Demi Kerukunan, Ikhlas Berbagi Tempat Tinggal – Ambon Ekspres
Trending

Demi Kerukunan, Ikhlas Berbagi Tempat Tinggal

Bukan  rumah besar, apalagi mentereng. Bukan diminta, apalagi dipaksa. Tapi karena keikhlasan untuk saling berbagi. Warga  negeri Batu Merah dan Silale siap menampung peserta  Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Tingkat Nasional ke- XI di kota Ambon, Oktober  tahun ini.  Warga senang,  pemerintah bangga, kerukunan hidup antar umat beragama, antar orang basudara  kian mengakar.

Wajah puluhan warga nampak sumringah menyambut kedatangan wakil gubernur Maluku,  Zeth Sahuburua  dan rombongan di  RT  02/RW 03  Negeri Batu Merah, kecamatan Sirimau Kota Ambon, sekira pukul 10 : 30 WIT,  belum lama ini.

Kunjungan itu dalam rangka meninjau rumah-rumah yang disiapkan oleh warga setempat untuk menampung peserta Pesparawi nanti.

Sebelumnya, Kamis 13/8), warga negeri Batu Merah dan Silale  menemui wakil gubernur, menyampaikan niat,  menyediakan sebagian kamar di rumah mereka untuk menampung peserta Pesparawi.  Itu dilakukan, bukan sekadar untuk mengurangi beban pemerintah daerah dalam menyukseskan hajatan tersebut, tapi lebih merupakan wujud nyata toleransi dan kerukunan antar umat beragama di daerah ini.

Warga dari  dua pemukiman Muslim terbesar  di kota Ambon itu berkeinginan mengikis habis citra negatif  Maluku dalam hal  kerukunan antar umat beragama. Tetamu  dari luar Maluku yang datang dalam rangka Pesparawi nanti harus menjadi saksi, bahwa kerukunan dan toleransi antar umat  beragama di Maluku masih dan akan terus ‘bernyawa’.

Bak gayung bersambut, maksud kedatangan warga yang dikomandoi penjabat kepala desa Batu Merah,  M. Saleh Kiat dan ketua  pemuda  Silale, Barri Lessy itu disambut suka cita oleh wakil gubernur. Untuk meyakinkan pemerintah, warga meminta wakil gubernur untuk turun langsung di lapangan, meninjau rumah-rumah warga yang sebagian kamarnya disiapkan  untuk menampung peserta Pesparawi. “Ini luar bisa sekali. Saya bangga,” ungkap wakil gubernur di sela kunjungan tersebut.

Direncanakan,  sebanyak  9000  peserta   dari  33  provinsi di  Indonesia yang akan datang di kota Ambon untuk berlomba, menunjuk kebolehan dalam ajang bertaraf nasional itu. Sebagai tuan rumah, pemerintah provinsi Maluku terus memutar otak, agar hajatan itu berjalan sukses. Persiapan terus dilakukan. Termasuk persiapan tempat menginap peserta.

Fasilitas untuk menampung  peserta dengan jumlah yang  tidak sedikit itu harus tersedia dengan baik dan akomodatif.  Selain Hotel, Penginapan, dan  Wisma di kota Ambon, pemerintah daerah dan panitia juga telah bekerja sama dengan  pihak PT Pelni untuk menyediakan satu kapal sebagai fasilitas alternatif, mengantisipasi terjadinya Oversupplay (kelebihan pasokan) peserta di tempat menginap  komersil.

Di Batu Merah, satu per satu rumah yang disiapkan warga, ditinjau  wakil gubernur dan rombongan. Rumah  mantan Raja Negeri Batu Merah (1986-1994),  Hj. Latief Hatala menjadi sararan pertama.  Penjelasan singkat tentang kondisi dan fasilitas rumah yang sebagian kamarnya disiapkan itu pun didapat wakil gubernur melalui diskusi singkat, diselingi  percakapan kelakar, namun tidak menghilangkan kesan serius. Dengan lima kamar di rumahnya, Latief Hatala menyatakan siap menampung 10 orang peserta.

