Berkarya Lewat Tulisan, Dianugerahi Penghargaan GMGM – Ambon Ekspres
Trending

Berkarya Lewat Tulisan, Dianugerahi Penghargaan GMGM

Bripda  Ahmad Mansyur, Penulis Dari Polda Maluku

Berdarah asli Makassar, Sulawesi Selatan dan sedang mengemban amanah negara yang menuntut disiplin ekstra  sebagai anggota Polri, tidak menjadi  penghalang bagi Ahmad  Mansyur untuk memberikan karya lebih bagi Maluku.

Masalah pendidikan menyedot perhatiannya. Tak ayal,  lomba karya tulis ilmiah yang dikemas pemerintah provinsi Maluku dan Harian Ambon Ekspres dalam program Gerakan Maluku Gemar Membaca (GMGM) tidak Ia lewatkan begitu saja. Bangga, nama anak buah Brigjen Pol Murad Ismail itu  turut meramaikan daftar pemenang lomba.

Perawakan sedang,  potongan rambut khas  aparat keamanan, ramah,  bersahaja, sedikit humoris, dan yang tak kalah nampak adalah kentalnya logat  Makassar dari setiap tuturnya. Itulah yang tergambar  dari  sosok  Brigadir Polisi Dua  (Bripda) Ahmad Mansyur saat bertandang ke Graha  harian  Ambon Ekspres, akhir pekan kemarin.

Mengenakan kostum  klub sepak bola ternama,   Barcelona, dibalut  jaket  kulit warna hitam, dan celana panjang warna abu-abu,  menebarkan  kesan kesederhanaan  anggota Brigade Mobil (Brimob) Polda Maluku itu.

Pria kelahiran  tahun 1991  itu baru saja mengukir  prestasi di luar profesinya sebagai anggota Brimob Polda Maluku.  Karya tulisnya  yang  berjudul  “Pendidikan Sebagai Senjata  Utama Memajukan Provinsi Maluku,” diapresiasi dewan juri   lomba karya tulis  program Gerakan Maluku Gemar Membaca (GMGM), pekan kemarin.  Ahmad pun didaulat, masuk  tiga besar pemenang lomba  untuk kategori masyarakat umum.

Menulis  telah  menjadi  bagian  penting dari seorang Ahmad  Mansyur. Sehingga,   mendapat  informasi  tentang lomba karya tulis  mengenai pendidikan di Maluku, Ahmad  pun menyanggupinya,  siap menerima tantangan itu dengan mengirim satu karya tulisnya ke meja dewan juri. Tak tanggung-tanggung, untuk memperkaya karya tulisnya  dengan bahasan yang  ilmiah, Ahmad  rela merogoh kantong untuk membeli beberapa buku tentang pendidikan sebagai referensi.

Sadar akan kesibukan utamanya, ditambah rutinitas selama lima hari berturut-turut sebagai staf adiministrasi di kesatunnya,    mahasiswa  semester V  Fakultas hukum Universitas Darussalam (Unidar) Ambon itu harus  mengurangi  waktu bersantai.  Setiap  ada waktu senggang, dia memilih untuk  merampungkan karya tulisnya.

Tidak menunggu sampai lepas tugas. Di tengah tugas pun Ia sempatkan diri  bersibuk ria dengan tugas tambahannya itu,  mengutak-atik keyboard  komputer di kantornya, menambah  tulisan yang masih kurang, mengganti  yang kurang pas, dan mengurangi yang tidak terlalu penting.  Buku-buku referensi pun dibawa serta. Itu bujan bena baginya, tapi tantangan yang menyenangkan.

“ Setelah patroli, kembali ke Pos, pantau  situasi.  Ada  kesempatan, ngentik lagi. Paling  lama sekitar  25 menit lah, dalam  satu malam piket. Itu pun kalau  tidak  ada perintah. Jadi hasilnya (karya tulis)  baru kelar setelah kerja dua Minggu,” katanya.

Nimbrung dalam lomba karya tulis  program GMGM, bukan sekadar obsesi  untuk merebut hadiah atau penghargaan.  Bagi   Ahmad, program GMGM  merupakan salah satu kesempatan  yang  tepat untuk  berkarya,  menulis ide-ide positif  sebagai  bentuk sumbangsih pemikiran bagi  pemerintah daerah dan stakeholder lain di Maluku  untuk lebih memajukan kualitas dan kuantitas  pendidikan di daerah seribu pulau ini.

