Makan Patita Yang Penuh Makna – Ambon Ekspres
Trending

Makan Patita Yang Penuh Makna

Ribuan Warga, Sampai Wisatawan Ikut Makan

Pemandangan unik terlihat pada puncak perayaan Hari Ulang Tahun Kota Ambon yang diperingati tanggal 7 September 2015. Di siang hari meja makan sepanjang 2,4 kilometer mengitari jalan utama pusat Kota Ambon.

Kuliner Ambon disajikan diatas meja panjang itu. Ribuan orang merapat. Menikmati hidangan serba Ambon. Hari itu, bukan hanya menjadi pesta rakyat, tapi juga pesta makanan.

Sekira pukul 11.00 WIT, ibu-ibu mulai sibuk menyiapkan hidangan menu makanan tradisional diatas meja yang telah disediakan oleh panitia HUT Kota Ambon ke-440 tahun.  Meja kayu sepanjang 2,4 KM dijejerkan di sepanjang Jalan AY Patty, Jalan Sultan Hairun, Jalan Said Perintah  Jalan AM Sangadji, Jalan Dipenogoro dan Jalan Anthony Rebook. Acara makan patita akan digelar bersamaan dengan puncak HUT Kota Ambon ke 440 tahun.

Makan patita, adalah budaya orang Maluku, dengan mengajak warga dalam jumlah banyak untuk ikut menikmati hidangan makanan. Biasanya makanan berasal dari pangan tradisional khas Maluku, seperti umbi-umbian, buah-buahan, sayur-sayuran, dan hasil tangkapan dari laut.

Di setiap meja tampak ada makanan hasil kebun yang dapat disantap seperti kasbi (singkong-red), petatas, keladi bersama sayur-sayuran. Meja lain menyediakan buah-buahan dan minuman dingin, seperti air kepala muda dan es buah. Adapula meja yang menyediakan menu makanan ikan bakar, ikan kuah, dan colo-colo (sambal khas Ambon-red).  Berbagai sajian hidangan tradisional yang tersedia membuat perut terasa lapar, sayangnya saat itu belum waktunya makan. Makanan dapat disantap warga kota Ambon apabila  jam raksasa yang tergantung di atas balai kota Ambon berbunyi sebanyak 12 kali atau tepat pukul 12.00 WIT.

Satu kelompok penyedia makan patita berasal dari SD Negeri 95 Ambon. Meja milik SD tersebut terletak di jalan AM Sangadji. Menu yang mereka siapkan sama seperti meja lain, yakni makan tradisional Maluku yang dihidangkan oleh beberapa siswi berpakaian adat Ambon. Bak pelayan di rumah makan yang lagi menunggu pelanggan, mereka berdiri di belakang meja sembari tersenyum kepada setiap warga yang melintas di depan mereka.

Jeni Tanewa, siswi  SD Negeri 95 Ambon ini merasa bahagia ketika ditanya soal keikutsertaan pada event makan patita.  Siswi kelas V ini memberikan apresiasi kepada pemerintah Kota Ambon yang menyelenggarakan budaya makan patita yang kini mulai ditinggalkan masyarakat Maluku. “Harapan kita peringatan HUT Kota Ambon tidak sebatas tahun ini dengan menggelar makan patita, tetapi akan berjalan terus sehingga makanan tradisional dan pakaian adat selalu dilestarikan oleh orang Ambon,” ungkap Jeni yang bersama dua rekan lainya Rindu Tita, dan Dei Merlauw saat ditemui di sela-sela persiapan makan patita di jalan AM Sangadji Ambon, senin (7/9).

Di sebelah Jeni dan kawan-kawan, ada Ibu Latuperisa yang turut mendampingi anak didiknya. Ibu paruh baya ini mengaku, bangga dan memuji terobosan wali kota yangg melestarikan budaya makan patita dalam event-event di Kota Ambon.

Soal pendidikan Kota Ambon kedepan, guru dan para siswa ini memiliki harapan agar semakin berkembang dan maju bersaing dengan kota-kota lain di Indonesia. “Kami berharap pendidikan di Kota Ambon akan berkembang maju demi menciptakan generasi yang siap pakai,” harap mereka.

