Atlet Malra ‘Dicurangi’ Wasit Karate – Ambon Ekspres
Lintas Pulau

Atlet Malra ‘Dicurangi’ Wasit Karate

AMBON,AE—Kendati kontingen atlet Kabupaten Maluku Tenggara pada seleksi telah berhasil menyumbangkan 3 atlet dan 1 pelatih yang akan mewakili Provinsi Maluku pada ajang Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) tahun 2015, namun ketua kontingen Malra Ibrahim Tamher merasa  pihaknya dicurangi wasit.

Kekesalan ini disampaikan Tamher usai mengikuti seleksi pada cabang karate putra/putri dimana dari tiga pertandingan atlet karate asal “Bumi Larvul Ngabal” dicurangi wasit karate pimpinan Beni Muskita.

“Kami sangat kesal dengan kepemimpinan wasit, bagaimana tidak? Sebanyak tiga pertandingan atlet kami bermain dengan bagus ternyata wasit memihak ke pihak lawan sehingga membuat kami kalah,” kesal Tamher saat menghubungi Ambon Ekspres.

Dikatakan, pada 3 pertandingan masing-masing altet putri Malra Audry Russel kategori minus 59 kilogram berhadapan dengan atlet asal Kota Ambon, karate putra minus 68 kg berhadapan dengan atlet Kota Ambon dan atlet putra, Panji yang bertanding pada kategori minus 76 kg berhadapan dengan atlet kota Ambon dinyatakan kalah.

“Kita punya saksi mata di arena pertandingan, ketiga atlet kami ini berhasil melakukan penyerangan yang memperoleh point, tapi ternyata itu tidak dihitung. Sebaliknya wasit mencari-cari kesalahan atlet Malra untuk memperbesar point lawan. Bahkan 4 hakim wasit saat menaikan bendera terkesan ragu-ragu dan memihak,” bebernya.

Senada dengan Tamher, pelatih karate Malra, Suripatih menyesalkan kepemimpinan wasit yang terkesan mengungulkan kontingen Kota Ambon. Anehnya, nasib sama dirasakan oleh kontingen dari kabupaten/kota lain yang mengikuti seleksi.

Dai menduga, kepemimpinan wasit tidak professional karena wasit yang dipakai diduga tidak memiliki lisensi perwasitan yang harus diperbaharui setiap tahun.

“Kita duga lisensi wasit sudah kadarluasa. Apalagi menjadi wasit setiap tahunnya perlu ada pembaharuan lisensi dengan mengikuti pelatihan-pelatihan dan selama pertandingan seluruh wasit dibawah wasit kepala Beni Muskita tidak menunjukan keprofesionalannya,” sesalnya.

Keanehan dari kepemimpinan wasit, kata dia, terlihat pula ketika pertandingan berlangsung para pelatih yang merasa wasit tidak menghitung point bagi atlet sempat protes tetapi wasit tidak menghiraukan.

Anehnya lagi pada setiap pertandingan perlu adaya video rekaman yang disiapkan panitia untuk merekam pertandingan sehingga apabila ada terjadi complain dapat dibuktikan melalui video ternyata tidak disediakan.

“Sempat saya sekali protes kepada juri karena beberapa point kami tidak dihitung, kok juri mengatakan kami punya bukti apa, lalu saya katakana kami punya bukti seluruh mata penonton menyaksikan kalau kami dicurangi,” kesalnya.

Atas kecurangan ini, Tamher dan Suripatih mendesak Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Maluku mengevaluasi kinerja wasit karate dibawah kepemimpinan Beni Muskita.

Bila masih mempergunakan jasa wasit-wasit tersebut kontingen Malra menyatakan tidak lagi akan mengikuti event-event olahraga tingkat provinsi termasuk menggalang kekuataan dengan kabupaten/kota lain untuk tidak bergabung dengan kegiatan olahraga yang dibuat Provinsi Maluku.

“Kami sudah bertekad tidak akan mengikuti pertandingan selama wasit karate masih dipimpin Beni Muskita dan kawan-kawan. Kasihan atlet-atlet daerah yang selalu dikorbankan hanya demi kepentingan wasit.

Padahal atlet dari kabupaten/kota lain sudah datang dengan biaya mahal dari pemerintah daerah dan mempertaruhkan nyawa menyeberangi lautan dan udara dan hasilnya selalu didiskriminasi oleh wasit di Ambon,” kesal mereka.(SAT).

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!