Melalui judul karya tulisnya tersebut, lulusan SMA Negeri 6 Makassar itu mengisyaratkan, bila pendidikan mendapat perhatian serius dari semua elemen di daerah ini, bukan hal yang mustahil bila Maluku akan lebih maju, menjadi lebih baik dalam segala bidang pembangunan. Apalagi daerah ini telah dianugerahi potensi sumber daya alam yang berlimpah ruah. Menanti tangan-tangan trampil untuk mengelolahnya dengan baik,  agar bermanfaat bagi semua masyarakat di daerah ini.

“ Pendidikan di Maluku secara umum sudah baik. Ada banyak perguruan tinggi. Saya lihat banyak  siswa-siswi yang berprestasi, ada yang   ikut  lomba O2SN. Mereka itu harus selalu diberikan perhatian serius. Diberikan  beasiswa atau bantuan dalam  bentuk lain, agar mereka lebih termotivasi untuk belajar,” sarannya.

Roh program GMGM  harus selalu dihidupkan dan diwariskan kepada setiap generasi. Karena dengan membaca, menulis, kemudian diberikan kesempatan untuk  berkompetisi dalam membuat tulisan yang ilmiah, akan lebih memacu daya pikir dan daya kritis masyarakat, terutama generasi muda  dalam  menghadapi tantangan zaman.

Menulis bagi Ahmad, merupakan  cara  untuk  ‘mengabadikan’ pengalaman serta ilmu pengetahuan yang membawa manfaat bagi orang lain, terlebih orang banyak. Dengan mencintai kegiatan menulis tentang hal-hal yang positif dan inspiratif, kemudian menyampaikan kepada   khayalak ramai, bukan  tidak mungkin  bila si penulis  menjadi bagian dari penyebab perubahan dalam  masyarakat ke arah yang lebih baik.

“Sebaik-baik investasi adalah berinvestasi  dalam ilmu pengetahuan. Manfaatnya tidak berhenti, untungnya  selalu mengalir,  bahkan  sampai  kita  meninggal dunia, karena ilmu yang bermanfaat adalah amal Jariyah,”  ujarnya.
Lomba  karya tulis dalam program GMGM bukan ajang pertama yang diikutinya.    Kemampuan  untuk meramu  setiap hal yang terlintas di benaknya   dalam bentuk  tulisan,  telah Ia tunjukkan sejak masih duduk  di bangku Sekolah Dasar (SD).

Kala  menimba ilmu di SD  Negeri Mandai,  kecamatan Biringkanaya  kota Makassar,     si  bungsu  dari tujuh  bersaudara itu telah menjadi ‘penulis lepas’  di sejumlah media cetak.  Hasil karyanya   kerap menghiasi   halaman media –media cetak di kota Makassar. Salah satunya,  harian Fajar.   Bahkan, dengan kemampuannya  itu, si kecil Ahmad telah turut  meringankan beban orang tuanya   melalui  honor yang didapat  dari pemilik media atas karya tulisnya yang telah dimuat.

“Biasanya nulis  puisi. Orang tua saya melihat itu,  lalu mereka kirim ke media-media cetak. Ada honornya juga, tapi saya tidak tahu berapa jumlahnya. Maklum, waktu itu, saya belum begitu paham tentang  uang,  tahunya menulis saja. Jadi  orang tua  yang urus. Lumayan,    tambah-tambah buat  bayar biaya sekolah saya,” tuturnya.

Anak dari pasangan  Usman dan Nursiah   yang bertugas di Maluku sejak tahun 2011 itu   mulai  unjuk kebolehan dalam  kompetisi karya tulis sejak mengenyam pendidikan di bangku SMP negeri  9, Kota Makassar. Meski hanya lomba antar kelas dalam rangka HUT kemerdekaan NKRI,   tapi  para peserta  saat itu  diwajibkan menulis  tentang  pendidikan  dalam  bahasa Inggris.   Berbekal kemampuan menulis serta  berbahasa Inggris yang diperoleh dari tempat  kursus  privat,   Ahmad berhasil  keluar sebagai pemenang ke II.  Prestasi serupa  juga Ia raih saat di bangku SMA. (***)

Most Popular

To Top