Sebelum acara makan patita dimulai, dilangsungkan penyerahan rekor MURI International kepada Upulatu Kota Ambon atau Wali Kota Ambon Richard Louhenapessy, atas rekor  meja terpanjang dalam kegiatan makan patita. Meja ini Tercatat sebagai peristiwa penyajian makan patita dengan meja terpanjang 2.470 meter.
***
Tepat jarum jam saya menunjukan pukul 12.00 WIT, warga Kota Ambon tumpah ruah di sepanjang jalan. Tak kenal dari latar belakang mana, pegawai negeri sipil, pegawai swasta, pelajar, mahasiswa, tukang becak, tukang ojek, penjajal makanan ringan, politisi hingga pejabat daerah berbaur bersama menyantap makanan yang disediakan.

Prosesi makan patita baru selesai sekira pukul 14.30 WIT dan hasilnya sampah berserakan dimana-mana. Terlihat sejumlah orang membersihkan sampah sisa makanan di meja hidangan milik mereka. Sebagian membongkar meja.

Oma Ida, wanita lebih setengah abad, ikut juga menikmati makan patita. Saban hari, dia menjual buah-buahan di Jalan Ay Patty.“Sangat bagus kegiatan ini. Apalagi untuk merayakan hari besar seperti HUT  kota Ambon dan hari-hari keagaamaan,” puji Oma Ida.

Makan patita di Kota Ambon dengan melibatkan seluruh warga Kota Ambon ini baru kedua kali dirasakan Oma Ida. Dia pun menceritakan peristiwa makan patita yang pernah dialaminya. di tahun 80-an makan patita terbesar dilakukan pemerintah waktu itu. “Banyak warga turun dari gunung dari negeri bawa  makanan hamparkan diatas jalan raya di kawasan AY Patty sampai jalan negeri Urimesseng. Lalu kita makan bersama. Terpenting dari kegiatan ini pemerintah Kota Madya (pemkot Ambon-red) mau menunjukan komitmen untuk melestarikan budaya orang Ambon,” kata dia.

Lain lagi dengan Mr. John Perry, wisatawan asal Negeri Malaysia. Tanpa sengaja saya berpapasan dengannya di Halaman Balai Kota Ambon. Menenteng sebuah kamera didepan dadanya bak seorang wartawan. Dia berjalan tergesa-gesa menuju ke arah belakang kantor perpustakaan daerah.  Langka cepatnya terhenti sejenak, ketika saya menyapa Mr. John yang saat itu didampingi salah seorang koleganya asal Ambon.

Mr. John mengaku baru saja mengikuti makan patita. “Dulu kalau makan patita itu hanya di satu office (kantor-red) atau di kegitan komunitas tertentu. Baru kali ini saya mendapatkan makan patita dengan melibatkan seluruh warga kota Ambon,” ujar Mr. Jhon yang mengaku bekas dosen FKIP Unpatti pada tahun 90-an.

Dia menggunakan bahasa Indonesia aktif. Setelah meninggalkan Ambon tahun 90-an, kini  Mr. Jhon kembali menginjakan kaki di Kota Ambon hanya untuk mengikuti perayaan HUT Kota Ambon dan Program Mangente Ambon yang dicanangkan pemkot Ambon. Melepas rindunya setelah 15 tahun meninggalkan daerah, juga menjadi salah satu alasannya.

Dia memuji prosesi makan patita yang diwarnai suasana kekeluargaan dan keramahtamaan warga Ambon.  “Saya berjalan-jalan menikmati makan patita di sepanjang jalan. Ibu-ibu terlihat begitu sibuk melayani warga yang ingin makan. Warga sangat ramah ketika makanan di satu tempat sudah habis dapat kita ambil di tempat lain. Semua orang boleh makan dan saya juga heran ketika ada sampah ada orang lain yang membantu untuk membuang. Dan saya sangat senang sebagai wisatawan,” pujinya seraya menunjuk ke arah meja makan patita sambil berjalan meninggalkan saya. (***)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!