Dengan Duit Rp200 Ribu, Kini Punya Penghasilan Ratusan Juta – Ambon Ekspres
Trending

Dengan Duit Rp200 Ribu, Kini Punya Penghasilan Ratusan Juta

Muhammad Fauzi, Transmigran Teladan Nasional dari Malteng

Muhammad Fauzi tak mengira bisa meraih juara satu kategori transmigran sukses. Berada dibaris terdepan menerima penghargaan dari Menteri Desa, Pemukiman Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Marwan Jafar  mewakili Kabupaten Maluku Tengah menjadi kebanggan tersendiri.

Memulai  dengan modal Rp 200 ribu, kini pendapatanya mencapai Rp 300 juta per tahun. Tentu, kisah sukses dan pola pengembangan transmigrasi tidak terlepas dari intervensi pemerintah kabupaten Maluku Tengah. Komitmen itu pula yang mengantar  bupati Tuasikal Abua menerima penghargaan sebagai kabupaten binaan transmigrasi teladan terbaik Indonesia.

Kebijakan transmigrasi telah melahirkan berbagai kisah sukses masyarakat, namun sebagian masyarakat terpaksa memilih kembali ke daerah asalnya. Sederet kisah sukses itu menjadi bukti bahwa transmigran bukan kisah orang-orang kalah, melainkan lewat kerja keras dan ketekunan untuk membangun kehidupan keluarga yang lebih baik.

Memiliki penghasilan besar adalah keinginan tiap orang, tak terkecuali  Muhammad Fauzi (38), warga Desa Sariputih, kecamatan Seram Utara Timur Kobi, Kabupaten Maluku Tengah. Pria asal Kediri, Jawa Timur ini bersama istrinya memutuskan untuk mengikuti program transmigrasi ke Maluku tahun 2008.

Sejak dikirim ke Seram Utara Kobi bersama 20 Keluarga Keluarga (KK), Pemerintah Provinsi Kediri hanya menyisipkan uang saku sebesar Rp 700 ribu bagi setiap KK. Di tempat yang baru, uang sebesar itu tidak cukup untuk menopang kehidupan sehari-sehari keluarga. Meski demikian, Fauzi tak patah arang untuk bisa merubah hidup. “Sampai di Saruputih, uang yang tersisa hanya Rp 200 ribu,” ungkapnya.

Dengan sisa uang yang dimilikinya, Fauzi begitu dia disapa membeli dua bungkus biji semangka seharga Rp 200 ribu. Sejak itu, dia dibantu istrinya menabur benih semangka pada areal sekitar rumahnya. Tiga bulan kemudian bibit seharga Rp 200 ribu tersebut menghasilkan Rp 25 juta.

“Awalnya hanya Rp200 ribu, tiga bulan kemudian hasil bersih dari penjualan semangka Rp 25 juta, disitu saya berfikir untuk menjadi petani semangka,” tuturnya saat ditemui Ambon Ekspres.

Untuk pengembangannya, dia kini memiliki enam hektar lahan dimana satu hektar untuk semangka, selebihnya adalah tanaman holtikultura jeruk manis. Dari lahan seluas satu hektar tersebut menghasilkan 60 ton semangka per tahun dimana dalam setahun terjadi empat kali panen.

Demikian pula jeruk yakni 20 ton per tahun. Untuk memasarkan holtikultura buah-buahan tersebut, Fauzi membuka jaringan dengan para pedagang dari Kota Ambon. Tak heran semangka dan jeruk miliknya sulit ditemukan di pasar Binaiya, Kota Masohi.

Lelaki dua anak yang hanya mengantongi ijazah SD Kediri ini mengatakan, sering membangun komunikasi baik dengan semua pedagang buah di Kota Ambon. karena itu ketika musim panen tiba banyak pedagang yang datang langsung mengambil hasilnya di lahannya. “Kalau beli disini Rp 5000 per Kg, kalau saya bawa ke Ambon Rp 7000 per Kilo, untuk sedangkan dalam setahun 4 kali panen rata-rata 60 ton sehingga hasil bersih saya Rp 300 juta, kalau jeruk Rp 100 juta,” kata Fauzi senyum, Sabtu, (22/8).

