Peminat Garambah Masih Terbatas – Ambon Ekspres
Pesona Manise

Peminat Garambah Masih Terbatas

Barang-barang tembikar yang lebih dikenal dengan nama “Gerabah” menjadi salah satu bentuk buah karya sekaligus tradisi nenek moyang turun-temurun yang pernah ada dan sampai sekarang, masih dipertahankan sebagai satu keahlian.

Keterampilan membuat gerabah telah dilakukan sejak jaman dahulu dan telah menjadi bagian dari perkembangan peradaban bangsa di nusantara. Jejak historinya pun jelas yaitu terwariskan hingga masa kini.

Markus Nifu salah satu pengarajin gerabah mengatakan, gerabah adalah perkakas atau kerajinan yang dibuat dari tanah liat yang dibentuk kemudian dibakar untuk kemudian dijadikan alat-alat kebutuhan perlengkapan rumah tangga. “Jenis dan bentuknya tidak banyak berubah.

Tetapi fungsinya mengalami pergeseran. Para pemesannya pun kalau dulu adalah para penjual alat-alat rumah tangga, sekarang lebih banyak para pemilik hotel, restoran dan wisatawan,” katanya, kepada Ambon Ekspres, disela-sela kesibukannya sebagai pengrajin gerabah, Jumat, (28/8), kemarin.

Diakuinya, sampai sejuah ini untuk perlengkapan pembuatan kerajinan diberikan pemerintah. Meski demikian, dirinya tidak mau berpangku tangan mengandalkan bantuan dari pemerintah. Hanya saja, kendala yang dihadapi kekurangan bahan penunjang, seperti cat yang memang dikhususkan untuk kerajinan ini, tidak ada di Ambon.

Di Ambon, minat masyarakat untuk kerajinan ini masih minim. Hanya para pengusaha hotel atau Restaurant yang sering mengunakan kerajinan ini, untuk hiasan tempat usaha mereka. Padahal kerajinan Gerabah atau keramik di daerah lain, justru semakin maju  berkembang dan menjadi komoditi eksport yang diminati di negara seperti Australia, Jepang dan Amerika.

Diakuinya penyebab sepinya pembeli gerabah adalah beralihnya minat wargas membeli kerajinan dari tanah liat ini dan cenderung membeli perkakas rumah tangga yang dari plastik yang tidak gampang pecah. Dijelaskan, sebenarnya harga jual gerabah produksinya cukup terjangkau.

Dicontohkannya untuk ukuran keramik yang sedang harga satu buah periuk saja berkisar antara Rp.300 ribu, sedangkan untuk ukuran kecil mulai berkisar Rp.15.000.

Menurutnya, Kerajinan Gerabah merupakan warisan leluhur yang sudah semestinya dilestarikan baik dalam rangka meningkatkan taraf hidup para pengrajin dan keluarganya maupun dalam konteks kepariwisataan.

“Sebenarnya, jika sentra kerajinan seperti ini ditata dan diberdayakan, tentu akan menjadi salah satu obyek kunjungan dari wisatawan domestik maupun Manca Negara,” ujarnya. (IWU)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!