Jery Seipalla, Sang Danton Paskibra – Ambon Ekspres
Trending

Jery Seipalla, Sang Danton Paskibra

Jerius Seipalla (17). Bungsu dari 9 bersaudara ini, selalu bertekad tinggi menjadi seorang Tentara Nasional Indonesia (TNI). Tak heran jika setiap waktu senggangnya, dihabiskan mengikuti olahraga bela diri, Taekwondo. Ini dilakukan untuk menambah ketrampilan, displin, serta bekal untuk melengkapi cita-cita dimasa depan. Kini dia dipilih menjadi salah satu anggota pasukan pengibar bendera merah putih.

Ketika usianya masih 7 tahun, Jery ditinggal sang ayah Christian Seipalla pada tahun 2005 lalu. Pria kelahiran Piru, 15 Desember 1997 ini, harus bertahan hidup tanpa kasih sayang seorang ayah. Namun pengorbanan sang Ibu Norce Bakarbessy, membuat Jery tumbuh menjadi anak yang tegar dan berprestasi.

Lulusan SMP Negeri 1 SBB, dan kini duduk di bangku kelas XI di SMA 1 SBB, cukup berprestasi. Selain prestasi akademik, dia juga menoreh prestasi baik di olahraga Taekwondo.  Jery sempat mengikuti kejuaraan Taekwondo Best of The Best Tingkat Nasional yang dibuka secara umum.

Namun kesempatan itu Ia tinggalkan, ketika Dinas Kepemudaan Dan Olahraga Provinsi Maluku datang menyeleksi para siswa-siswi untuk menjadi Calon Paskibraka (Capas) dalam rangka HUT RI ke 70, 17 Agustus 2015. Seleksi dia ikuti. Tahap demi tahap dituntaskan.

Remaja yatim ini tak menyangka akan dipilih mengikuti Calon paskibraka (Capas), seleksi Tingkat Provinsi Tahun 2015. Dari 12 Siswa yang diseleksi yakni SMA 1 SBB dan SMA 3 Katapang, Jery lah yang berhasil masuk calon paskibraka tahun 2015.

Tes fisik maupun mental berhasil ia lewati. Tentunya dukungan serta motivasi dari sang ibu dan keluarga, mempermudah Jery bertolak ke Kota Ambon. Ia bersama 53 Capas lainnya ditampung di Kantor Pemprov Maluku Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Jalan Pemuda Karang Panjang Ambon.

Setelah melalui beberapa pelatihan dan seleksi, Jery dipercayakan menjadi Danton untuk memimpin Pasukan 17 dan Pasukan 8 memasuki lapangan upacara, pada saat pengibaran Bendera Merah Putih.

Alasannya memilih bergabung dalam Paskibraka, sederhana saja. Bagi dia, paskibraka merupakan kunci utama memuluskan cita-citanya menjadi seorang prajurit TNI. “Tidak gampang untuk menjadi Paskibraka. Dan saya berhasil dipilih sebagai Paskibraka. Kalau Taekwondo itu tiap tahun pasti ada kejuaraan yang digelar. Tetapi kalau menjadi Paskibraka, itu satu kali dalam hidup,” jelasnya, dengan lantang.

Latihan menjadi seorang anggota  Paskibraka, membuatnya terlihat disiplin dalam berbicara. Sikapnya, bagaikan seorang prajurit TNI yang sedang berbicara. ID card yang bertuliskan Capas  Provinsi Maluku 2015, sempat diperlihatkannya kepada saya.

Menjadi disiplin, dan bersikap seperti seorang prajurit TNI juga tak mudah. Untuk mendapatkan itu, dia bersama puluhan rekan-rekannya harus bermandi peluh, dibawah terik matahari. Kulit sawo matangnya, berubah menjadi hitam dalam sekejap.

Teriakan-teriakan keras berupa motivasi dari pembina, menjadikan Jery dan kawan-kawan selalu tegar dan percaya diri mengikuti pelatihan, di Lapangan Merdeka Ambon.

“Kita dibina oleh Kaka Purna dengan diajarkan yel-yel. Baris berbaris, disiplin dalam berbicara bahkan cara makan dengan baik juga diajarkan. Bangun 04.30 WIT kemudian senam pagi, mandi, sarapan pagi. Terus berangkat untuk latihan hingga istirahat pada waktunya sekitar pukul 17.00 WIT,” kata Jery.

Hadap kiri, hadap kanan, balik kanan serta langkah tegak maju, adalah dasar dari cara baris berbaris yang diajarkan pelatih kepada seluruh Capas 2015. Setelah itu, baru di lakukan proses pelatihan untuk membuat formasi bagi pasukan Paskibraka.

Dengan bakat serta keahliannya, Jery dipercayakan sebagai Danton untuk memimpin Pasukan 17 dan Pasukan 8. Dari 54 Capas yang dilatih, dibagi dalam 2 platon. Tiap platon berjumlah 27 Capas. 27 Capas akan diberikan mandat untuk melakukan pengibaran Bendera Merah Putih. Dan 27 Capas lainnya akan mendapat tugas untuk proses penurunan bendera Merah Putih pada waktu sore hari.

