JMP Rampung September – Ambon Ekspres
Trending

JMP Rampung September

AMBON,AE— Pembangunan jembatan merah putih (JMP) terus dilakukan. Tersisa pemasangan baja struktur pada bagian bentang tengah jembatan. Pekerjaan terhambat kondisi cuaca. Namun, Satuan Kerja (Satker) JMP terus berusaha agar jembatan yang akan menelan anggaran sekitar Rp416,76 milyar itu, rampung pada September nanti.

Kepala Satuan Kerja (Satker) Jembatan Merah Putih (JMP) pada Badan Pelaksana Jalan dan Jembatan (BPJJN) Wilayah IX Maluku-Maluku Utara, Chris Lasmono mengatakan, untuk jembatan pendekat pada sisi Galala dan Poka telah selesai 100 persen. Sementara di bagian bentang tengah, masih tersisa sekitar 17 persen pekerjaan yang belum selesai. Pekerjaan difokuskan pada persiapan  pemasangan baja struktur.

“Kalau bagian jembatan pendekat, kita gunakan beton. Sementara bentang tengah gunakan baja. Tinggal pasang baja struktur di bentangan tengah,” kata Lasmono kepada Ambon Ekspres di ruang kerjanya, Rabu (5/7).

Untuk anggaran, dari  total jumlah anggaran yang dialokasikan untuk JMP, tersisa sekitar Rp 50 milyar untuk penyelesaian sisa pekerjaan yang ada. Tidak lagi dilakukan mobilisasi material dari luar Maluku. Semua sudah tersedia di lokasi pekerjaan, hanya tergantung kondisi cuaca.

“Kami berharap, ada dukungan doa dari semua pihak untuk kami berusaha, bekerja 24 jam. Artinya, selama kondisi cuaca mendukung. Bukan hanya hujan berkurang, tapi angin juga harus berkurang, kami akan terus bekerja,” jelasnya.

Diakuinya, pihaknya sering mendapat desakan dari banyak kalangan untuk merampungkan mega proyek tersebut. Namun, pihaknya tidak dapat berbuat  banyak ketika memasuki kondisi cuaca buruk.  Apalagi, lanjutnya, untuk sisa pekerjaan pada bentang tengah, para pekerja harus berada di atas ketinggian 80 meter dari permukaan air laut, merupakan masalah yang harus diantisipasi.

“Itu bisa dilihat sendiri dengan cuaca dengan kecepatan seperti itu. Saat kita bertemu gubernur, kita diminta menambah sumber daya, kami sampaikan bahwa kami bekerjaan di atas ketinggian  80 meter dan diatas itu mereka hanya berada pada ruang yang sempit. Makanya, kami bagi sumber daya untuk  shift siang dan malam.  Jadi kalau SDM, dan pertalan sudah otomal. Tapi kendala kami adalah cuaca,” jelasnya.

Pihaknya tetap mengutamakan keselamatan para pekerja. Terutama yang bekerja di atas tiang bentang tengah. Karenanya, telah dipasang peralatan cenggih sebagai peringatan bila kecepatan angin meninggi. “Tentunya menjadi konsen pertama kami adalah keselamatan para pekerja. Jadi kalau ada cuaca buruk, ya terpaksa kami turunkan pekerja,” kata dia.

Terkait harapan agar JMP bisa selesai sebelum even  Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi)  tingkat nasional  ke 11, Oktober  tahun ini di kota Ambon, Lasmono menegaskan, pihaknya akan berusaha agar harapan tersebut dapat terwujud. “Tim kami sudah full di lapangan.  Kami  berusaha terus untuk menyelesaikan sisa pekerjaan,” katanya.

Anggota DPD RI asal Maluku John Pieris, menyayangkan target penyelesaiannya. JMP rencananya diresmikan pada Oktober 2015 bertepatan dengan Pesparawi di Kota Ambon. Namun, jika dilihat dari perkembangan struktur bangunan yang telah berdiri, bahkan belum bisa selesai sampai Oktober. Kecuali jika pemerintah mau mempercepat dengan cara menggelontorkan dana untuk dikerjakan non stop 24 jam.

Melihat perkembangan pembangunan JMP seperti ini, John berencana akan menyampaikannya ke pemerintah pusat melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Kementerian PU. Sehingga kendala yang dihadapi dapat diketahui dengan jelas, guna mempercepat pembangunan JMP.

“Ini masalahnya gampang, saya akan sampaikan kepada Menteri Keuangan dan Menteri PU secara langsung. Kami juga bisa mengundang mereka rapat secara resmi, hal ini bila pemerintah daerah mengirimkan surat kepada kami di DPD RI. Namun saya juga bisa bertemu kedua kementerian itu secara langsung. Dan mungkin ini yang akan saya tempuh.” Kata John, kepada Ambon Ekspres biro Jakarta, melalui telpon selulernya, Rabu (5/8).

Dia menguraikan, jika JMP jadi maka akan menjadi ikon wisata. Bahkan juga bisa menambah PAD, bila pemerintah mau memasang tarif bagi kendaraan yang melewati JMP. John Pieris sendiri setuju apabila pemerintah memasang tarif, seperti toll. “Jika satu mobil melewati jembatan tersebut membayar Rp 20 ribu, coba kalikan saja jika 300 mobil yang melintas dalam satu hari.” Katanya.

Ketua komisi C DPRD Provinsi Maluku, Fredy Rahakbauw berharap, JMP bisa selesai tepat waktu.   DPRD masih optimis, dengan keberadaan Amran Mustari sebagai kepala Balai Jalan Maluku dan Maluku Utara, JMP bisa tuntas secepatnya. “Kita masih optimis dan tetap menaruh harapan kepada Amran untuk menyelesaikan sisa pekerjaan yang ada,” ujar politisi partai Golkar itu. (MAN)

Most Popular

To Top