6 Koruptor, 6 Napi RMS, Dapat Remisi – Ambon Ekspres
Trending

6 Koruptor, 6 Napi RMS, Dapat Remisi

Papilaja Dapat Remisi, 1 Napi RMS Bebas

AMBON, AE— Masa kurungan penjara mantan walikota Ambon MJ Papilaya dan lima koruptor lain di Maluku dikurangi.  Pemerintah juga memberikan remisi kepada enam anggota Republik Maluku Selatan (RMS). Satu diantaranya, yakni Alexander Tanate langsung bebas. Pemberian remisi tersebut dalam rangka perayaan HUT ke-70 kemerdekaan negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Upacara pemberian remisi dipusatkan di gedung aula  Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIA Ambon, Waeheru, Ambon, Senin (17/8).  Dipimpin oleh  Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Maluku Sahabudin Kilkoda dan kepala Kejaksaan Tinggi Maluku , Chuck Suryosumpeno.

Mantan walikota Ambon, MJ  Papilaya yang merupakan terpidana kasus proyek fiktif  TPU Gunung Nona senilai Rp 2 milyar lebih pada tahun  2004, sebelumnya diganjar hukuman penjara selama satu tahun pada, Selasa (28/10), juga mendapat remisi.

Koruptor lain yang mendapat remisi  adalah  mantan  Direktur Utama (Dirut) PD Panca Karya,  Yacob Christian Huwae. Dia merupakan terpidana kasus suap kepada mantan Ketua Komisi C DPRD Provinsi Maluku, Jafet Damamain. Yacob Huwae divonis bersalah. Dia dijebloskan ke Lapas Klas IIA Ambon berdasarkan putusan Mahkamah Agung (MA) yang menghukumnya dengan 1 tahun penjara, denda Rp 50 juta subsider 3 bulan penjara. Huwae mulai menjalani masa hukuman sejak Januari tahun ini.

Selanjutnya, yang mendapat remisi mantan kepala  Inspektorat  kota Ambon Jacky Talahatu dan dua mantan anak buahnya, masing-masing Audy Tuahattu dan Agustinus Pattileamonia. Mereka adalah  terpidana kasus korupsi proyek taman kota tahun 2012. Ketiganya dihukum vonis bersalah dengan hukuman penjara 1tahun dan denda Rp50 juta.

Terakhir,  Mohammad Vanath, terpidana kasus  korupsi anggaran proyek pengadaan obat-obatan di dinas Kesehatan Seram Bagian Timur tahun 2011-2012  itu  dijatuhi hukuman  1,8 tahun penjara. Dan terpidana kasus korupsi anggaran proyek rumput laut di Kabupaten Buru Selatan, Corneles Sahetapy. Sebelumnya Sahetapy divonis  bersalah oleh PN Tipikor Ambon pada  pada 20 November 2014  dengan hukuman 1.2 tahun penjara. Dia  menjalani hukuman di Lapas Klas IIA Ambon sejak  13 Januari 2015.

“Terpidana kasus korupsi yang mendapat remisi adalah mereka yang telah membayar denda kepada negara. Mereka mendapat remisi dasawarsa dengan potongan masa hukuman maksimal 3 bulan,” ungkap kepala divisi Pemasyarakatan Lapas KLas IIA Ambon, PC. Anwar Sudjono disela upacara pemberian remisi tersebut.

Sementara untuk terpidana kasus makar, yakni pengikut gerakan Republik Maluku Selatan (RMS), kemarin Alexander Tanate langsung bebas setalah masa hukumannya dikurangi. Tanate merupakan  salah satu  pengikut RMS yang turut dalam tarian Cakalele pada puncak perayaan Hari Keluarga Nasional (Harganas) 29 Juni 2007 lalu di Lapangan Merdeka Ambon. Dia divonis bersalah dengan hukuman penjara  selama 10 tahun.

Sementara terpidana lain dari kelompok RMS yang hanya mendapat remisi adalah Daniel Malawau  yang dijatuhi hukuman 15 tahun penjara, Daniel Akihary yang dijatuhi hukuman 12 tahun penjara, Jefta Saija dijatuhi hukuman 12 tahun penjara, Samuel Hendriks  dijatuhi hukuman 10 tahun, dan Elly Sinay yang dijatuhi hukuman 10 tahun.“ Mereka juga mendapat remisi dasawarsa,” kata Anwar Sudjono.

Dalam laporannya, kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku Sahabudin Kilkoda menyebutkan, sebanyak 468 narapidana di Maluku yang mendapatkan remisi. Terdiri dari narapidana kasus pidana umum dan pidana khusus.  Sebanyak 455 mendapatkan remisi umum I (RU I) atau pemotongan masa hukuman selama satu sampai enam bulan.  Sementara 13 narapidana lainnya memperoleh remisi umum II (RU II) pemotongan masa hukuman dan narapidana langsung bebas.

Untuk remisi khusus dasawarsa, hanya diberikan setiap sepuluh tahun, dalam perayaan HUT kemerdekaan RI. Di tahun 2015, total ada 527 narapidana yang mendapatkan remisi khusus dasawarsa. Demikian juga remisi khusus dasawarsa yang terbagi dalam dua bagian. Remisi khusus dasawarsa I diberikan kepada 511 Narapidana, dan remisi khusus II atau langsung bebas sebanyak 16 orang.

Menteri Hukum dan HAM R.I Yasonna H. Laoly dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh Kepala Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku, Chuck Suryosumpeno mengungkapkan, remisi  merupakan instrumen yang dapat merubah perilaku narapidana. Karena, remisi hanya diberikan kepada narapidana yang berkelakuan baik, serta taat pada aturan.

“Remisi, dapat merubah perilaku narapidana untuk menjadi lebih baik. Karena remisi, tidak akan diberikan kepada mereka yang melanggar tata tertib, “katanya.
(MAN/AFI)

Most Popular

To Top