampuni dan sebaginya. “Kerukunan antar umat beragama merupakan alat mujarab untuk membangun perdamaian. Karena dimana ada kerukunan antar umat beragama, disitu ada perdamaian,“ jelasnya.

Di Maluku, kerukunan antar umat beragama semakin kuat. Untuk itu, hal ini harus dijaga dan dilindungi. Karena, banyak setan atau orang-orang yang tidak bertanggungjawab, yang selalu berusaha untuk menghancurkan kerukunan itu. Karena itu, pemerintah harus membantu mengingatkan dan mendorong masyarakat, untuk menjaga kedamaian. “Harus diakui, pemerintah sudah bekerja keras dalam membina dan menjaga perdamaian di Maluku. Begitu juga aparat kepolisian dan TNI, yang selalu sigap dalam meredakan situasi. Masyarakat sangat mendukung kehadiran aparat keaminan yang selalu menjaga dan melindungi kami,“ akuinya.

Lebih lanjut pimpinan umat Katolik di Maluku ini menghimbau agar masyarakat Kota Ambon dan Maluku seluruhnya, agar tdak terprovokasi oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab yang ingin merusak perdamaian di Maluku ini. Mandagi juga percaya, bahwa masyarakat Maluku sudah cerdas, dan tidak dapat dibodohi lagi. Masyarakat dapat bersatu, untuk membangun daerah ini lebih maju. “Masyarakat jangan terprovokasi oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

Bila perlu, jika ada yang memprovokasi, segera laporkan saja kepada polisi. Agar orang-orang itu segera ditangkap dan diselidiki siapa dalang dibalik semua permasalahan ini,“ pungkasnya.(AFI)

Most Popular

To Top