Tamatan STM Ini Sosok yang Langka – Ambon Ekspres
Trending

Tamatan STM Ini Sosok yang Langka

MESKI hanya lulusan STM, Hadrian Noor membuktikan bahwa dirinya bisa bertugas dengan begitu profesional sebagai investigator keselamatan transportasi di Indonesia. Di lingkungan pengujian kendaraan bermotor atau uji kir, sosok Hadrian Noor ibarat momok. Inspektur penguji kendaraan bermotor itu dikenal tanpa kompromi. Hadrian tegas dalam memberikan nilai uji mobil angkutan barang dan penumpang laksana hitam atau putih.

Tidak ada toleransi, apalagi negosiasi dalam menyatakan kendaraan lulus atau tidak. Jika tidak lulus, beberapa instrumen mobil harus dibetulkan sebelum diuji lagi untuk mengantongi surat lulus uji kir.

Sudah berbagai unit pelaksana teknis pengujian kendaraan bermotor di seantero Jatim Hadrian jelajahi. Sejak Dinas Perhubungan dan Lalu Lintas Angkutan Jalan (Dishub LLAJ) Jatim masih berstatus kantor inspeksi pada awal 1980-an maupun kantor wilayah sebelum era otonomi daerah.

Dia mengawali karir pegawai negeri sipil (PNS) sebagai calon pegawai Kantor Inspeksi LLAJ Raya, Kalimantan Selatan, pada awal 1980, setelah lulus dari STM Negeri Banjarmasin. ”Saya tertantang pindah ke Jatim pada 1985, salah satunya karena jumlah kendaraan bermotor di sini dengan kampung halaman antara 100 banding 1,” kata Hadrian di ruang tamu UPT LLAJ Mojokerto Selasa lalu (29/7) dengan didampingi Kepala Seksi Pengawasan dan Pengendalian Angkutan Jalan Yoyok Kristyowahono.

Mulai 24 Juli 2015 atau seminggu setelah Idul Fitri, Hadrian dimutasi dari Jembatan Timbang (JT) Singosari, UPT LLAJ Malang, ke JT Trowulan, Mojokerto. Ketegasan staf seksi pengawasan dan pengendalian angkutan jalan di setiap JT pun tidak kenal toleransi. Sama dengan ketika Hadrian masih merintis karir dari bawah dengan menjadi pemeriksa untuk pengujian kendaraan bermotor pada 1982.

Jenjang jabatan fungsionalnya perlahan naik sebagai asisten penguji, penguji, hingga inspektur pada Desember 2014. Sifat ”hitam-putih”-nya terlihat dari syarat yang dia minta untuk wawancara. Hadrian baru mau diwawancara begitu Kepala Bidang Pengendalian Operasional Dishub LLAJ Jatim Muhammad Isa Anshori mengizinkan. Durasinya harus sepengetahuan Kepala UPT LLAJ Mojokerto Emmy Retnowati.

”Saya menyita jam kerja. Tidak etis tanpa sepengetahuan atasan,” tegas pria kelahiran Banjarmasin, 18 Mei 1958, yang berdomisili di Jalan Menanggal I, Surabaya, itu.

Lantaran baru dimutasi ke Mojokerto, Hadrian menghabiskan hari-harinya di JT Trowulan. Menurut Yoyok, stafnya itu tergabung dalam PLO. ”Hadrian itu termasuk pasukan lali omah,” kelakar pria berbadan kekar tersebut saat menjelaskan arti PLO.

Selama hampir sepekan, Hadrian tidak pulang ke rumah. Dia mengaku khawatir tidak bisa masuk kerja on time karena ruas jalan dari rumahnya di Gayungsari ke Trowulan terkenal macet.

Hadrian menceritakan, lingkungan keluarganya di Banjarmasin dan Banjarbaru, Kalsel, bergerak di bidang ekspedisi. Ayahnya, Syamsuri (alm), adalah pengusaha truk angkutan yang beroperasi di Pelabuhan Barito dan Trisakti. Berkat kesenangan terhadap otomotif, anak kedua di antara lima bersaudara itu lebih memilih berkarir sebagai PNS di bidang perhubungan, tidak meneruskan usaha sang ayah.”Sejak remaja, saya suka baca majalah MM (Mobil Motor). Itu menunjang saya berkarir sebagai penguji kendaraan bermotor,” ujar Hadrian.

Suatu waktu, masa izin kir beberapa truk milik ayahnya hampir habis. Truk-truk tersebut menjalani uji kir di tempat Hadrian berdinas. Penghobi jalan-jalan itu tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa kendaraan tersebut belum memenuhi syarat. Tanpa tedeng aling-aling, dia melarang truk ayahnya beroperasi.

Hadrian menyarankan anak buah Syamsuri membawa kendaraan itu ke bengkel untuk diperbaiki. ”Kalau sudah urusan dinas seperti ini, saya tidak pilih-pilih. Lebih baik uji kir kendaraan bapak saya tidak saya luluskan daripada nanti bikin celaka di jalan,” tutur dia.

