Pemerintah: Ekonomi Maluku Stabil – Ambon Ekspres
Trending

Pemerintah: Ekonomi Maluku Stabil

AMBON, AE— Dampak memburuknya ekonomi Indonesia telah merambah pasar tradisional di kota Ambon. Harga sejumlah bahan kebutuhan pokok mulai naik. Beberapa diantaranya fluktuatif.  Kendati demikian,   pertumbuhan ekonom Maluku  menanjak pada dua triwulan terakhir.  Pemerintah berupaya agar perlambatan ekonomi nasional tidak berdampak banyak bagi Maluku.

Sejumlah pedagang mengaku, perubahan harga sembako mulai terjadi  dalam satu bulan terakhir, sejak kurs rupiah mulai melemah. Namun, untuk urusan stok, diakui tida ada masalah. “Ada yang naik, ada yang turun ada juga yang naik kemudian turun lagi,” ungkap Udin, pedagang di pasar Batu Merah, Jumat (28/8).

Dalam satu bulan terakhir, harga semua jenis beras di tingkat distributor, naik sebanyak  dua kali. Kali pertama, naik Rp5000, berikutnya juga naik dengan angka yang sama. Para pengecer pun terpaksa melakukan penyesuaian harga.

“Kalau harga telur naik turun. Sementara gula kristal, turun dari  Rp620 ribu menjadi Rp550 ribu. Tapi, informasinya, harga akan naik lagi. Sementara bahan yang lain, masih seperti biasa,“ ungkap pedagang lainnya di kawasan pertokoan Batu Merah.

Sementara, harga bawang merah dan bawang putih di tingkat pedagang  melorot dari  kisaran harga Rp35.000 dan Rp 40.000 per kilogram,   menjadi Rp25.000 per kilogram. Demikian juga  cabe merah kriting, dari Rp Rp35.000 turun menjadi Rp25.000 per kilogram. Sementara harga di tingkat distributor Rp15.000 per kilogram.

“Harganya turun sejak satu Minggu lalu,” ungkap pedagang lain di pasar Batu Merah, Ona.

Secara makro ekonomi Maluku belum kena dampak  perlambatan ekonomi nasional. Bahkan, tergolong membaik. Ini ditandai dengan pertumbuhan ekonomi Maluku yang terus naik pada dua triwulan terakhir  tahun ini. Pemerintah yakin, ekonomi Maluku tetap stabil.

“Triwulan I 4.08 persen, dan triwulan dua menjadi 5.8 persen atau naik 1.7 persen. Jadi, Itu ekonomi kita,” ungkap Kepala Biro Pengembangan ekonomi dan Investasi Provinsi Maluku, Anton Lailossa, di ruang kerjanya, kemarin.

Berdasarkan hasil kajian ekonomi dan keuangan regional provinsi Maluku triwulan II tahun 2015 yang dilakukan Bank Indonesia, bekeja sama dengan Badan Pusat Statik (BPS)  dan sejumlah lembaga terkait  lainnya,  pada triwulan  II tahun ini, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Maluku tumbuh sebesar 5,80%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 4,67%, maupun triwulan sebelumnya sebesar 4,06% (yoy).  Pertumbuhan ekonomi Provinsi Maluku pada triwulan laporan searah dan mendekati prakiraan (baseline) optimis sebesar 5.72% (yoy).

“Itu dipicu oleh konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah dan pertumbuhan   investasi yang meningkat,” sebutnya. Inflasi tahunan Maluku tercatat sebesar 8.85% (yoy), turun dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 9,07% (yoy). Melambatnya inflasi Maluku didorong oleh deflasi pada akhir triwulan seiring dengan melimpahnya pasokan ikan segar sebagai dampak positif dari moratorium Kementerian kelautan dan Perikanan serta menurunnya tarif angkutan udara akibat menurunnnya permintaan.

“Jadi, kita tetap berhati-hati, agar ekonomi kita tetap stabil dan terus membaik. Kita mendorong ekspor komoditi unggulan,” katanya.

Menyikapi kondisi ekonomi nasional saat ini, lanjut dia, pemerintah daerah juga telah melakukan rapat yang dipimpin oleh wakil gubernur Maluku, Zeth Sahuburua membicarakan percepatan penyerapan anggaran pembangunan. Ini agar arus uang dan barang berjalan lancar.

Dikatakan, pemerintah juga telah menekan pentingnya swasembada pangan berupa sayur mayur. Ini agar mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar Maluku. “Kalau soal harga beras, kan ada Bulog. Dalam situasi terdesak, pasti disediakan. Kita juga punya stok ikan yang tersimpan di coolstorage, yang akan kita gunakan bila kondisi memburuk. Semua sudah kita siapkan,” kata Lailossa. (MAN)

Most Popular

To Top