Tagop Diunggulkan, Hakim Kuasai Ambalau – Ambon Ekspres
Trending

Tagop Diunggulkan, Hakim Kuasai Ambalau

AMBON,AE— Peta pertarungan Pemilukada kabupaten Buru selatan, Desember mendatang diprediksi tidak akan berbeda dengan kondisi politik dalam Pemilukada di daerah itu  pada tahun 2011 lalu. Sebab, para kandidat yang akan maju saat ini, merupakan mantan kandidat Pemilukada  sebelumnya. Tagop Soulissa-Ayub Saleky memiliki peluang besar untuk menang.

Namun, majunya Hakim Fatsey- Anthonius Lesnussa  tidak bisa dilihat sebelah mata oleh pasangan incumbent. Sebagai  incumbent, pasangan Tagop-Ayub memiliki keunggulan tingkat pengenalan. Ini didasarkan pada indikator kekuatan keberhasilan kinerja keduanya selama lima  tahun memimpin kabupaten Buru Selatan.

Belum lagi, bila kekuatan  birokrasi dikerahkan. Pasangan itu juga unggul dari sisi kekuatan kultur.

Pengamat politik Universitas Pattimura (UInpatti) Johan Tehuayo memprediksi, kedua kandidat tersebut  memiliki peluang sama untuk memenangkan kompetisi politik lokal itu. Namun,  Calkada incumbent memiliki peluang lebih besar. Karena selama kepemimpinan mereka dalam pemerintahan dan pembangunan daerah mengalami progres  dalam berbagai aspek di sana setelah daerah itu  dimekarkan.

“Sehingga, persepsi publik terhadap incumbent dan wakilnya pasti  masih sangat baik,” ungkap Tehuayo, Jumat (31/7).

Hal lain yang terkait dengan peluang kemenangan Tagop-Ayub adalah didukung oleh PDIP yang memiliki kursi dan dukungan suara yang signifikan pada pemilu Legislalatif tahun 2014. Sehingga, basis politik kultural atau tradisional ini akan tetap konsisten untuk memberikan dukungan suara kepada Tagop dan wakilnya pada Pemilukada.

“Sedangkan Calkada alternatif, Hakim Fatsey sangat tergantung pada pemilih pragmatis pada afiliasi partai politik  untuk membentuk kepemimpinan baru di Bursel,” katanya.

Hal itu terkait dengan sikap politik dan persepsi masyarakat yang lebih berorientasi pada ketidakberhasilan pemimpin lama dalam proses penyelenggaraan pemerintahan daerah Bursel, sehingga memilih calon alternatif.
Hal itu, menurut Tehuayo  Karena perilaku politik masyarakat selalu mengalami perubahan  menjelang pelaksanaan Pemilukada. Sehingga, strategi politik atau membangun citra yang positif di masyarakat menjadi keharusan.

“Karena sikap politik sangat didasarkan pada pendekatan psikologis dan pendekatan psikologis sosiologis, yaitu pemilih memilih calkada dan wakilnya didasarkan pada struktur sosial dan pengelompokan dalam masyarakat. Baik terkait dengan pengelompokkan menurut etnis, suku, Ras, dan lain-lain. Namun, kalau hasil pembangunan dinilai oleh mayoritas masyarakat sudah baik, maka peluang kemenangan  Tagop dan Ayub sangat besar dalam Pemilukada serentak nanti,” tegasnya.

Analis politik Universitas Darussalam (Unidar) Ambon Almudatsir Sangdji mengatakan, majunya Hakim Fatsey yang berpasangan dengan Antonius Lesnusa tidak dapat dianggap lemah oleh gerbong Tagop- Ayub.

“Anton Lesnusa, yang pernah maju pada pemilukada Bursel tahun 2011 lalu dengan memperoleh suara yang beda tipis dengan Tagop-Ayub. Artinya, Anton memiliki kekuatan basis di sana,” ungkapnya.

Dalam Pemilukada kabupaten Buru Selatan tahun 2011, pasangan Anthonius Lesnussa  Hadji Ali  hanya kalah tipis dari pasangan Tagop-Ayub dengan perolehan suara sebanyak 14.754 suara. Sementara pasangan Tagop Sudarsono Soulissa dan Ayub Seleky menang dengan memperoleh 15.413 suara

“Jadi kompetisi yang menarik, karena pasangan incumbent akan bersaing dengan rival, yang juga punya kekuatan basis massa. Tagop dan Ayub  sebagai incumbent yang lima tahun memimpin Bursel, kemudian maju bersiang dengan Hakim Fatsey dan Anton Lesnussa yang sebenarnya  punya kekuatan politik yang juga kuat,” kata Sangdji.

Kendati demikian, Sangadji memprediksi pasangan Tagop-Ayub memiliki peluang yang besar untuk kembali memimpin daerah itu dalam masa lima tahun ke depan. Sebab, menghadapi Pemilukda nanti, pasangan itu memilik sejumlah indikator kekuatan yang dapat membawa mereka keluar sebagai pemenang. “Tagop dan Ayub akan dijagokan oleh masyarakat karena keberhasilan pembangunan. Karena  status incumbent tadi,” katanya.

Namun, menurut  Sangadji indikator keberhasilan pembangunan juga dapat menjadi bumerang bagi pasangan Tagop- Ayub. Itu terjadi bila hasil pembangunan lebih banyak pada pertumbuhan, bukan pemerataan.

“Mungkin ada daerah-daerah yang mendapat perhatian pemkab , sementara yang lain masih kekurangan dalam hal pembangunan. Ini juga bisa mempengaruhi pilihan masyarakat, karena masyarakat yang merasakan hasil pembagunan telah baik, akan lebih menjatuhkan pilihan ke Tagop-Ayub,” katanya.

Indikator lainnya, yakni peluang Tagop-Ayub untuk merebut hati pemilih dengan pendekatan kultur. Dengan kekuatan ini, Tagop-Ayub dapat mendekati pemilih tradisional, selain pemilih rasional. “Untuk pemilih tradisional, Pa Tagop juga ada karena dari marga Soulissa, yaitu orang dari Jazirah yang mungkin punya hubungan sejarah leluhur dengan masyarakat di Leksula  merupakan salah satu basis pemilih tradisional,” katanya.

Membaca konfigurasi kandidat, memang pasangan Tagop-Ayub memiliki basis massa di Leksula. Namun harus diingat bahwa di daerah Leksula, pasangan Hakim-Anton juga punya basis yang tidak jauh berbeda dengan Tagop-Ayub. Kondisi tersebut akan menimbulkan persaingan yang ketat.

“Kalau dukungan di Leksula terhadap Tagop-Ayub tidak mayoritas atau hanya berimbang, sementara Ambalau yang basis Hakim Fatsey, dimenangkan oleh pasangan Hakim-Anton, ini akan membuka peluang kemenangan Hakim Fatsey dan wakilnya. Dan saya berani menganalisa bahwa di Ambalau  itu nanti  Hakim-Anton yang akan menang. Begitu juga di Waesama,” tegasnya.

Persaingan yang sama juga akan terjadi di basis terbuka untuk kedua kandidat, yakni di Namrole. Sebab, masyarakat di daerah ini, tidak terdiri dari dari satu suku, tapi bersifat heterogen atau masyarakatnya terdiri  dari banyak suku.(MAN)

Most Popular

To Top