Gara-gara sikap tegas tersebut, dia sering dimaki si sopir. Untung, sang ayah bijaksana dalam menyikapi. ”Sopirnya saja yang mencoba memanfaatkan saya,” kenang Hadrian.

Dalam perjalanan karirnya sebagai penguji kendaraan bermotor, beberapa kepercayaan Hadrian peroleh dari atasannya untuk mewakili Jatim menghadiri undangan Ditjen Perhubungan Darat.Misalnya kursus atau pelatihan keselamatan LLAJ di Balai Diklat Transjaya, Tegal, pada 1992. Ketika itu instruktur yang memberikan materi berasal dari Germany Transport Safety Bureau.

Kemudian, dia juga mengikuti beberapa pelatihan investigasi kecelakaan jalan maupun keselamatan transportasi yang diselenggarakan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). KNKT merupakan badan yang langsung berada di bawah presiden. Badan yang kini dipimpin Marsda (pur) Tatang Kurniadi itu bertanggung jawab melakukan investigasi atas kecelakaan transportasi darat, laut, maupun udara.

KNKT memberikan usulan perbaikan agar kecelakaan tidak lagi terjadi. Fokus hasil investigasinya adalah lebih memperbaiki sistem keselamatan transportasi. Bukan mencari siapa yang salah dari kecelakaan transportasi.”Saya angkatan pertama diklat investigasi kecelakaan angkutan jalan di Bandung pada 2011. Ketika itu saya satu-satunya wakil Jatim dari 20-an peserta,” terang Hadrian.

Sedangkan Chisjqiel mengikuti jejak Hadrian sebagai investigator keselamatan LLAJ setahun kemudian. Setelah itu, delapan training investigator safety LLAJ dan sosialisasi pencegahan kecelakaan transportasi dilakoni dua serangkai itu dalam kurun waktu hampir empat tahun ini. ”Yang terakhir Advance Road Safety Investigation Course II kerja sama KNKT dan Australia di Jakarta pada Mei 2015,” lanjutnya.

Hanya kecelakaan transportasi yang bersifat luar biasa yang mereka investigasi. Antara lain, insiden lalu lintas jalan yang menimbulkan korban meninggal dunia (MD) minimal delapan orang, mengundang perhatian luas karena melibatkan tokoh ternama atau figur publik, dan menimbulkan polemik maupun kontroversi. Juga kecelakaan yang mengakibatkan prasarana rusak berat, berulang-ulang pada merek dan tipe kendaraan yang sama, terjadi di satu titik lokasi lebih dari tiga kali setahun, serta mengakibatkan kerusakan atau pencemaran lingkungan gara-gara limbah atau bahan berbahaya beracun.

”Pihak polres sering meminta kami untuk menginvestigasi meski jumlah korban MD hanya 1–2 sebagai bahan keterangan saksi ahli dalam berkas penyelidikan maupun sidang,” terangnya.

Investigasi yang berkesan bagi Hadrian justru ketika meneliti kecelakaan mobil listrik Tucuxi yang dikendarai Dahlan Iskan ketika menjabat menteri BUMN, 5 Januari 2013. Bagi dia, banyak kecelakaan menonjol terjadi pada kendaraan berbahan bakar minyak.

Sedangkan mobil yang diinvestigasi termasuk produk penelitian yang belum diproduksi masal maupun dirancang-bangun. ”Waktu itu saya diperintahkan berangkat pukul 02.00 dini hari,” ingatnya.

Hadrian menambahkan, sampai kini dirinya bersama Chisjqiel masih menuntaskan investigasi insiden kereta inspeksi Sindoro yang bertabrakan dengan truk crane. Insiden itu terjadi di lintasan yang sebidang dengan jalan di Banjar Kemantren, Buduran, Sidoarjo, pada 16 Juli 2014 menjelang dini hari.

”Kereta baru kembali dari Banyuwangi setelah ditumpangi wakil menteri perhubungan untuk meninjau arus Lebaran,” ucap Hadrian, yang Mei 2016 pensiun sebagai PNS.

Kegalauan segera mengakhiri tugas sebagai abdi negara sempat menderanya. Sebagai investigator keselamatan transportasi senior yang berlatar belakang pendidikan STM, dia menilai proses regenerasi sampai kini belum terealisasi. Sekali pun masa berlakunya sebagai investigator KNKT masih empat tahun lagi. ”Ada tiga personel di Jatim yang sedang diproses pengajuannya di KNKT,” ucap bapak dua anak dan kakek dua cucu itu.

Tiga calon tersebut adalah Kepala Seksi Pengawasan dan Pengendalian UPT LLAJ Kediri Nurul Ahzan, Staf Teknik Rancang Bangun Bidang Lalu Lintas Dishub LLAJ Jatim Tri Prasetyo, dan Staf UPT LLAJ Lamongan di JT Baureno Slamet. ”Mudah-mudahan pengajuan segera dikabulkan,” harap Hadrian.
(JPNN)

Most Popular

To Top