Pemkot Separuh Hati Untuk Letisel – Ambon Ekspres
Trending

Pemkot Separuh Hati Untuk Letisel

AMBON,AE— Keterbelakangan bukan hanya terjadi di daerah-daerah yang jauh dari pusat kota, sebagian masyarakat di kota juga merasa termarjinalkan di tengah pesatnya pembangunan. Mereka terisolasi karena akses jalan yang terbatas. Kondisi ini berdampak pada kondisi ekonomi warga.

Kondisi ini terjadi di beberapa desa di Kecamatan Leitimur Selatan seperti Ema dan Kilang. Untuk itu, diperlukan keberpihakan kebijakan yang cepat untuk menjawab masalah yang cukup lama terbengkalai itu.

Di Desa Ema, pada 2012, barulah pemerintan kota Ambon melalui Dinas Pekerjaan Umum mulai melakukan pembangunan jalan dengan panjang sekitar 1,2 kilometer itu dengan jumlah anggaran Rp.9.663.806.000.
Disisi lain, terjadi kerusakan jalan yang menghubungkan desa-desa di Letisel dengan kota Ambon sejak 2013, belum diperbaiki. Jalan yang rusak akibat longsor itu, dengan panjang sekitar 25 meter dan kedalaman 3 centimeter.

Kondisi ini membuat masyarakat tergerak untuk memperbaiki secara swadaya. Pemerintah kecamatan dan desa sudah mengusulkan ke pemkot Ambon, namun jalan tersebut berstatus jalan provinsi, sehingga tidak ditindaklanjuti.

Direktur Mollucas Economy Reform Institute (MOERI) Tammat R Talaohu mengatakan, bukan hanya kota Ambon, namun secara keseluruhan di Maluku, keterisolasian disebabkan oleh minimnya pembangunan infrastruktur umum seperti jalan dan jembatan. Kondisi di Letisel memprihatinkan, karena masih berada dalam satu wilayah kota Ambon.

“Kalau sampai pada masyarakat secara swadaya membangun jalan, itu artinya sudah cukup memprihatinkan. Apalagi Letisel merupakan salah satu kecamatan di kota Ambon. Kepekaan pemkot perlu dipertanyakan,” ujar Temmy kepada Ambon Ekspres, Minggu (2/).

Menurut Temmy, ketiadaan infrastruktur jalan di Desa Ema, Naku dan Kilang, bisa disebabkan oleh keterbatasan anggaran. Namun, hal ini tidak bisa dijadilan alasan keterlambatan penyelesaian masalah keterisolasian di Letisel.
“Misalnya Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Maluku Rp1,2 Triliun. Untuk kota Ambon pasti dibawah Rp1 Triliun. Itu artinya, anggaran sangat terbatas. Nah, pemerintah jangan terlena dan harus bekerja maksimal menutupi kekurangan anggaran itu, agar dapat digunakan pembangunan jalan,”katanya.

Pemkot kata dia, harus memangkas anggaran belanja pegawai yang sampai dengan saat ini masih sekitar 70 persen. Sebaliknya, anggaran untuk belanja publik perlu ditingkatkan. “Caranya dengan memprioritaskan belanja barang publik. Jalan merupakan salah satunya, karena menjadi kebutuhan vital bagi mobilisasi dan perekonomian rakyat,” tandasnya.

Bahkan kata dia, bila pembangunan jalan belum terealisasi akibat keterbatasan anggaran, Pemkot perlu melakukan keberpihakan kebijakan. Anggaran untuk kebutuhan pembangunan jalan di desa lain, apalagi di daerah pusat kota, harus digunakan untuk membangun jalan di tiga desa tersebut.

“Jadi harus ada good will (kebijakan) dari pemerintah. Pembangunan ini kan soal keperpihakan, maka tidak bisa menunggu anggaran yang banyak,”ungkap dia.

Selain itu, ia juga mengatakan, di Maluku terdapat sekitar 800 Kilometer jalan daerah, baik provinsi maupaun kabupaten/kota yang sudah ditingkatkan statusnya menjadi jalan nasional. Jika pemkot terbatas ada ketersediaan anggaran, maka bisa memperjuangkan status jalan seperti ke kecamatan Leitimur Selatan menjadi jalan strategis nasional.

Camat Letisel, Richard Luhukay, saat dikonfirmasi via seluler mengatakan, 8 desa/negeri di Letisel, yakni Hukurila, Kilang, Naku, Hutumuri, Leahari, Rutong dan Ema, tidak terisolasi. Hanya ada beberapa kerusakan jalan yang dapat memutuskan akses transporasi jika tak segera ditangani.

“Sampai saat ini, Leitimur Selatan tidak ada negeri yang terisolasi, dan semua jalan sudah diaspal. Hanya ada beberapa kerusakan saja. Namun jika tidak ditanggulangi, bisa berakibat terputusnya akses,”kata Luhukay.

Disinggung soal swadaya masyarakat untuk membangun ruas jalan yang rusak akibat longsor, Luhukay, membantahnya. Kata dia, masyarakat hanya membantu untuk perbaikan jalan tersebut didanai oleh pemerintah kota Ambon.

“Yang saya tahu, masyarakat waktu itu bantu kerja lokasi yang longsor dengan bantuan pemkot. Tapi sekarang lokasi itu sudah diperbaiki oleh pemkot,” katanya.(TAB)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!