Status 'Belum Menikah' Tak Boleh Halangi Deteksi Dini Kanker Serviks – Ambon Ekspres
Kesehatan

Status 'Belum Menikah' Tak Boleh Halangi Deteksi Dini Kanker Serviks

Deteksi dini kanker serviks dinilai efektif mencegah kematian akibat penyakit tersebut. Namun bagi yang sudah aktif secara seksual sebelum menikah, deteksi dini bukan sebuah pilihan yang mudah.

Tidak bisa dipungkiri, sebagian remaja mulai aktif secara seksual di usia yang cukup muda. Pada perempuan, hal ini bisa meningkatkan risiko penularan HPV (Human Papilloma Virus) penyebab kanker serviks.

Selain karena periode aktif secara seksualnya menjadi lebih panjang, struktur jaringan serviks yang belum matang membuatnya mudah terinfeksi.

Meski lebih berisiko, remaja yang aktif secara seksual cenderung sungkan untuk memeriksakan organ intimnya ke fasilitas kesehatan. Stigma negatif tentang perilaku seksualnya membuat deteksi dini kanker serviks pada kelompok ini lebih sulit dilakukan.

“Ini yang kita perlu sosialisasi, bahwa yang aktif secara seksual punya risiko meski belum menikah. Yang seperti ini, kita harus turun ke sekolah-sekolah,” kata dr Niken Watu Palupi dari Subdirektorat Kanker, Kementerian Kesehatan, Senin (27/7/2015).

Menurut dr Niken, fasilitas dan tenaga kesehatan juga tidak boleh membeda-bedakan pasien. Ia membantah tudingan bahwa perlakuan diskriminatif terhadap remaja yang ingin melakukan deteksi dini kanker serviks kerap datang justru di fasilitas kesehatan.

“Oh, nggak lah. Oknum saja itu. Kan kita juga ada integrasi deteksi kanker serviks dengan IMS (Infeksi Menular Seksual),” kata dr Niken, ditemui usai memberikan penyuluhan kanker serviks di kantor Kementerian Luar Negeri, Jl Pejambon No 6, Jakarta Pusat.

Praktisi onkologi-ginekologi dari RS Cipto Mangunkusumo, dr Kartiwa Hadi Nuryanto menyebut bahwa semakin muda usai berhubungan seks maka risiko untuk terinfeksi HPV akan semakin besar. Tidak cuma pada perempuan yang menikah terlalu muda, melainkan juga perempuan muda yang berhubungan seks di luar nikah.

“Paradigmanya bukan yang sudah menikah, tetapi yang sudah aktif secara seksual. Harus diakui memang ada pergeseran budaya,” kata dr Kartiwa.

Prediksi Globocan 2012 dari International Agency for Research on Cancer (IARC) menyebut 17 dari 100.000 perempuan Indonesia mengidap kanker serviks atau leher rahim. Diperkirakan pula tiap 2 menit ada seorang perempuan meninggal karena salah satu jenis kanker paling mematikan ini.(up/vit)

Most Popular

To Top