Ketika Masa Kanak-Kanak “Diambil” Orang Dekat – Ambon Ekspres
Trending

Ketika Masa Kanak-Kanak “Diambil” Orang Dekat

Potret Kekerasan Seksual Terhadap Anak di Maluku

“Baltzar. Baltzar,” teriak Edo Martin, satu dari ketiga polisi yang berjaga di ruang tahanan, Polres Ambon. Setelah itu, datang seorang pria 34 tahun bertubuh tinggi, ringkih, dengan wajah penuh peluh, menghampiri saya. Berpakaian tahanan berwarna orange dengan nomor punggu 03 itu. Celana pendek, tanpa sandal jepit. “Ada apa ya,” tanya dia dengan wajah gugup mencoba menatap saya.

Anda Baltazar,” tanya saya kepada dia. Kepalanya diangguk, mengiyakan. Saya dan Baltasar duduk di sebuah kursi panjang yang disandarkan pada dinding, dekat meja piket polisi. Hari itu, ada tiga anggota polisi yang bertugas di rutan Polres. Kami duduk di ruang khusus kunjungan tamu tahanan.

Ruangan itu tak besar. Panjangnya sekitar 10 meter, dan lebar tak sampai empat meter. Hari itu ruangnya penuh sesak. “Hari ini banyak kunjungan,” kata salah satu anggota piket kepada saya.

Asap rokok mengepul dimana-mana. Ruangan kecil itu terasa pengap. Panas, dan sedikit berbau pesing. Mahfum saja, ruangan itu tak jauh dari toilet umum. Jaraknya hanya beberapa langkah.

Dari tempat duduk saya dan Baltazar, terlihat papan informasi berisi jumlah tahanan, nama, beserta umurnya. Termasuk jenis kejahatan yang dilakukan. Tahanan hari itu, ada 35 orang. Dua diantaranya melakukan pencabulan dan persetubuhan terhadap anak dibawah umur. Sisanya akibat mencuri dan kejahatan kriminal lainnya. Dua orang yang melakukan pencabulan dan perkosaan itu masih ditahan sebagai tersangka. Salah satunya Baltazar.

“Saya kurang istrahat. Kurang tidur, karena teringat anak saya,” jawab Baltazar, ketika saya menanyakan hitam pada bagian bawa matanya. “Oh, saya kira bekas pukulan,” jawab saya sekenanya.

“Saya datang ingin mewawancarai kasus bapak. Dan kenapa bapak tega melakukan hal itu,” tanya saya kepada dia.

Baltazar Lamere adalah, tersangka yang tega menyetubuhi anak kandungnya sendiri, sebut saja bunga (12). Peristiwa biadab itu terjadi akhir Mei. “Saya lupa tanggal berapa,” kata dia, tanpa menatap sedikit pun kepada saya.

Kejadian bermula di suatu sore sekira pukul 16.30 akhir Mei di kediamannya di Benteng Atas, Kecamatan Sirimau Kota Ambon. Kala itu, Bunga baru saja pulang sekolah. Setelah makan, Bunga yang anak pertama dari tiga bersaudara itu langsung masuk kamar untuk beristrahat.

Di depan halaman rumahnya yang tak besar itu, Baltazar baru saja mengayuh becak. Profesinya tukang becak. Dulu sebelum kerusuhan Ambon Januari 1999, profesi ini jarang dilakukan orang asli Maluku. Sekarang setelah kerusuhan, justeru banyak orang Maluku yang mau menekuni profesi ini.

Masuk rumah, Baltazar langsung masuk kamar Bunga. Di rumah ada Bunga yang sedang tidur, juga isteri Baltazar, P (32). Dia merebahkan badannya di ke kasur berdekatan dengan Bunga. Dia kemudian, memeluk Bunga laiknya pasangan suami istri. Istrinya, tak sedikit pun menaruh curiga. Pikirnya, tidak terjadi apa dengan ayah dan anak itu.

Berselang 15 menit setelah Baltazar masuk kamar dan tidur bersama Bunga, itsrinya mencoba membuka pintu, kamar itu. P pun kaget, ketika melihat Baltazar suaminya, dan juga ayah kandung Bunga, sedang bermain dengan bagian tubuh intim dan alat kelamin Bunga.

“Saya menyaksikan dengan mata kepala, perbuatan keji itu. Dalam hati, sama sekali saya tidak menyangka dia (Baltazar-red) melakukannya pada anak kami,” tutur P istri Baltazar saat memberikan keterangan kepada kepolisian akhir Mei.

Besok setelah kejadian itu, P mendatangi Polres Ambon untuk melaporkan perbuatan suaminya. Sementara Bunga, menurut keterangan Baltazar, tetap pergi ke sekolah. Seperti tidak ada kejadian apa-apa dihari sebelumnya.

