Pariwisata Kataloka Menjanjikan – Ambon Ekspres
Pesona Manise

Pariwisata Kataloka Menjanjikan

Negeri Kataloka merupakan wilayah dengan cakupan 12 dusun di empat pulau Koon, Gorom, Grogos dan Pulau Nukus.

Sebanyak 5,742 warga bermukim di Kecamatan itu. Pulau Koon di Kataloka menjadi persinggahan kapal pesiar seluas 2.479,45 hektar.

Tak mudah untuk mencapai Pulau Koon Seram Bagian Timur (SBT) itu. Bagi para adventure, carater baik adalah melalui jalur laut dengan menggunakan kapal pesiar (live aboard) dengan rute awal perjalanan dari Sorong, Papua Barat menuju Raja Ampat dan selanjutnya keperairan Banda di Ambon.

Jalur alternatif melalui jalur darat dari Ambon-SBT-Bula dan Kecamatan Gorom yang menjadi pintu gerbang menuju Pulau Koon.

Raja Muda Kataloka, Dr. Anzar Wattimena, belum lama ini mengatakan, mayoritas warga Gorom bekerja sebagai nelayan dan petani. Tampak jelas, adat turun temurun mendorong tiap orang membatasi diri saat memanfaatkan sumberdaya alamnya. “Tradisi kental masih tetap dipertahankan sampai saat ini.

Misalnya, soal kepemilikan lahan, hak warga adalah menggunakan, memanfaatkan dan merawat lahan tanpa harus memilikinya,” ungkapnya.

Kekayaan alam melimpah di nyaris semua musim,katanya, cengkeh, pala, coklat, kelapa, durian, sagu dan mangga. Pelestarian atau konservasi warga Petuanan Kataloka secara turun temurun terikat dengan prinsip adat dalam memanfaatkan sumberdayanya. Wilayah Petuanan Kataloka diatur melalui pranata adat dengan pimpinan tertinggi Raja Kataloka, Drs Mohammad Syaiful Akbar Rumarey Wattimena, diikut dengan tiga raja muda lainnya.

Raja Kataloka memiliki kuasa atas izin pemanfaatan serta penutupan suatu wilayah(sasi) untuk masa tertentu.
“Warga Kataloka menjalankan apa yang disebut ‘menggunakan secukupnya’ dan mematuhi adat dan budaya dalam pengelolaan sumberdaya alam perairan dan daratan di Kataloka,” paparnya.

Kunjungan tamu ke komunitas Gorom dan sekitarnya kebanyakkan mengunakan live board. Kontribusi live board ke warga Gorom belum terlihat secaralangsung, kata Raja, mengingat minimnya kunjungan tamu kekomunitas Gorom dan sekitarnya.

Meski separuh live aboard, tak memiliki keberatan untuk membayarkan biaya masuk ke Petuanan Kataloka atas izin penggunaan wilayah perairannya. “Namun, kami tak ingin menerima dana begitu saja tanpa program pengelolaan secara jelas,” kata Raja muda Kataloka ini.

Ada tantangan lain yang perlu di selesaikan. “Kami ingin komunitas di darat cukup siap menerima tamu dan tidak mengelami geger budaya dan kekagetan karena perubahan yang muncul,”jelasnya.

Raja Anzar melihat angin segar untuk bisnis kepariwisataan di Kataloka. Meski dengan sederet persoalan, baik mengenai akses, terisolir, minim sarana dan prasarana serta minim kapasitas pengelola produk-produk kepariwisataan.

Dari berbagai alasan tersebut, lanjut dia, di tahun 2011 Petuanan Negeri Kataloka bekerjasama dengan WWF- Indonesia untuk mendorong konefektivitas pengelolaan konservasi dilakukan melalui pembiayaan masuk kapal pesiar keperairan Koon.

Idenya,kata Raja, biaya masuk kapal pesiar dimanfaatkan untuk mengembangkan kepariwisataan berbasis komunitas lokal dan sebagai dana untuk pengelolaan konservasi. Ide tersebut disambut oleh Jaringan Kapal Pesiar Indonesia.

Bagi Raja muda Kataloka, Anzar Wattimena ide itu seperti ‘pintu’ baru bagi komunitas Kataloka. “Wilayah ini telah dijaga secara bergenerasi oleh warga Kataloka. Kami terbuka dengan hal baru dan meyakinkan diri kami sendiri kepariwisataan memberikan dampak positif kepada masyarakat setempat,” jelasnya. (IWU)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!