Belum sampai setengah jam, datang warga lainnya, Nurjanah (50). Setelah bersalaman dengan wakil gubernur, perempuan paruh baya itu pun menyatakan dihadapan rombongan, bahwa  dengan dua kamar di rumahnya,  dia siap  menampung empat orang peserta Pesparawi. “Bukan rumah mewah. Ada dua kamar,  bisa untuk empat orang,” sebut Nurjanah.

Antusias warga membuat wakil gubernur tidak ingin berlama-lama duduk. Sahuburua  dan rombongan yang terdiri dari sejumlah pejabat dilingkup pemerintah provinsi Maluku dan sejumlah wartawan itu  bergegas, menyambangi rumah Nurjanah dan beberapa rumah warga lainnya.

“Dengan senang hati menerima saudara-saudara kita nanti. Tidak merepotkan. Bagi saya, ini adalah ibadah. Kita ingin, jangan lagi orang berfikir bahwa kota Ambon ini belum aman,”  ucap Nurjanah kepada Ambon Ekspres.

Kesediaan itu setelah warga mendapatkan informasi dari tokoh masyarakat setempat tentang persiapan  pelaksanaan Pesparawi tingkat nasional di kota Ambon. Tanpa aba-aba, secara bergantian, warga menyatakan kesediaan untuk menampung peserta. Dan pelaksana tugas raja negeri Batu Merah M. Saleh Kiat siap mengemban tugas, terus mempersiapkan rumah warga  Batu Merah yang akan ditempati peserta Pesparawi.

“Iya, Pak,” kata Saleh Kiat, menangapi kepercayaan yang diberikan  wakil gubernur kepadanya untuk mengkoordinir persiapan rumah – rumah warga di Batu Merah.

Dari batu Merah, rombongan menuju  kelurahan Silale, kecamatan Nusaniwe. Di sana, telah menanti  puluhan warga yang juga bersedia berbagai tempat tinggal dengan peserta  Pesparawi. Itu dilakukan atas insiatif sendiri dan dikoordinir oleh tokoh pemuda setempat. Mereka punya niat yang sama dengan warga Batu Merah. Ikhlas berbagi. Ini tentang toleransi dalam menjaga kerukunan hidup antar umat beragama.

“Ini murni inisiatif masyarakat Silale. Menampung saudara kita dari jauh. Kami ingin agar tidak ada perbedaan antara agama satu dengan yang lain dalam kehidupan sosial. Kita harus menjaga agar kota Ambon dan Maluku pada umumnya, tetap identik dengan kerukunan hidup antar umat beragama. Karena agama tidak mengajarkan hal-hal yang negatif,” jelas  salah satu tokoh  pemuda Silale, Rawidin. Dia juga menyiapkan dua kamar di rumahnya untuk menampung peserta Pesparawi.

Dari rumah  ke rumah, dari lorong satu ke lorong yang lain, itulah yang dilakukan wakil gubernur dan rombongan di Silale, meninjau rumah warga yang siap menampung sebagian peserta Pesparawi. Bahkan ada warga yang mencegat rombongan wakil gubernur, menawarkan rumah mereka untuk menampung peserta Pesparawi.

“Kalau untuk hal yang positif dan untuk mendukung program pemerintah, kenapa tidak?,” ungkap  Muhammad Marasabessy, warga RT 0003/RW003 setelah berhasil mengajak rombongan untuk meninjau  rumahnya. Satu di kamar di rumah itu  disiapkan olehnya untuk dua peserta Pesparawi.

Adalah Sarah Toding Kula, warga RT 01/RW 02  kelurahan  Silale itu  mengaku,  telah siap jauh-jauh hari sebelum rombongan wakil gubernur datang, meninjau rumah warga. Dia dan suaminya, Mushafi  Ibrahim  menyiapkan satu  kamar untuk peserta Pesparawi dari Toraja, Sulawesi Selatan.  Para calon tamu di rumah mereka  itu tidak lain adalah keluarga dekat Sarah Toding Kulu.

