Pembunuh 1 Keluarga Dituntut Mati – Ambon Ekspres
Trending

Pembunuh 1 Keluarga Dituntut Mati

AMBON,AE— Remy Solissa, terdakwa pembunuhan terhadap satu keluarga, yang mengakibatkan empat korban meninggal dunia, akhirnya dituntut hukuman mati oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Namlea, Daniel Sinaga Cs. Sidang dengan agenda tuntutan tersebut, dipimpin hakim ketua Christina Tetelepta SH, didampingi hakim anggota Philip Pangalila SH dan Samsidar Nawawi SH.

Remy Solissa, duduk tenang di kursi pesakitan. Tatapan mata yang tajam terpancar dari wajah terdakwa, ketika memandang JPU yang membaca secara rinci tuntutan JPU. Tatapan mata terdakwa tidak berpindah sedikitpun dari tiga JPU yang membacakan tuntutan secara bergantian.

Suasana ruang sidang dipenuhi para wartawan, yang hendak meliput sidang tuntutan dari kasus pembunuhan sadis yang dilakukan terdakwa. Majelis hakim pun tampak serius mendengar uraian-uraian JPU.

Dalam amar tuntutannya, JPU menuntut agar majelis hakim yang mengadili perkara tersebut, menyatakan perbuatan terdakwa, terbukti melakukan tindak pidana pembunuhan secara berencana. Terdakwa juga dituntut melakukan penganiayaan berat serta kekerasan terhadap anak, yang mengakibatkan empat orang meninggal dunia dan lima lainnya mengalami luka berat.

Perbuatan yang dilakukan terdakwa, menurut JPU diancam dalam pasal 340 KUHP dan pasal 80 ayat (3) UU Nomor 35 tahun 2014, jo pasal 65 ayat (1), pasal 354 ayat (1), pasal 65 ayat (1) dan pasal 351 ayat (1) KUH Pidana.

“Menuntut, supaya majelis hakim yang mengadili perkara ini memutuskan, menjatuhkan pidana kepada terdakwa Remy Solissa alias Kabit, dengan pidana mati. Dengan perintah, terdakwa tetap berada dalam tahanan,“ ucap JPU saat membaca amat putusannya.

JPU, dalam uraian fakta sidang maupun keterangan saksi membeberkan bahwa, kejadian pembunuhan sadis yang dilakukan Remy terhadap satu keluarga itu, termakan api cemburu. Kejadian berawal pada tanggal 17 Februari 2015 lalu.

Ketika itu, terdakwa sedang duduk dirumahnya, sambil minum kopi dengan istrinya, Yoneng Nurlatu Solissa, di desa Siwatlahi, kabupaten Buru Selatan. Beberapa saat kemudian terdakwa berkunjung ke rumah ayahnya, Nataner Solissa, dan baru kembali pada pukul 20.00 Wit.

Setelah kembali, terdakwa langsung menuju kamar tidur dan mengajak istrinya berhubungan badan. Namun, ketika mau berhubungan badan, istri terdakwa, Yoneng (korban -red) mengatakan bahwa kemaluan terdakwa tidak berfungsi. Perkataan korban ini, membuat terdakwa emosi, kemudian mengambil parang yang telah disiapkan terdakwa disamping tempat tidur.

Tanpa basa basi, terdakwa langsung menebas istrinya pada bagian kepala. Tidak sampai disitu, terdakwa kemudian menusuk kemaluan korban yang sudah tidak berdaya itu dengan parang.

Terdakwa lalu mengambil 4 tombak dan 1 parang lainnya. Dia keluar dan mengunci pintu rumahnya. Setelah itu, terdakwa mengintip rumah Herman Solissa yang saat itu sementara mendengar lagu bersama-sama dengan Wellem Solissa dan Agus Nacikit.