Tak hanya itu, Fauzi juga mengembangkan akulasi sendiri, disamping telah memiliki karyawan kurang lebih 20 karyawan. Sebagai tenaga harian lepas untuk penanaman, pembibitan, pemeliharaan dan panen. Dalam sehari Fauzi menggaji setiap karyawannya sebesar Rp 70 ribu per orang. “Ada kurang lebih 20 karyawan, sehari Rp 70 ribu,” ungkapnya.

Sosok yang dikenal ramah dan humoris ini mengatakan, ketersediaan lahan sangat dimungkinkan untuk pengembangan berbagai komoditas, bahkan untuk Semangka dirinya berencana memberikan brand atau dengan nama lokal Seram Utara. Tak tanggung-tanggung dia mengklaim kualitas Semangka asal Seram Utara tidak kalah dengan Semangka dari daerah lain di Maluku maupun Semangka Ekspor. “Pernah ikut uji coba sebelum dijual ke Surabaya, ternyata Semangka punya kualitas baik karena kurang pupuk sehingga bisa tersimpan dalam waktu lama, rencana saya kedepan harus ada brand, Ya Semangka Pulau Ibu atau Semangka Alifuru,” sebut pria yang menyatakan diri sebagai anak Seram ini.

Selain dua komoditas Semangka dan Jeruk, lelaki yang berturut-turut menyabet juara petani teladan tingkat kabupaten Malteng 2012, 2013 dan 2014 ini juga bergerak di bidang peternakan Sapi, budidaya Ikan Lele Jumbo serta sayuran Kol. “Saya mulai kembangkan Sapi, budidaya Lele Jumbo dan sayuran Kol. Peluang pasar bagus, kecuali ikan leleh hanya untuk konsumsi warga sekitar,” imbuh Fauzi.

Pantas saja, dorongan kepada para transmigran dengan memberi penghargaan Transmigran Teladan dan Pembina Permukiman Transmigrasi Teladan 2015 oleh Menteri KPDPT, Marwan Jafar, Kamis, (13/8) lalu berhasil disabetnya. Dia mengalahkan transmigran asal daerah lain di Indonesia sesuai kriteria Menteri PDPDT. “Pokoknya bangga, bisa wakili kabupaten Malteng berdiri sejajar dengan kabupaten lain di Indonesia, bangga terima penghargaan dari menteri. Semua ini saya jadikan motivasi membangun masyarakat dari tidur, membangun lahan tidur menyongsong masa depan lebih baik,” ujarnya.

Tentu saja, kisah sukses para transmigran tidak dapat dilepaspisahkan dari intervensi pemerintah dalam pelbagai aspek. Ekonomi, kesehatan, peningkatan sumber daya manusia, partisipasi masyarakat. Kiranya, sukses Muhammad Fauzi menjadi contoh bagi masyarakat bukan saja para transmigran tetapi juga masyarakat lokal untuk membangkitkan gairah ekonomi, raih masa depan lebih baik. “Apa yang diraih itu jadi inspirasi bukan saja transmigran tapi masyarakat lokal bisa mengikuti pola kerja seperti itu demi masa depan yang lebih baik,” ajak bupati Tuasikal Abua.

Pemkab Malteng berencana membangun pemukiman baru bagi para transmigrasi di dataran Seti, Seram Utara serta dataran Sepa. Pemerintah telah menyiapkan lahan seluas 10 hektar di dataran Sepa untuk dihuni transmigran dari luar Maluku dan transmigran lokal yakni masyarakat Sepa sendiri.  “Etos kerja yang tinggi jadi contoh membangkitkan etos kerja masyarakat kita, demikian pula ada akulturasi budaya. Simpelnya kehidupan Ke-Bhineka-an ada disitu,” ucapnya.