Sempat gugup saat dipilih menjadi Danton untuk pasukan 17 dan 8. Karena ia harus berperan aktif dalam memimpin pasukannya memasuki lapangan upacara dan akan dilanjutkan oleh Wadankinya yang memimpin seluruh pasukan pengibaran bendera.

Namun sikap itu berhasil ia atasi, setelah beberapa hari mendapat motivasi serta pengalaman dari Pembina. “Disini ada 54 capas terdiri dari dua platon. Platon bangsa dan platon nusa. Saya sebagai pemimpin pasukan 17 dan 8 sebagai Danton untuk memberikan komando. Disamping Wadanki, untuk memberi aba-aba memasuki lapangan upacara. Dan ini cukup berat dan penting, sangat luar biasa bagi saya,” kata dia.
***
Jumat (14/8). Sore hari. Saya bertemu lagi dengan Jery. Dia tampak sedih. Rasa rindu kepada sang ibu dan keluarga tak bisa disembunyikan. Sebagian teman-temannya selalu dikunjungi keluarga mereka. Namun, ibu Jery tak bisa datang.  Penghasilan yang pas-pasan, menjadi alasan bagi sang Ibu untuk tidak bisa rutin membesuk Jery.

Jadwal besuk sudah ditentukan. Satu kali dalam seminggu. Selama di karantina, baru sekali Jery dibesuk Ibunya. Jery sadar, kalau kehadiran sang ibu pada Minggu (10/8) untuk datang sekaligus mewakili minggu sebelumnya.

“Setiap minggu ada jam besuk dari orang tua. Semua orang tua datang melihat anaknya. Tetapi baru sekali saya dibesuk. Dan saya tau, pasti ada alasannya. Dan saya sangat gembira, ketika Ibu saya membesuk saya,” ujar Jery.

Dalam keseharian di karantina, membuat Jery sangat dikenal teman-temannya yang berasal dari berbagai daerah di Provinsi Maluku. Sikap saling menghargai sesama teman, serta rasa hormat kepada pembina dan juga seniornya, selalu ia tunjukan. Teman-temannya selalu ada ketika dia memendam rasa rindu kepada ibunya. “Mereka  seperti keluarga sendiri,” ungkap dia.

Jery maupun capas lainnya, selalu berlatih siang malam. Pagi-pagi mereka sudah harus siap-siap untuk diangkut dengan bus menuju Lapangan Merdeka. Sorenya mereka kembali lagi masuk karantina. Malamnya, para capas akan mendapat pelatihan berupa pengalaman-pengalaman yang dibagikan oleh kakak-kakak purna sebagai motivasi bagi para capas.

Kerasnya latihan membuat dia sempat ingin mengundurkan diri. Namun keinginan itu kembali berubah ketika Jery mengingat pesan-pesan dari sang ibu, yang sangat mengharapkan Jery bisa berhasil menjadi seorang paskibraka dan dilantik menjadi seorang purna.
***
54 Anggota Capas resmi menjadi Paskibraka. Mereka akan menjadi penggerak bendera pada pukul 10.00, tanggal 17 Agustus 2015, di Lapangan Merdeka. Segala kondisi fisik maupun mental telah dipersiapkan semaksimal mungkin menghadapi momen penting itu.

Senin (17/8), orang menyemut di Lapangan Merdeka. Suara sirine dibunyikan sekira pukul 09.30 WIT, menandakan upacara akan segera dimulai. Kursi-kursi VIP yang berada pada tribun terdepan langsung diisi sejumlah orang penting di Maluku.

Jery dan rekan-rekan mulai memasuki lapangan upacara. Jery didampingi Wadankinya memimpin pasukan 17 dan pasukan 8 beserta rombongan untuk masuk menuju lapangan. Dia langsung berhadapan dengan tribun dimana Gubernur Maluku, Said Assagaff berada.

Bendera pun diterima. Pasukan 17 dan pasukan 8 kemudian meninggalkan podium gubernur. Mereka menuju tiang bendera untuk menunaikan tugas pengibaran bendera Merah Putih. Iringan lagu Indonesiua Raya langsung menghantarkan bendera Merah Putih ke ujung tiang dan langsung berkibar.

Senang dan gembira terpancar dari wajahnya. Karena setelah platon lainnya melakukan penurunan bendera pada sore hari, maka Jery beserta rekan-rekan Paskibraka lainnya akan segera dilantik menjadi purna tahun 2015.
“Setelah pulang dari Karantina akan menjadi contoh yang baik, khususnya untuk SBB. Akan saya ajarkan tentang baris berbaris kepada teman-teman saya di SBB. Jika ada hadiah yang diberikan, akan saya persembahkan bagi orang tua saya. Sebagai bukti kesuksesan saya selama ini,” tutur Jery.  (***)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!