Terdakwa masuk kembali kerumahnya dan keluar lewat pintu belakang dan menuju ke rumah Herman. terdakwa kemudian berhenti dirumah Viktor Solissa yang rumahnya bersebelahan dengan rumah Herman. Terdakwa masuk kedalam rumah Herman langsung menebas Herman dengan parang, mengenai leher sebelah kiri.

Herman langsung terkapar seketika. Terdakwa kemudian melanjutkan aksinya, dengan memotong Wellem Solissa dan Agus Nacikit. Keduanya menangkis, sehingga mengakibatkan lengan bagian kiri serta jari hampir putus. Agus kemudian berlari ke rumah saudaranya, Yones Nacikit.

Terdakwa mengejar Agus, dan melemparinya dengan tombak, namun tidak kena sasaran. Terdakwa masuk ke rumah Yones Nacikit. Sesampainya dirumah Yones, terdakwa melihat Yati Nacikit, yang merupakan anak Yones. Tanpa basa-basi, terdakwa menusuk Yati yang baru berusia 14 tahun dari pinggulnya. Korbanpun berteriak, dan didengar oleh ayahnya.

Yones, setelah berlari dari arah dapur rumahnya, menengok anaknya namun sudah tak bernyawa. Yonespun keluar untuk mengejar siapa pelaku yang menikam anaknya. Sadar diikuti, terdakwa langsung melempar tombak ke arah Yones namun tidak mengenainya.

Terdakwa berlari ke SD Siwatlahin. Sesampainya disana, terdakwa melihat Minggas Solissa beserta kedua anaknya, yakni Yoknan Solissa dan Devi Solissa dan adiknya Elyfas Saleky. Terdakwa kembali mengejar mereka dan memotong Minggas Solissa.

Melihat perbuatan terdakwa, Yoknan Solissa lari, namun dikejar terdakwa dan ditebas dengan parang dari bahu bagian kiri. Sementara Devi, bersembunyi di balik semak-semak.

Akibat tindakan terdakwa, mengakibatkan Yoneng Solissa, Herman Solissa, Yoknan Solissa dan Yati Solissa meninggal dunia. Selain itu, Wellem Solissa, Agus Nacikit dan Minggas Solissa, mengalami luka berat serta cacat sehingga tidak dapat melakukan aktivitas sebagai petani.

Saksi lain, yakni Onyong dan Elifas, hingga kini masih dalam perawatan medis, karena mengalami luka-luka akibat tebasan parang terdakwa. JPU beranggapan, tidak ada alasan pemaaf untuk meringankan perbuatan terdakwa. Selain itu, perbuatan terdakwa tergolong sadis, karena menelan banyak korban jiwa.

Saat mendengar tuntutan JPU, pandangan terdakwa sangat tajam kepada JPU. Tatapan tersebut penuh amarah. Bahkan, ketika majelis hakim berbicara, terdakwa tidak menghiraukannya. Namun beberapa saat kemudian, terdakwa menolehkan pandangannya ke arah majelis hakim.

Majelis hakim kemudian memberikan kesempatan kepada penasehat hukum terdakwa, Jhon Hitijahubessy untuk mengajukan pembelaan. Penasehat hukum, meminta waktu selama 2 minggu. Dikabulkan majelis hakim. Sidang kemudian ditunda hingga 8 September dengan agenda pembelaan.

Terdakwa dikawal keluar ruang sidang. Terdakwa tampak seperti orang kebingungan, yang memiliki gangguan mental. Namun, hal itu berbanding terbalik dengan hasil uji pemeriksaan rumah sakit Buru Selatan, yang memeriksa terdakwa dan menyatakan kondisi mental terdakwa normal.

Sementara itu, kuasa hukum terdakwa, John Hitijahubessy mengatakan, Hukuman tersebut, sangat berat. “Ini kan tuntutan yang berat. Jadi kami perlu waktu yang agak lama untuk meneliti tuntutan ini, kemudian fakta-faktanya dan mungkin saja ada hal-hal yang meringankan, untuk dituangkan dalam pembelaan nanti, “pungkasnya. (AFI)

Most Popular

To Top