Kandidat Bupati Mulai Dikorbankan – Ambon Ekspres
Trending

Kandidat Bupati Mulai Dikorbankan

Obed Terancam Gugur, Gainau Masih Berpeluang

AMBON, AE— Dampak negatif dari sengketa Golkar dan PPP, di pemilihan kepala daerah terjadi. Di Aru dua pasangan yang diusung PPP Golkar dua kubu, terancam digugurkan. Komisi Pemilihan Umum Daerah setempat akan memperketat pemeriksaan berkas administrasi semua pasangan calon.

Dua pasangan bakal calon Bupati dan wakil bupati kabupaten Kepulauan Aru Obed Barends-Eliza Darakay dan pasangan Abraham A Gainau-Jafruddin Hamu, adalah dua pasangan yang terancam gugur dari bursa pencalonan. Pasalnya, dua pasangan ini tak penuhi persyaratan dukungan 20 persen kursi, bila rekomendasi PPP dan Golkar tak diakomodir.

Obed-Eliza diusung Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dengan 3 kursi dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) kubu Romahurmuziy sebanyak 2 kursi dari 25 kursi DPRD. Kubu Djan Faridz merekomendasikan pasangan Gainau-Hamu yang juga diusung Golkar dan Gerindra. Namun, pendaftaran dengan rekomendasi PPP ditolak, karena dua kubu partai ini merekomendasikan calon yang berbeda.

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Maluku Musa Toekan, mengatakan, sesuai Peraturan KPU nomor 9/2015 tentang syarat dukungan 20 persen kursi atau 25 persen suara parpol, pasangan tersebut secara otomatis gagal sebagai calon. Kendati berkas mereka masih akan diverifikasi, namun ia memastikan, kemungkinan gugurnya Obed-Eliza sangat terbuka.

“Jika rekomendasi dibatalkan, maka hanya tersisa PKB 3 kursi. Yah, kemungkinan tidak lolos karena tanpa PPP, pasangan ini tak penuhi 20 persen dukungan partai. Kemungkinan itu bisa terjadi karena tidak sesuai dengan undang-undang,” kata Toekan kepada Ambon Ekspres, Rabu (29/7).

Toekan menuturkan, saat pasangan tersebut mendaftar dan menyerahkan berkas, KPUD Aru sempat meminta penjelasan dari KPUD Maluku. Namun, kata dia, KPUD Maluku tetap bersandar pada PKPU nomor 12/2015 tentang pencalonan, bahwa dualisme parpol yang merekomendasikan bakal calon yang berbeda, tetap ditolak.

“Iya, diminta untuk mempertimbangkan agar tidak diterima. Tapi kalau tidak diterima, kacau di sana (KPUD Aru-red). Kalau KPU Maluku, bilang jangan diterima, tapi KPUD Aru tetap terima, karena pertimbangan situasi yang mencekam itu,” paparnya.

Olehnya itu, kata Toekan, KPUD tetap melakukan verifikasi berkas pencalonan pasangan Obed-Eliza. Keputusan tidak memenuhi syarat atau tidak, akan ditetapkan bersamaan dengan paslon lainnya pada 24 Agustus.
“Iya, akan ditetapkan pasangan calon memenuhi syarat dan tidak memenuhi syarat pada 24 Agustus. Tapi kemungkinan mereka (Obed-Eliza,red) tidak lolos,”ungkapnya.

Ketua KPU Aru Victor Sjair mengatakan, pasangan Gainau-Hamu, juga punya kemungkinan gugur dari pencalonan. Namun, kata dia, persoalan PPP beda dengan yang terjadi di Golkar.

Persolan Golkar, yakni tidak adanya tanda tangan ketua DPD Golkar Aru versi Munas Ancol Jemmy Kauy pada rekomendasi tersebut.

“Kalau rekomendasi Golkar dua kubu, diberikan kepada pasangan Gainau-Hamu. Hanya pada tingkat DPD kabupaten Aru, kubu Agung Laksono tidak menandatangani berkas pencalonan. Namun, kita tetap terima dan lakukan verfikasi karena baru sebatas bakal calon, belum calon,” kata Sjair saat dikonfirmasi, kemarin.

Pasangan Gainau-Hamu diusung partai Golkar (1 kursi) dan Gerindra (4 kursi) dan PPP (3 kursi) dari total 25 kursi DPRD. Berdasarkan PKPU nomor 9/2015 tentang syarat dukungan, pasangan ini telah memenuhi 20 persen kursi. Namun, mereka terancam gugur, jika dalam masa perbaikan berkas, tidak ada kejelasan soal Golkar dan PPP.

“Jadi, mereka diberikan waktu 3 hari sebelum masa perbaikan untuk mendapatkan rekomendasi kubu lainnya dari dua partai tersebut. Nanti kalau selama masa perbaikan 7 hari, mereka tidak memenuhi syarat, baru kita katakan gugur,” jelasnya.

Soal tuntutan ketidakadilan oleh pasangan Obed-Eliza, Sjair mengaku, tidak mendasar. Pasalnya kata dia, kasus rekomendasi Golkar berbeda dengan PPP yang diberikan kepada dua pasangan calon yang berbeda, yakni Obed-Eliza dan Gainau-Hamu.

“Mereka (Obed-Eliza,red) mempertanyakan Golkar kepengurusan AL belum tanda tangani rekomendasi Golkar untuk pasangan Gainau-Hamu. Masalahnya hanya disitu. Tapi karena Obed memaksa dan berpotensi konflik, maka kami terima. Mereka mempersoalkan ketidakadilan. Jadi persoalannya beda dengan Golkar,” paparnya TAB)

Most Popular

To Top