”Saya akui. Perbuatan itu terjadi karena saya jauh dari Tuhan. Karenannya, meski di dalam sel (ruang tahanan-red) saya terus meratapi dan menyesali apa yang telah saya lakukan terhadap anak saya,” isi matanya mulai membentuk bola air yang tak sanggup ia tahan.

“Saya berjanji takkan mengulangi perbuatan kotor itu. Untuk menebusnya, saya akan terus mencoba menjadi ayah yang baik bagi anak dan keluarga saya seribu kali lebih baik dari sekarang,”ucap Baltazar mengakhiri pembicaraan dan kembali ke dalam sel teman-temannya. Keinginannya untuk memperbaiki keadaan, masih dihalang jeruji besi rutan.
****
“Saat ini Baltazar masih kami tahan sebagai tersangka. Kami masih melakukan penyelidikan lanjut dengan mengumpulkan bukti-bukti sebelum menetapkan kasus ini P 21 dan diserahkan ke pengadilan,” tutur Iptu Izaak Salamor Kaur Operasional Satreskrim Polres Pulau Ambon dan Pp Lease.

Di kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon 2014 silam juga terjadi kejadian perkosaan terhadap Melati (13), bukan nama asli. Ia pun hamil akibat perbuatan Kumbang (bukan nama asli) 27 tahun yang berprofesi sebagai supir angkutan kota (Angkot). Melati dan Kumbang adalah kakak-beradik tiri.

Awalnya Melati melawan, namun Kumbang mengancam akan membuka aib itu ke keluarga, akirnya gadis itu menurut. Nasib Melati memang menyedihkan. Keduanya orang tuanya bercerai sebelum kejadian itu. Ayahnya kemudian menikah lagi dan meninggalkan ibu Melati. Kondisi ini membuat Melati terperangkap dalam kondisi kacau-balau.

Setelah peristiwa itu terkuak, keluarga Melati ingin melaporkan ke kepolisian. Namun karena berpikir bahwa akan mengganggu keharmonisan dan kekerabatan kedua keluarga korban, niat  itu urung disampaikan.

Akibatnya, selama beberapa hari, Melati tidak tinggal bersama ibunya. Ia dititipkan sementara di salah satu kerabat dekatnya. “Saat kasus ini dilaporkan ke kami, Melati sudah berbadan dua (hamil-red),” ujar Direktur Lembaga Pemantau dan Penanganan Kekerasan Anak dan Perempuan (LAPPAN) Baihajar Tualeka, Minggu (14/6).

Ada kasus lain yang ditemukan LAPPAN saat melakukan pendampingan maupun kasus dilaporkan langsung ke kantor LAPPAN. Misalnya di beberapa sekolah di Kecamatan Saparua, Maluku Tengah dan Kecamatan Kairatu Seram Bagian Barat.

Pihak sekolah mengganggap, anak murid mereka yang mengalami perkosaan dan hamil, merupakan aib bagi sekolah. Akhirnya, mereka tidak bisa melanjutkan sekolah, karena diberhentikan. Ketika dikeluarkan dari sekolah, secara otomatis mereka sudah mendapatkan kekerasan  berlapis atau struktural.

“Pada titik inilah korban merasa  bersalah. Dampaknya ia bisa mengurung diri dan takut ketika berbicara di pengadilan atau kepolisian. Rata-rata mereka mengalami tekanan batin dan phisikologis yang kuat. Bahkan, korban bisa melakukan tindakan bunuh diri,” ucap Ratih Ary Nuranih M.Psi, Psikolog Universitas Indonesia yang sudah enam bulan bekerja di LAPPAN itu kepada saya, via email, Selasa (23/6).

LAPPAN juga menemukan kasus yang cukup menyedihkan yang menimpah salah seorang murid di salah satu sekolah di SBB. Mawar (12) bukan nama sebenarnya. Siswi yang sudah ujian pada 2015 ini, terpaksa dipisahkan dengan teman-teman saat ujian berlangsung. Ia dihamili oleh saudara laki-kalinya.

Pihak sekolah memberikan kelonggaran kepada korban mengikui ujian, namun dipisahkan. Bila digabungkan dengan peserta ujian lainnya, dinilai akan menjadi contoh yang buruk bagi siswa lain.

”Pemahaman seperti ini yang perlu diubah dari sekolah, karena membuat korban sulit mendapatkan pendidikan,”tambah Ratih yang mengaku tengah mendampingi kasus tersebut di persidangan beberapa hari lalu.

Kebanyakan pelaku menyasar anak karena mudah dikendalikan, tidak punya kuasa dan gampang diimingi-imingi. Dampak yang bisa langsung dirasakan, seperti mengurung diri. Sementara untuk anak-anak, dampak langsung biasanya tidak tampak.

Mereka bisa saja bermain atau beraktivitas seperti biasa. Tapi dampaknya pada hal-hal yang tidak begitu tampak. Misalnya sering mimpi buruk, mudah marah dan kemunduran tingkah laku.