Sejauh ini lanjutnya, eksistensi transmigrasi di kabupaten Maluku Tengah telah memberikan banyak kontribusi kepada masyarakat setempat dan kepada pemerintah. Kontribusi itu antara lain beras yang menjadikan Malteng sebagai lumbung padi disamping kontribusi lainnya. Kedepan, pemkab akan memanfaatkan lahan-lahan tidur untuk dijadikan lumbung jagung, pembangunan pabrik kelapa, pembangunan Kota Terpadu Mandiri sebagai sentral produksi hasil pertanian. “Saat ini ada 17 UPT yang sudah berubah status sebagai desa, 3 desa binaan UPT dan 24 lainnya masih SP. Yang pasti kita sediakan lahan untuk pemukiman transmigrasi baru termasuk penyediaan pasar karena pasar sangat penting, “ katanya.

Untuk mendukung itu, pemkab kata bupati telah menjejaki dengan melakukan pendekatan ke Kementerian Desa, Pemukiman Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, dimana sejumlah bantuan telah didorong ke Maluku Tengah untuk menunjang produksi pertanian diantaranya mobil pengangkut padi dan lainnya. Namun, itu belum cukup, pemerintah terus berupaya mendatangkan fasilitas lain. “Tanpa dukungan dan penunjang lain petani bisa ogah-agahan, nah upaya ini untuk dapat memacu petani otomatis tingkat produksi juga tinggi,” tandas bupati.

Beras sendiri katanya, pemkab akan mengikat kerja sama dengan RMP(Rice Mide Plan) yang bertujuan guna mengurangi tingkat lose yakni beras yang tidak terpakai sehingga beras asal Malteng benar-benar hiegenis dan kualitasnya mampu sejajar dengan beras lainnya. Demikian pula pengembangan jagung akan dijadikan sebagai salah satu komuditas unggulan daerah ini.

“Untuk pengolahan kelapa di Seram Selatan, kita dibantu dengan pengumas kelapa, pemecah, pengumpul dengan sistim mekanisasi ini sehingga tingkat produktifitas juga meningkat,” ujarnya.

Maka tidak mengherankan, jika Menteri Marwan Jafar menobatkan kabupaten Maluku Tengah sebagai kabupaten teledan pembina transmigrasi serta sebagai icon pengembangan kawasan pedesaan di Indonesia. Penghargaan dari KDPDT tersebut diserahkan langsung Menteri Marwan kepada bupati.

Menurut bupati, Malteng memiliki jutaan pohon kepala, yakni 1,4 juta juta pohon. Selama ini potensi tersebut masih sebatas dikelola untuk konsumsi terbatas. Untuk itu kedepan pemerintah segera membangun industri olahan kelapa. “Semua berangkat dari mimpi besar saya dan tekad sungguh-sungguh untuk terus dan terus membangun daerah ini, terus melihat kesejahteraan masyarakat,” tukasnya.

Sederet penghargaan dari pemerintah Provinsi maupun pemerintah pusat diantaranya, Perencanaan Terbaik oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional RI, penghargaan Pemerintah Inovatif Kategori Tata Kelola Pemerintahan oleh Menteri Dalam Negeri, 2013. April 2014, kembali mendapat Penghargaan dari Badan Penanggulangan Bencana Nasional(BPBN) kategori penanggulangan bencana terbaik Tingkat Nasional, Penerimaan Tanda Kehormatan Satyalancana Pembangunan dan Satyalancana Wira Karya Koperasi dan UKM, dan tahun ini, 2015 Malteng didaulat sebagai pembina transmigrasi teladan.

Terhadap penilaian atas kinerja, bukan akhir dari komitmen dan dedikasi untuk tulus dalam pengabdian dan pelayanan serta memberikan pemberdayaan di negeri, desa dan dusun. Melainkan, tujuannya hanya satu yakni menggenjot pendapatan masyarakat dengan berbagai geliat ekonomi dan pembangunan hingga pelosok negeri pada 17 kecamatan yang ada. “Kritik terhadap program yang saya jalankan adalah sebuah masukan yang baik, tantangan dan kritikan itu penting untuk kemajuan, kesejahteraan di bumi para Upulatu ini,” ucapnya.
(**)

Most Popular

To Top