Proyek Asal Jadi Bernilai Rp12 Miliar – Ambon Ekspres
Trending

Proyek Asal Jadi Bernilai Rp12 Miliar

AMBON,AE— Rusaknya  talud penahan ombak di lokasi pelabuhan di desa Rumalusi kecamatan Pulau Teor kabupaten Seram Bagian Timur belum juga diperbaiki oleh pihak rekanan. Direncanakan, bulan ini perbaikan dimulai, namun  hingga kemarin, belum ada tanda-tanda akan dilakukan  perbaikan talud berukuran panjang 100 meter tersebut.

Proyek  bernilai Rp 12 milyar lebih tersebut, dianggarkan dalam APBN tahun 2014, mestinya sudah diperbaiki, mengingat kerusakan telah terjadi saat pekerjaan selesai pada awal tahun 2014 lalu. Hampir seluruh hasil pekerjaan talud telah hancur diterjang ombak. Untuk perbaikan, harus dibangun dari awal. Sehingga ditaksir membutuhkan anggaran yang tidak jauh berbeda dengan jumlah anggaran pekerjaan pertama. Sebab, volume pekerjaan untuk perbaikan diperkirakan juga tidak jauh berbeda.

Rekanan proyek hanya diberikan waktu pemeliharaan selama  tiga bulan hingga satu tahun. Dengan demikian, saat ini telah memasuki batas akhir masa pemeliharaan. Bila tidak segera diperbaiki, bisa melewati batas waktu pemeliharaan.

Proyek tersebut merupakan proyek tahap tiga pembangunan fasilitas pelabuhan Pulau Teor. Anggarannya dikucurkan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan RI dengan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) merangkap Kuasa Pengguna Anggaran adalah kepala kantor pelabuhan Geser Vera Alvaris.
Namun, Vera Alvaris yang kembali dikonfirmasi hanya menegaskan, dirinya telah meminta pihak PT Pasific Multindo Permai sebagai kontraktor pelaksana untuk segera memperbaiki kerusakan yang ada. “Saya sudah minta mereka agar secepatnya, segera mereka diselesaikan,” ungkapnya via seluler, Minggu (2/8)

Disinggung tentang lama serta batas waktu pemeliharaan hasil pekerjaan tersebut, Alvaris menampik untuk menjelaskan, termasuk tentang jenis sanksi yang akan diberikan kepada pihak rekanan bila sampai batas akhir masa pemeliharaan, perbaikan belum selesai. Dia juga mengaku tidak tahu banyak tentang proses serta hasil pembangunan talud tersebut. Sehingga ketika ditanya tentang pengawasan yang dilakukan terhadap kinerja pihak rekanan, Vera Alvaris tidak dapat memberikan penjelasan.

“Saya pernah turun ke sana. Tapi waktu itu pekerjaan belum dimulai. Kan ada konsultan pengawasnya,” kata Vera.
Yang ditunjuk sebagai konsultan pengawas dalam proyek tersebut adalah CV. Jasa Intan Mandiri.Namun, hingga berita ini naik cetak,  konsultan pengawas tidak berhasil dikonfirmasi. Termasuk pihak rekanan.

Koordinator Indonesia Democracy Reform Instute (INDEI), Wahada Mony mengemukan, pelabuhan adalah salah satu bentuk pelayanan pemerintah terhadap masyarakat dalam hal pelayanan transportasi. Sehingga, kerusakan yang terjadi harus segera diperbaiki.

“Demi pelayanan kepada masyarakat. Kami berharap pihak kontraktor  jangan berlam-lama. Kalau  sampai  masa pemeliharaan telah selesai tidak diperbaiki, siapa yang harus bertanggung jawab,” ungkapnya.

Karenanya, menurut Mony PPK dan KPA serta semua pejabat berwenang harus terus mendesak pihak rekanan untuk menunaikan kewajiban, memperbaiki hasil pekerjaan yang terkesan tidak tidak berkualitas itu. Kualitas hasil perbaikan nanti harus lebih baik dari hasil pekerjaan sebelumnya.
(MAN)

Most Popular

To Top