Dampak jangka panjang baik bagi anak maupun dewasa adalah pada pembentukan konsep diri dan kepribadian. Mereka bisa menjadi orang dengan stabilitas emosi yang kurang.

“Untuk lamanya pemulihan atau muncul dan tidaknya dampak–dampak tersebut, tergantung dari banyaknya faktor diri seseorang. Jika seseorang memiliki resiliensi (daya tahan terhadap stress tinggi) dan memiliki dukungan sosial yang baik, maka bisa meminimalisasi dampaknya,” ungkap Ratih.

Sebagian besar dari ratusan kasus pencabulan dan persetubuhan yang dialami anak dibawah umur, tidak atau belum diselesaikan di jalur hukum. Banyak keluarga korban yang memilih untuk diam. Karena tidak ada dukungan, baik dari masyarakat yang mengetehui peristiwa itu maupun kepala desa, kepala dusun dan tokoh kunci lainnya.

Bahkan dari hasil pendampingan yang dilakukan LAPPAN, ditemukan adanya tekanan dari pihak pelaku kepada korban agar tidak melapor kepada kepolisian. Ini biasanya dilakukan oleh pelaku yang berasal dari keluarga yang mempunyai pengaruh dan kekuasaan di tengah masyarakat.

Menurut Baihajar, hal ini merupakan bagian dari diskriminasi yang dilakukan oleh pelaku terhadapa korban.  Kata dia, LAPPAN banyak mendapatkan laporan dari KPPA Polres Ambon dan PP Lease. Rata-rata atau kebanyakan keluarga korban yang mendatangi Polres untuk melaporkan, adalah orang miskin.

“Sehingga tidak didampingi dalam menyelesaikan masalahnya. Kasusnya terkatung. Ini juga disebabkan minimnya pengetahuan mereka tentang aturan atau proses hukum yang bisa dilakukan untuk menuntut keadilan bagi mereka,”akunya.
****
Kasus kekerasan seksual yang menimpah Bunga dan Melati di kota Ambon dan beberapa anak di SBB dan Malteng, hanyalah satu dari puluhan hingga ratusan kasus serupa yang dialami anak dibawah umur di Maluku. Baik pencabulan maupun persetubuhan. Lebih parah lagi, pelakunya adalah orang tua dan keluarga terdekat. Bahkan perbuatan itu berkali-kali dilakukan.

Data Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Ambon dan PP Lease menyebutkan, kasus kerekasan seksual terhadap anak, terutama pencabulan dan persetubuhan mengalami peningkatan selama dua tahun terkahir. Di tahun 2013 sebanyak 33 kasus persetubuhan dan pencabulan 18 kasus.

Di tahun 2014 jumlah dua kasus itu meningkat menjadi 80. Rata-rata terjadi 2 hingga 14 kasus setiap bulan. Sementara di tahun 2015 (Januari-Juni) tercatat telah terjadi 37 kasus. 22 kasus telah dilimpahkan ke pengadilan. Sementara lainnya masih dalam tahapan pemberkasan.

Itu baru akumulasi yang ditangani kepolisian. Belum lagi kasus yang tak dilaporkan ke pihak kepolisian, karena faktor rentang kendali dan ketertutupan keluarga korban.“Jadi kasus kekerasan seksual terhadap anak dibawah umur di Maluku, terus mengalami peningkatan,”ungkap Izaak.

Upaya agar korban dapat menyelesaikan kasus yang dialami di ranah hukum dan menghilangkan trauma mereka, selama beberapa tahunan terakhir LAPPAN melakukan konseling dan pendampingan serta melakukan pemantauan proses hukumnya.

Pendampingan itu untuk menguatkan phisikis korban agar bisa mengungkapkan kebenaran dari apa yang dialami kepada aparat kepolisian maupun di perisangan. Korban juga diberikan pemahaman terkait mekanisme hukum yang harus diikuti untuk penyelesaian kasus.

Sebab jangankan di kabupaten lain, korban yang ada di kota Ambon saja ada yang tidak melaporkan kasus mereka Polres. Penyebabnya adalah minimnya pemahaman terhadap hal tersebut. “Kita berharap, ada efek jerah dari hukuman yang diterima pelaku,”kata Baihajar.

Para pelaku dijerat sesuai Undang-Undang nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang berkaitan dengan tindak pidana kesusilaan, yaitu Pasal 81 (perkosaan anak) dan Pasal 82 (pencabulan anak). Hukuman penjara dalam pasal 81 ayat 1, paling lama 15 tahun dan paling singkat 3 tahun. Denda paling banyak Rp300 juta dan paling sedikit Rp60 juta.

Sementara dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), tindakan pencabulan dijerat oleh pasal 289 hingga Pasal 296.  Kita tentu berharap kasus pencabulan dan persetubuhan terhadap anak dibawah umur dapat berkurang, atau bila perlu tidak terjadi di masa datang. Peranan semua pihak, terutama keluarga, sangat penting untuk merealisasikan harapan itu.(***)

Most Popular

To Top