80 Tahun Gereja Protestan Maluku (Gpm) – Ambon Ekspres
Trending

80 Tahun Gereja Protestan Maluku (Gpm)

Oleh: Rudy Rahabeat (Pendeta Gereja Protestan Maluku)

6 September 2015 Gereja Protestan Maluku (GPM) genap berusia 80 tahun. Sebuah usia yang sangat matang jika dianalogikan dengan manusia. Selain sebagai lembaga moral gereja juga merupakan lembaga sosial keagamaan. Olehnya gereja (baca: GPM) mesti turut-turut ambil bagian dalam persoalan-persoalan sosial kemanusiaan baik di kepulauan Maluku, Indonesia bahkan dunia.

80 tahun usia GPM menjadi kesempatan untuk berefleksi tentang apa arti kehadiran gereja di tengah-tengah dunia. Meminjam moto Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku “Kamu adalah garam dan terang dunia” maka pertanyaannya adalah sejauhmana hingga usia ke-80 tahun ini GPM telah menggarami masyarakat dan menerangi lingkungan di sekitarnya.

Tidak mudah memang untuk melaksanakan misi suci itu. Tapi sebagai lembaga moral dan spiritual, gereja pasti optimis bahwa tidak ada persoalan yang tidak dapat diselesaikan asalkan ia benar-benar berkarya dengan sungguh-sungguh dan menaruh pengharapan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa – yang dalam kekristenan tidak dapat dipisahkan dengan figur Yesus Kristus yang adalah sumber kehidupan itu sendiri.

GPM bukanlah lembaga yang imun dan terasing dari dunia, khususnya dunia Maluku. Justru kelahiran GPM dalam panggung sejarah Maluku dan Indonesia adalah wujud komitmen GPM untuk bersama-sama membangun masa depan bersama yang lebih baik. Oleh sebab itu dalam rentang sejarah 80 tahun itu, GPM tidak absen terlibat dalam problematik sosial dan kebangsaan. Secara personal maupun komunal anggota GPM ambil peran dalam usaha kemerdekaan bangsa (1945), memegang teguh NKRI (1950, sekaitan dengan peristiwa RMS), hingga bersama-sama semua agama (Islam, Hindu, Budha dan Konghucu) memperjuangkan perdamaian di Maluku dan Maluku Utara.

Publik yang akan menilai sejauhmana GPM sebagai gereja “tua” dan terbesar di kepulauan Maluku dalam keterlibatan sosial-budaya dan kebangsaan. Sejarah juga yang akan mencatat keberhasilan GPM dalam merajut kebersamaan dan saling percaya satu sama lain. Tentu, tak dapat dipungkiri bahwa ada juga berbagai keterbatasan dan kekurangan GPM itu sendiri.

Jika kita tetap yakin tentang dasar bersama yakni nilai-nilai kemanusiaan dalam bingkai kearifan lokal di Maluku, baik di Maluku Tengah, Maluku Tenggara, maupun Maluku Utara, maka kita tidak akan mudah tercabut dari akar budaya bersama sebagai orang-orang Maluku. Di sini terdapat sebuah ujian serius untuk benar-benar memperteguh identitas khas sebagai orang Maluku.

Pada saat yang sama identitas kemalukuan tidak dapat dipisahkan pula dari identitas keindonesiaan. Artinya, GPM dan agama-agama di Maluku mesti juga memberi kontribusi bagi nilai-nilai keindonesiaan itu sendiri sebagaimana termaktub dalam Pancasila dan UUD 1945. Komitmen kebangsaan menjadi penting agar kita tidak terjebak dalam primordialisme sempit, etnosentrisme buta dan fanatisme rapuh. Justru dalam negosiasi kebangsaan itulah identitas primordial itu akan makin diperkaya.

Dalam perspektif yang diperluas maka ruang lokal, nasional mesti juga terbuka untuk ruang global. Tak dapat dihindari bahwa globalisasi merupakan fakta sosial hari ini. Kita tidak perlu menyesali dan meratapi realitas itu. Yang perlu disikapi adalah bagaimana agama-agama, termasuk GPM memberi respons kritis-kreatif terhadap realitas globalisasi itu.

GPM misalnya dalam momentum HUT ke-80 memberi aksentuasi terhadap perlunya peran keluarga dalam membangun spiritualitas yang tangguh. Demikian pula pentingnya menggali kembali tradisi lokal yang sarat dengan nilai-nilai kebersamaan dan kekeluargaan. Misalnya, tradisi “makan di meja makan”, “meja kasiang”, “tampa garam” adalah momen dimana terjadinya saling berbagi antara orang tua dan anak-anak, adik dan kakak. Momen orang tua membina rasa persaudaraan antara adik dan kakak. Termasuk merajut ungkapan ‘sagu salempeng dibagi dua”, ‘jang lupa orang sudara”, “ade deng kaka hidup bae-bae”. Semua itu sering kita dengar saat duduk bersama dan makan di meja makan.

Tapi sekarang globalisasi telah menggeser meja makan itu ke ruang televisi. Demikian pun anak-anak dan orang tua makin sibuk dengan gadget masing-masing. BBM, Fesbuk, Twitter, Istagram, Line, Skype, dll telah membuat yang jauh menjadi dekat dan dekat menjadi jauh. Ini hanya salah satu contoh saja.

Kembali ke GPM sebagai salah satu (bukan satu-satunya) gereja di Maluku, dan bagian dari komponen agama-agama di Maluku, maka peran dan kontribusinya di ruang publik Maluku sangat diharapkan. Ruang publik yang dimaksud di sini adalah ruang dimana terjadi interaksi antar manusia dengan berbagai perbedaan untuk satu tujuan yakni kebaikan bersama. Ruang publik adalah ruang dimana nilai-nilai kesetaraan, keadilan, kejujuran dan sportifitas dijunjung tinggi. Ruang yang tidak dimonopoli oleh sekelompok orang yang berlimpah secara materi, mayoritas dalam jumlah, maupun kuat secara fisik. Ruang publik merujuk pula pada sebuah suasana yang memungkinkan tiap potensi dapat berkembang dan berkontribusi secara positif bagi kemanusiaan yang adil dan beradab.

Saya teringat disertasi Pdt Dr John Ruhulessin yang berjudul Etika Publik. Menggali dari Tradisi Pela di Maluku (2005). Dalam disertasi yang telah dibukukan itu, Dr Ruhulessin dengan optimis tetapi juga kritis melihat adanya kekuatan budaya lokal (dalam hal ini Pela) untuk berkontribusi di ruang publik. Nilai-nilai etik dari Pela yakni kebersamaan, saling peduli dan saling berbagi sangat signifikan dalam menggagas etika publik.

Pdt Dr John Ruhulessin yang juga adalah Ketua Sinode GPM (2005-2015) telah merintis sebuah jalan baru yang mestinya dikembangkan lebih lanjut. Gagasan Ruhulessin bukan hanya sebatas kepentingan primodial Maluku namun juga dicari jawaban apa yang bisa dikontribusikan Maluku bagi kemanusiaan dan publik. Dengan begitu nilai-nilai lokal juga memiliki dimensi global atau kerap disebut glokal.

Sekaitan dengan judul tulisan ini 80 tahun GPM maka salah satu pertanyaan yang dapat direnungkan dalam momentum ini adalah apa sumbangan GPM bagi perwujudan ruang publik yang makin sehat dan demokratis. Pertanyaan ini diajukan dengan premis bahwa gereja hadir bukan untuk dirinya sendiri tetapi gereja hadir dengan dan untuk orang lain/sesama (church for the other). Dirgahayu GPM ke-80.
(*)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!