“Tantenya  ibu adalah pendeta. Beliau sudah telepon. Mereka tiga orang, kalau  kita di rumah ini siap tampung dua orang, yang satu lagi  mungkin di hotel,” jelas Mushafi Ibrahim.

Dari data sementara yang dimiliki pantia berdasarkan  hasil peninjauan tersebut,   setidaknya telah  tersedia 30 kamar di  sekitar 15  rumah milik warga  di negeri Batu Merah  dan di  Silale yang siap menampung peserta Pesparawi.

“Kita tidak lihat dari bentuk dan jumlah rumah, tapi kesediaan warga. Mereka datang menawarkan tempat tinggal. Saya merasa berbahagia sekali, ” jelas Zeth Sahubura diakhir kunjugan  tersebut.

Diakuinya, masih ada kekurangan di sana-sini dalam persiapan. Tapi yang penting  sekarang adalah masyarakat berpartisipasi,  bersedia berbagi tempat tinggal. Itu menjadi kekuatan dan nuansa harmonis  yang patut diutamakan.

Kesediaan warga menjadi bukti, toleransi dan kerukunan hidup antar umat bergama sebagai salah satu faktor  pendukung  dalam  meningkatkan kondisi keamanan di kota Ambon, dan Maluku pada umumnya, semakin kuat. Ini penting untuk  ditingkatkan,  karena proses pembangunan tidak dapat berjalan dengan baik bila keamanan terganggu.

“Jadi tidak ada yang disebut Islam, Kristen, Hindu, Budha. Tapi  kita adalah satu, masyarakat Maluku. Sehingga, saya kira momen-momen  seperti ini harus kita gunakan sebaik-baiknya,” ujar Sahuburua.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM, Syarif Bakri Asyathri  yang juga panitia Pesparawi  mengatakan, hingga saat ini persiapan tempat menginap peserta telah mencapai 80 persen. Itu   juga atas dukungan jemaat Klasis Pulau Ambon, Ambon Utara, Ambon Selatan dan klasis kota Ambon.

“Mereka menampung 40 persen dari jumlah peserta,” ungkapnya.
Olehnya,  kesediaan tanpa pamrih para warga negeri Batu Merah dan Silale untuk menampung peserta Pesparawi itu diharapkan dapat menular ke warga lainnya. Baik warga di Batu Merah, Silale maupun di tempat lain di kota Ambon.

Pemerintah tetap mengapresiasi dukungan warga demi suksesnya Pesparawai yang akan berlangsung  pada pada tanggal 02-12 Oktober 2015 nanti. Karena pendekatan seperti ini lebih banyak pendekatan kekeluargaan, pendekatan  yang sifatnya manusiawi.

“Kalau mereka datang menawarkan, itu yang lebih elok,” sebut Asyatri.
Niat baik warga Batu Merah dan Silale tersebut mendapat ancungan jempol ketua DPRD provinsi Maluku, Edwin Adrian Huwae. “Apa yang ditunjukkan oleh saudara-saudara kita di Batu Merah dan Silale, saya sangat mengapresiasi dan mendukung itu,” ungkap Huwae ketika diwawancara secara terpisah.

Orang Maluku adalah orang basudara. Tidak ada yang memisahkan. Dan Pesparawi menjadi momentum untuk lebih memperkuat kerukunan hidup  antar umat bergama, antar  orang basudara melalui partisipasi semua elemen masyarakat di daerah ini. Terutama  di Kota Ambon.

“Pengalaman waktu pelaksanaan MTQ (Musabaqah Tilawatil Quran) Nasional di kota Ambon, warga di Kudamati juga menampung Peserta. Sehingga, hari ini kalau Batu Merah dan Silale, saya kira itu sesuatu sangat baik,” ungkap Huwae. (***)

Most Popular

To Top