Pertarungan Ketat di Bursel-Aru – Ambon Ekspres
Trending

Pertarungan Ketat di Bursel-Aru

AMBON,AE— Pertarungan merebut kursi bupati dan wakil bupati kabupaten Buru Selatan dan Kepulauan Aru, diperkirakan berlangsung kompetitif. Peluang kemenangan pun sulit ditebak. Ini karena masing-masing kandidat punya kekuatan yang nyaris seimbang.

Pilkada Buru Selatan (Bursel) diikuti dua pasangan calon, yakni Tagop Soulisa-Ayub Saleky dan Hakim Fatsey-Anthonius Lesnussa. Tagop-Ayub diusung PDIP, Hanura, Nasdem, PKB, Golkar, PKPI, Demokrat, PPP dan pasangan Hakim Fatsey-Anthonius Lesnusa direkomendasikan oleh Partai Gerindra dan PAN.

Analisis politik Almudatsir Sangadji, menilai, dua pasangan calon bupati dan wakil bupati itu, akan bertarung secara kompetitif. Hal ini kata dia, kendati Tagop-Ayub merupakan incumbent, namun majunya Hakim yang merupakan lawan berat Tagop pada pilkada 2011, harus diwaspadai.

Memang Tagop masih kuat , karena dia merupakan incumbent. Dia punya kesempatan selama 5 tahun berinteraksi dengan masyarakat. Tapi munculnya Hakim, perlu dihadapi dengan baik. Apalagi wakilnya adalah pemain lama di Pilkada 2011 dan selisih perolehan suaranya hanya sekitar 400,” ujar Almudatsir kepada Ambon Ekspres via telepon, Selasa (8/9).

Menurut Almudatsir, hanya ada tiga kecamatan dengan pemilih terbanyak, yakni Ambalau, Leksula dan Namrole. Pertarungan akan menjadi kompetitif bila Ambalau dan Leksula dikuasai Hakim-Anthonius, dan Namrole menjadi daerah rebutan.

Ambalau kata dia, ada Zainudin Booy dari partai Golkar, pendukung Tagop. Tapi, pengaruh Hakim masih cukup kuat sebagai tokoh di sana. “Tapi Hakim juga figur terkuat di Ambalau, apalagi dia adalah calon bupati yang adalah orang Ambalau. Selain itu, tim lamanya, masih tetap bersama dia di Pilkada kali ini. Sementara Leksula menjadi wilayah garapan Anthonius Lesnussa, wakil Hakim,” katanya.

Hanya saja, pasangan Hakim-Anton kurang pembiayaan politik, dibandingkan Tagop-Ayub. Lima tahun menguasai di kabupaten berjuluk Lolik Lalen Fedak Fena itu, membuat Tagop-Ayub kuat dari sisi finansial dan dukungan birokrasi. “Memang Tagop punya kelebihan, karena anggaran atau pembiayaan politiknya cukup besar. Selain itu, dukungan birokrasi juga masih sangat kuat,” ungkapnya.

Namun, Tagop-Ayub harus mampu membaca masa tradisional Hakim dan Anthon, yang menurut Almudatsir, ada di Ambalau dan Leksula. Apalagi, saat ini adanya isu primodialisme anak adat kuat di Bursel.

“Dia (Tagop) harus hati-hati membaca politik tardisional dari pasangan Hakim-Anthon. Ambalau adalah daerah dengan fanatsime politik yang tinggi. Donasi politik sebesar Rp500 juta dari masyarakat untuk Hakim dan Anthon, adalah salah satu buktinya,” papar staf dosen di Universitas Darussalam Ambon itu.

Siapa yang paling berpeluang menang di Pilkada Bursel, dia mengaku, saat ini belum dapat prediksi dengan pasti. “Karena politik ini dinamis,” katanya.

Sementara untuk Pilkada Aru, dia menilai, juga akan berlangsung kompetitif. Pasalnya, yang menjadi calon adalah pemain baru, yakni Wellem Kurnala-Wellem Kurnala-Asis Goin, Johan Gonga-Muin Sogalrey.

“Pertarungan menjadi terbuka di Pilkada Aru. Jadi sangat tergantung dari logistik politik kandidat ini. Selain itu, harus mengintensifkan sosialisasi, karena dua pasangan kandidat adalah pemain baru. Pasti kompetitif,” ucapnya.

Kurnala dan wakilnya diunggulkan dari sisi modal finansial. Kurnala merupakan pengusaha lokal, sekaligus anggota DPRD Maluku dari PDIP. Namun di sisi lain, Johan Gonga merupakan tokoh dan memiliki basis masa tradsional, yang dari kaca mata politik sulit dibendung.

“Sebagai anggota DPRD, Kurnala diuntungkan. Tapi, itu hanya indikator perkenalan. Tapi faktor lain belum tentu dia berpeluang. Kemudian, uang hanya pendorong saja. Tapi ketokohan yang melekat pada masyarakat, itu yang paling penting. Kalau ketokohan kuat, maka belum tentu calon dengan modal yang besar akan menang,” tandasnya.

Pengamat politik Universitas Pattimura, Jen Latuconsina, menilai, Hakim-Anthonius merupakan lawan tangguh buat Tagop-Ayub. Olehnya itu, harus diantisipasi dengan baik oleh Tagop-Ayub.

“Di Bursel, Tagop-Ayub menghadapi Hakim-Anthonius yang tangguh. Pasalnya, menguatnya sentimen politik etnis yang menginginkan putra daerah menjadi bupati kali ini. Jika tidak diantisipasi oleh duet Tagop-Ayub, saya kira ini periode terakhir pasangan dengan akronim Top Bu itu,” kata Jen.

Sementara untuk Pilkada Aru, Latuconsina memprediksi, peluang kemenangan pasangan Gonga-Sogalrey terbuka. Kepopuleran Gonga sudah menyebar ke seluruh wilayah Aru. “Hal ini dikarenakan Gonga tidak asing lagi di Aru. Dia adalah pemain kandang jika di bandingkan dengan Kurnala yang sudah lama di luar Aru. Jika Kurnala-Goin tidak melihat determinan ini, mereka pasti terpental,” kata dia.

Dia  menambahkan, itu hanya prediksi. “Karena politik adalah sesuatu yang tidak lurus dan penuh dinamika tinggi. Bisa saja yang diprediksi menang, justru kalah dan sebaliknya,” kata dia.

Sejumlah kader partai pengusung pasangan Tagop-Ayub maupun Hakim-Anthonius tidak memberikan jawaban ketika ditanya soal peluang kemenangan pasangan mereka usung.
(TAB)

Most Popular

To Top