Masyarakat Ancam Tutup Bandara – Ambon Ekspres
Trending

Masyarakat Ancam Tutup Bandara

AMBON, AE— Masyarakat adat Desa Amtufu dan Desa Lolurun, Kecamatan Tanimbar Selatan, Maluku Tenggara Barat (MTB) mengancam akan menutup bandara Mathilda Batlayeri yang merupakan bandara baru di kabupaten tersebut. Pasalnya penetapan nama bandara itu, tidak mencantumkan dan mencerminkan nilai-nilai adat dari kedua desa, yang telah menghibahkan ratusan hektar tanah untuk dijadikan bandara tersebut.

“Pemberian nama pada bandara yang dibangun diatas tanah adat milik Desa Amtufu dan Desa Lolurun, tidak melibatkan kedua desa. Padahal masyarakat saat itu dengan penuh kesadaran telah menghibahkan tanah sebesar 350 hektar untuk membangun bandara itu,” kata Edwardus Putukaman, salah tokoh masyarakat kedua desa kepada wartawan di Ambon, Senin kemarin.

Menurutnya, Pemkab MTB dan Pemprov Maluku harusnya mempertimbangkan dan melihat nilai-nilai adat warga Tanimbar terlebih kedua desa itu, sehingga tidak mengecewakan warga yang telah menghibahkan tanah untuk pembangunan bandara tersebut. “Masyarakat sangat kecewa dengan penetapan nama bandara itu. Kenapa? Karena harta benda mereka diatas ratusan hektar tanah itu diberikan secara cuma-cuma kepada pemerintah untuk membangun badara yang ada demi kemajuan MTB. Tetapi kemudian pemerintah tidak melihat persoalan itu. Ini bahaya sekali,” jelasnya.

Pemerintah kata dia, harusnya bersyukur atas kebaikan masyarakat kedua desa itu. Bukan malah ketika diberikan dengan cuma-cuma, kemudian sengaja melupakan masyarakat yang ada. “Masyarakat minta nama bandara Mathilda Batlayeri diganti dengan Amtupu Tanimbar Raya. Karena nama yang diinginkan masyarakat itu, mencantumkan nilai adat dan budaya dari masyarakat Tanimbar,” terangnya.

Dia menegaskan, keinginan masyarakat untuk segera mengubah nama bandara tersebut, merupakan hak mutlak dari masyarakat adat Tanimbar. Dan jika sampai pada peresmian nanti, pemerintah tidak mengubah nama bandara itu, maka masyarakat akan menutup segala aktifitas dari bandara tersebut. “Kalau tidak mau situasi keamanan MTB terganggu, maka segera ganti nama bandara itu. namun jika tidak ada dua hal yang akan dilakukan oleh masyarakat yakni mem-PTUN-kan pemerintah dan memberlakukan hukum adat yakni sasi atau menutup secara total bandara itu,” tegasnya.

Kendati demikian, dirinya sangat menyayangkan sikap pemerintah yang tidak menghargai tatanan adat yang selama ini dianut oleh masyarakat Tanimbar. “Andai kata dengan sikap pemerintah yang ada, lalu kemudian hal ini benar-benar terjadi, bukan semua pihak akan pusing ? Ini yang perlu dilihat secara jeli oleh pemerintah itu sendiri. Ini demi kepentingan masyarakat Tanimbar dan masyarakat Maluku pada umumnya,” timpal dia.
(AHA)

Most Popular

To Top