Waspadai Krisis di Maluku – Ambon Ekspres
Trending

Waspadai Krisis di Maluku

Ekonomi Mulai Melambat

AMBON, AE— Memburuknya kondisi ekonomi Indonesia, mulai terasa di daerah-daerah. Terutama daerah yang masih banyak bergantung pada pemerintah pusat. Salah satunya, Maluku. Indikasinya, pertumbuhnan ekonomi  Maluku melemah pada kuartal pertama tahun ini, menjadi daerah dengan pertumbuhan ekonomi paling rendah kedua  di  wilayah  Indonesia timur.  Pemda harus memperkuat ketahanan pangan lokal.

Perlambatan ekonomi Indonesia, yang ditandai dengan melemahnya nilai tukar rupiah hingga mencapai Rp14 ribu per dolar Amerika Serikat (AS), dinilai  telah menjadi tanda bahaya bagi perekonomian di Indonesia. Bila kondisi ini terus memburuk,  sangat mungkin persentase masyarakat miskin dan pengangguran di Maluku  meningkat.

“Ini, kan masalah ekonomi secara nasional. Jadi dampaknya pasti  juga dirasakan oleh Maluku,” kata ekonom Universitas Pattimura (Unpatti), Muspida, Kamis (27/8).

Perlambatan ekonomi  Indonesia disebabkan oleh banyak  faktor. Diantaranya adalah terjadinya gagal panen di sejumlah daerah. Kondisi  ini berakibat pada  kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pangan bagi Maluku yang masih banyak bergantung pada pasokan pangan dari luar Maluku. Dengan begitu, meningginya tingkat inflasi sulit dihindari. Masyarakat akan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.

Karena itu, menurut Muspida, pemerintah daerah di Maluku harus memperbaiki daya serap terhadap anggaran pembangunan, agar pembangunan berjalan lancar, arus uang dan barang juga bisa berjalan lancar. “Selain itu, juga ada program di sektor ril, memperkuat ketersediaan pangan lokal, jangan selalu bergantung pada daerah lain,” ujarnya.

Ekonom lain dari Unpatti, Teddy Ch Leasiwal mengemukakan, secara makro tentu Maluku akan merasakan dampak memburuknya ekonomi Indonesia. Aktivitas import Maluku yang masih cukup tinggi, tentu berefek kepada harga barang yang menjadi mahal. “Tapi,  efeknya tidak akan memberikan dampak yang terlalu kuat terhadap perekonomian Maluku Secara umum, saya kira Maluku aman,” ungkapnya.

Menurut Leasiwal, mestinya krisis yang dimulai dengan melemahnya nilai tukar rupiah ini harus diambil sisi peluang positifnya oleh Maluku, yaitu menggalakan ekspor dengan memperluas pasar serta merangsang sektor lain untuk meraup keuntungan. Seperti sektor pariwisata. “Ini kesempatan kita untuk menggenjot pariwisata dan ekspor sehingga dapat mendorong penyerapan tenaga kerja,” ujarnya.

Direktur Eksekutif  Moluccas Economic Reform Institute (MOERI) Tammat R. Talaohu mengemukan, Maluku tidak akan bebas dari dampak memburuknya ekonomi nasional. Bahkan, itu sudah terlihat.

“Kuartal pertama, kita jadi daerah paling lambat  kedua di Indonesia Timur dalam hal pertumbuhan ekonomi. Ini adalah akibat dari besarnya ketergantungan Maluku di pusat,” kata Talaohu.

Maluku yang belum mandiri dalam menyediakan pangan, terutama pangan lokal, membuat daerah ini rentan terkena dampak  perlambatan ekonomi nasional.

Kalau harga pangan melambung akibat stok yang menipis, akan memicu inflasi, daya beli rendah, dalam jangka menegah, situasi itu akan berakibat kemiskinan dan pengangguran yang meninggi. “Kalau kita punya potensi, kenapa harus bawa dari luar,” katanya.

Menyikapi kondisi ini, menurut Talaohu pemerintah di daerah harus mempertinggi daya serap anggaran pembangunan. Karena, salah satu penyebab memburuknya ekonomi daerah juga karena lemahnya  penyerapan anggaran pembangunan.

“Karena birokrasi  kita  tidak berkualitas. Tidak bagus, oleh karena itu, sebetulnya kajiannya adalah kualitas kelembagaan. Dan itu menentukan parah tidaknya krisis nanti,” pungkasnya.(MAN)

Most Popular

To Top